Skip to main content
Iklan

Indonesia

Kemenkes: Pasien Rumah Sakit Jiwa melonjak gara-gara kecanduan game dan judol

Saat ini ada 54 rumah sakit jiwa (RSJ) di seluruh Indonesia yang menangani kasus adiksi.

Kemenkes: Pasien Rumah Sakit Jiwa melonjak gara-gara kecanduan game dan judol

Ilustrasi kesehatan mental (iStock)

JAKARTA: Kementerian Kesehatan mengungkap lonjakan pasien rumah sakit jiwa di Indonesia akibat kecanduan game dan judi online. Sejumlah RSJ bahkan dilaporkan mengalami kelebihan kapasitas rawat inap.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, menyebut saat ini terdapat 54 rumah sakit jiwa (RSJ) di seluruh Indonesia yang turut menangani kasus adiksi.

“Tadi juga menambahkan kalau yang rumah sakit jiwa ya, jadi memang di Indonesia itu ada sekitar 54 rumah sakit jiwa seluruh Indonesia. Dan kebanyakan memang di rumah sakit-rumah sakit jiwa itu menangani juga masalah kecanduan,” kata Imran dikutip Kumparan di Sarinah, Jakarta, akhir pekan lalu.

Imran menjelaskan kecanduan yang ditangani tidak hanya berkaitan dengan internet secara umum, tetapi juga judi online (judol) dan game.

Ia mencontohkan kondisi di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya yang mengalami lonjakan pasien rawat inap akibat kecanduan.

“Rawat inap untuk kecanduan itu sampai dia over gitu. Jadi maksudnya dia overload. Jadi memang dia harus inden gitu. Kalau mau masuk di rawat di ruangan tadi,” tuturnya.

Selain di Surabaya, peningkatan pasien juga dilaporkan terjadi di Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi dan Rumah Sakit Jiwa Grogol. Lonjakan paling terasa di kota-kota besar, khususnya di wilayah Jawa, meski angka rinci secara nasional belum dipaparkan.

INFORMASI LEBIH JAUH PASIEN

Pada Juni tahun lalu, RSJ Menur Provinsi Jawa Timur melaporkan peningkatan signifikan kasus gangguan kecanduan judi online.

"Pada tahun 2024, kami menangani 68 pasien. Angka ini meningkat, sudah menjadi 51 pasien hingga April 2025," ujar Direktur Utama RS Menur, drg. Vitria Dewi dikutip Kompas.com ketika itu.

Vitria menyebut rentang usia pasien yang ditangani sangat bervariasi, mulai dari 14 tahun hingga 70 tahun. Latar belakang sosial dan pekerjaan pasien pun beragam.

"Latar belakangnya pun juga macam-macam, mulai dari yang enggak punya kerjaan sampai yang kerjaannya bagus, ada semua," jelasnya.

Durasi pengobatan setiap pasien berbeda-beda, tergantung tingkat keparahan, dukungan keluarga, serta kemauan untuk pulih.

“Ada yang rawat jalan, ada yang rawat inap, dukungan tim dokter spesialis jiwa dan psikolog, tergantung dari keparahan masing-masing ketika dia datang,” tuturnya.

Meski tren peningkatan terlihat jelas, Imran mengakui pencatatan nasional untuk kasus adiksi game dan judi online masih belum merata dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.

“Ya, karena memang pencatatan pelaporannya memang untuk adiksi ini kan, terutama adiksi yang game maupun judol online ini Masih belum bagus, jadi memang tidak rata gitu. Tapi terlihat trennya itu meningkat,” ujarnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan