Skip to main content
Iklan

Indonesia

Berjibaku dengan panas, asap, kelelahan: Perjuangan petugas di garis depan karhutla Sumatra

Karhutla di Indonesia memicu kabut asap lintas batas dan mengganggu kehidupan warga Sumatra. Dalam bagian kedua serial ini, CNA menemui petugas yang berjibaku dengan asap pekat, kurang tidur, dan minim air.

Berjibaku dengan panas, asap, kelelahan: Perjuangan petugas di garis depan karhutla Sumatra

Petugas pemadam menyemprotkan air untuk memadamkan karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 11 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

OGAN ILIR, Indonesia: Setelah delapan jam berjibaku memadamkan api yang merambat di sebuah taman botani di Sumatra Selatan, petugas pemadam Rahmat Hadi Wijaya dihadapkan pada pilihan sulit.

Api belum padam. Asap tebal masih mengepul dari tanah, sementara bara terus membara di bawah tumpukan dedaunan kering.

Namun, pria 48 tahun itu harus bergegas ke lokasi lain. Kebakaran semak sekitar satu jam perjalanan dari sana telah merambat hingga mendekati permukiman warga.

"Setiap hari kami harus menangani dua, kadang tiga kebakaran. Kami bekerja sejak pagi hingga hampir tengah malam. Sudah berbulan-bulan seperti ini," kata Rahmat kepada CNA sambil tersenyum letih, dengan keringat mengalir di wajahnya yang menghitam karena jelaga.

Rahmat merupakan satu dari sekitar 2.000 petugas pemadam Kementerian Kehutanan yang khusus menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Tahun ini, pekerjaan mereka terasa sangat berat.

Dua petugas pemadam menyemprotkan air untuk memadamkan karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Menurut Kementerian Kehutanan, lebih dari 200.000 hektare lahan di Indonesia terbakar sepanjang Januari hingga Juli, hampir tiga kali luas Singapura.

Angka itu naik 69 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan 47 persen dibanding tujuh bulan pertama 2019, yang juga merupakan tahun El Nino.

Data resmi untuk Agustus dan September belum tersedia. Namun, para ilmuwan memperkirakan luas lahan yang terbakar hanya dalam dua bulan tersebut bisa beberapa kali lipat dari total sepanjang tujuh bulan pertama 2026.

Sumatra dan Kalimantan termasuk wilayah yang paling parah terdampak.

Besarnya skala kebakaran membuat pemerintah mengerahkan 80.000 personel polisi dan militer serta 10.000 relawan untuk membantu petugas pemadam di lapangan.

Seorang petugas membawa selang saat timnya menangani karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Asap berbahaya dari karhutla terbawa hingga ribuan kilometer ke negara-negara tetangga, termasuk Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Di Indonesia, sejumlah kota diselimuti kabut asap selama berbulan-bulan. Kualitas udara mencapai tingkat tidak sehat, bahkan terkadang berbahaya, memaksa sekolah ditutup dan warga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan.

Namun, ketika kebanyakan orang bisa berlindung di dalam ruangan, para petugas justru harus mendekati sumber asap. Risikonya bisa berujung maut.

Sedikitnya empat petugas pemadam meninggal saat bertugas tahun ini. Korban terbaru adalah relawan pemadam berusia 30 di Kalimantan Tengah yang meninggal pada 10 September setelah tiga hari dirawat di rumah sakit akibat gangguan pernapasan.

"Ini pekerjaan berisiko," kata Zulkarnain, 41, petugas pemadam yang seperti banyak orang Indonesia hanya memiliki satu nama.

"Setiap hari kami menghadapi panas ekstrem dan asap yang menyesakkan."

Risiko itu semakin besar tahun ini akibat El Nino sangat kuat yang dijuluki "Godzilla". Fenomena ini memicu panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan di banyak wilayah Indonesia, sehingga api lebih mudah muncul dan semakin sulit dipadamkan.

Seorang warga menyaksikan karhutla yang berkobar hingga mendekati rumahnya di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

API BERKOBAR, AIR KIAN LANGKA

Para petugas yang ditemui CNA sudah mengetahui sejak beberapa bulan lalu bahwa mereka akan menghadapi kondisi berat.

"Sejak awal tahun, para ilmuwan sudah memperingatkan kami soal El Nino Godzilla. Kami bersiap dengan memetakan daerah rawan karhutla, menggelar pelatihan, dan memastikan peralatan berfungsi dengan baik," kata Rahmat.

Namun, persiapan itu tetap tidak cukup menghadapi parahnya musim kebakaran tahun ini.

Di daerah rawan karhutla seperti Kalimantan Barat dan Sumatra Selatan, suhu telah menembus 38 derajat Celsius. Sejumlah wilayah Indonesia bahkan tidak diguyur hujan selama lebih dari empat bulan.

"Akibatnya, vegetasi menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Begitu terbakar, api bisa bertahan sangat lama," kata Rahmat.

Di sejumlah wilayah Sumatra, termasuk Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan, kondisi lahan membuat pemadaman semakin sulit.

Banyak kebakaran terjadi bukan di tanah mineral, melainkan di lahan gambut yang terkenal sulit dipadamkan.

Lahan gambut terdiri dari lapisan tebal sisa tumbuhan yang menumpuk selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika terbakar, api dapat merambat di bawah tanah dan membara selama berminggu-minggu, sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan sepenuhnya.

"Kami pernah menangani satu lokasi yang terbakar selama delapan hari berturut-turut," kata Rahmat.

Petugas pemadam Rahmat Hadi Wijaya, 48, tengah menangani panggilan ketiganya malam itu saat foto ini diambil di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 11 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Kekeringan akibat El Nino juga membuat permukaan air sungai, danau, dan waduk di berbagai wilayah Indonesia menyusut drastis.

Di Kalimantan Barat, beberapa bagian Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, menjadi sangat dangkal hingga kapal tunda yang menarik tongkang batu bara kandas.

Lebih dari 800 km dari sana, kekeringan berkepanjangan menyusutkan Waduk Gajah Mungkur di Jawa Tengah hingga rumah dan makam yang telah terendam selama puluhan tahun kembali terlihat.

Bagi petugas pemadam, menyusutnya sumber air menimbulkan masalah yang lebih mendesak.

"Pernah kami hanya bisa berdiri dan melihat api membakar lahan karena tidak menemukan sumber air," kata petugas pemadam Dito Prasetyo, 45, kepada CNA.

Karhutla berkobar di belakang sebuah warung di tepi jalan desa di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Kelangkaan air membuat upaya pemadaman yang sudah sulit menjadi semakin berat.

Situasi di Sumatra Selatan menunjukkan besarnya tantangan tersebut. Pada 14 September, kebakaran melanda 404 hektare lahan di seluruh provinsi. Menurut data Kementerian Kehutanan, 290 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan.

Tekanan diperkirakan semakin berat. Musim kemarau diprediksi memuncak pada September, sementara hujan dengan intensitas tinggi baru diperkirakan turun pada akhir Oktober atau awal November. Artinya, petugas bisa menghadapi lebih banyak kebakaran dengan sumber air yang semakin sedikit.

"Rasanya seperti tidak ada habisnya," kata Dito sambil menghela napas.

Pemerintah mengerahkan 53 helikopter water bombing ke provinsi yang paling parah terdampak, sementara delapan negara mengirim 35 helikopter tambahan untuk membantu pemadaman.

Namun, kemampuan helikopter tersebut juga terbatas.

"Meski helikopter water bombing telah dikerahkan secara masif dan berulang kali, hasilnya belum optimal. Sebab, area yang dapat dipadamkan helikopter water bombing sangat terbatas," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto saat berkunjung ke Palembang, Sumatra Selatan, pada 15 September, seperti dikutip Kompas.

Menurut Suharyanto, di sejumlah wilayah asap tebal membuat jarak pandang berada di bawah batas aman untuk penerbangan. Terkadang, kebakaran juga begitu luas sehingga dibutuhkan banyak pesawat berkapasitas besar agar pemadaman berdampak signifikan.

Pengendara melintasi asap tebal akibat karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 11 September 2026. Jarak pandang yang terbatas akibat kondisi seperti ini terkadang membuat helikopter water bombing tidak dapat beroperasi. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Operasi modifikasi cuaca juga belum memberikan hasil optimal karena terlalu sedikit awan pembawa hujan yang dapat disemai, tambah Suharyanto.

"Karena itulah kami sangat mengandalkan tim darat untuk memadamkan kebakaran. Pemerintah siap membantu dengan peralatan yang diperlukan seperti mobil tangki air dan ekskavator," kata Suharyanto. Ia menambahkan polisi dan TNI siap mengirim lebih banyak personel untuk membantu.

KELELAHAN HINGGA BATAS KEMAMPUAN

Pemadaman tanpa henti menguras tenaga para petugas, yang sebagian besar terus bersiaga sejak Mei.

Beberapa petugas mengatakan kepada CNA bahwa mereka sudah tidak bertemu keluarga selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Tidur menjadi kemewahan yang hanya bisa dinikmati beberapa jam di sela satu kebakaran dan kebakaran berikutnya, itu pun jika sempat.

Saat ada kesempatan beristirahat, tempat tidur yang layak pun sering kali jauh dari jangkauan. Para petugas terkadang tidur di pos darurat di tengah hutan dan perkebunan agar tetap dekat dengan lokasi kebakaran.

Karena bekerja berhari-hari jauh dari rumah, petugas pemadam terkadang harus tidur di aspal dan trotoar, seperti terlihat di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 10 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Namun, tidur pun bisa berbahaya. Beberapa petugas pernah terbangun dan mendapati perubahan arah angin membuat api bergerak menuju tempat mereka beristirahat.

"Kami beberapa kali nyaris celaka. Angin tiba-tiba berubah arah dan tanpa disadari kami sudah dikelilingi api," kata petugas pemadam Immanudin, 35.

Di tengah kondisi yang sudah menguras tenaga, para petugas semakin frustrasi karena banyak kebakaran sebenarnya bisa dicegah.

"Sekitar 99 persen kebakaran ini disebabkan aktivitas manusia," kata petugas pemadam Zulkarnain.

"Sedih rasanya masih melihat orang terang-terangan membakar sampah atau membersihkan lahan dengan api. Kami frustrasi setiap mendengar ada orang ditangkap karena sengaja membakar lahan untuk membuka perkebunan baru."

Petugas pemadam Zulkarnain sudah lebih dari sepekan tidak pulang ketika foto ini diambil di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Hingga 7 September, polisi telah menangkap 138 orang yang diduga bertanggung jawab atas sekitar 200 kasus karhutla di seluruh Indonesia.

Dari jumlah tersebut, 119 orang diduga sengaja membakar lahan, sedangkan 19 lainnya terkait kebakaran akibat kelalaian, kata Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

"Jumlah tersangka masih mungkin bertambah. Polisi terus menyelidiki laporan dan temuan kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah," kata jenderal polisi bintang empat itu pada 7 September, seperti dikutip Jakarta Post.

Berdasarkan hukum Indonesia, pelaku pembakaran dengan sengaja terancam hukuman penjara hingga 15 tahun dan denda Rp10 miliar. Sementara pelaku yang menyebabkan kebakaran karena kelalaian terancam hukuman hingga lima tahun penjara dan/atau denda Rp500 juta.

Namun, Zulkarnain mengatakan rasa frustrasi itu tidak akan menghalanginya menjalankan tugas.

"Kami tetap melawan api sesulit apa pun karena begitu banyak yang dipertaruhkan," katanya.

"Kami bisa menyelamatkan nyawa dan rumah warga. Kami bisa menjaga udara tetap bersih serta mencegah jalan dan bandara ditutup."

Petugas pemadam berupaya mengendalikan karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, pada 12 September 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Bagi warga di daerah rawan kebakaran, kedatangan petugas seperti Zulkarnain dengan mobil pemadam berwarna merah terang bisa langsung membawa rasa lega.

Warga menyambut para petugas ke rumah mereka, membuatkan kopi dan menyuguhkan makanan ringan yang tersedia.

"Saya berusaha sebisa mungkin agar mereka tinggal sedikit lebih lama," kata Dewi, yang rumahnya hanya beberapa meter dari lahan hangus bekas kebakaran yang baru dipadamkan.

"Tapi saya tahu mereka harus menangani kebakaran lain."

Sambutan hangat warga itulah yang membuat petugas seperti Rahmat terus bertahan. Selama 20 tahun bekerja, ia tidak pernah absen satu musim karhutla pun.

"Saya senang ketika upaya penyelamatan dan bantuan yang kami berikan bisa membawa perubahan bagi orang-orang yang membutuhkannya," katanya.

"Itulah yang memberi kami kekuatan untuk terus melakukan pekerjaan ini. Kami tidak merasa lelah ketika tahu apa yang kami lakukan membantu orang lain."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan