Riau siaga penuh antisipasi meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan
Lonjakan titik panas, kebakaran yang meluas, serta ancaman musim kemarau panjang dan El Niño mau tidak mau membuat pemerintah mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan lebih serius.
Pemandangan dari udara atas hutan yang terbakar di Kapuas Hilir, Kalimantan Tengah, Indonesia, 21 September 2019. (Foto:EPA/FULLY HANDOKO)
JAKARTA: Pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau seiring meningkatnya jumlah titik panas, meluasnya area yang terbakar, serta proyeksi musim kemarau yang lebih kering pada 2026. Hingga awal Juni, 11 kabupaten dan kota di Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran Riau Jim Gafur mengatakan, hanya Kabupaten Kuantan Singingi yang belum menetapkan status siaga darurat.
“Saat ini Pemprov Riau dan 11 pemerintah kabupaten/kota di Riau sudah menetapkan status siaga darurat karhutla. Hanya tinggal satu daerah saja yang belum menetapkan yakni Kuansing (Kuantan Singingi),” kata Jim Gafur di Pekanbaru, Senin (1/6), kepada Antara.
Menurut dia, penetapan status tersebut penting untuk mempercepat koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah, termasuk dalam penyaluran bantuan serta penanganan kebakaran di lapangan.
“Jika sudah menetapkan status, koordinasi dan pengiriman bantuan akan lebih mudah, sehingga penanganan karhutla juga akan lebih cepat. Kami harapkan Kuansing juga segera menetapkan status,” ujarnya.
Peningkatan kewaspadaan tersebut dilakukan di tengah tren karhutla yang memburuk. Dikutip dari laman Kementerian Lingkungan Hidup pada Sabtu (25/4), Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa hingga 23 April 2026, jumlah titik panas di Riau mencapai 840 titik, dengan 318 titik berkategori tingkat kepercayaan tinggi.
Angka tersebut meningkat enam kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Luas kebakaran juga mencapai 8.555 hektar atau naik sekitar 20 kali lipat dibandingkan 2025.
Saat memimpin apel kesiapsiagaan karhutla di Lapangan Utama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Pekanbaru, Hanif menegaskan pentingnya deteksi dini dan respons cepat terhadap setiap indikasi kebakaran.
“Saya tegaskan, pengendalian karhutla harus mengedepankan deteksi dini dan respons cepat. Jangan menunggu api membesar. Begitu terdeteksi hotspot, harus langsung ditangani di lapangan. Kecepatan dan ketepatan menjadi kunci utama,” tegas Hanif.
KEMARAU LEBIH LAMA
Pemerintah juga memperingatkan bahwa risiko karhutla tahun ini meningkat akibat kondisi iklim yang diperkirakan lebih kering dari normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih lama, sementara pada semester kedua 2026 terdapat peluang 50–80 persen berkembangnya El Niño lemah hingga moderat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kombinasi musim kemarau dan El Niño berpotensi mengurangi curah hujan secara signifikan.
“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” jelas Faisal saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Karhutla, Selasa (7/4), dilansir dari laman BMKG.
BMKG mencatat, hingga awal April 2026 terdapat 1.601 hotspot di Indonesia, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Lembaga tersebut memprediksi potensi karhutla mulai meningkat di Riau pada Juni sebelum meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, lalu ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada Juli hingga Agustus.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga kelembapan lahan gambut. Di Riau, operasi yang berlangsung sejak 28 Maret hingga 11 April 2026 disebut berhasil meningkatkan curah hujan sebesar 33 persen dengan tambahan volume air lebih dari 100 juta meter kubik dari 23 sorti penerbangan.
“Di Posko Riau, dari 23 penerbangan, kita berhasil menambah curah hujan hingga 33 persen dengan volume air lebih dari 100 juta meter kubik,” kata Faisal.
Sementara itu, upaya pemadaman terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak. Tim Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera saat ini menangani kebakaran di Rantau Bais, Kabupaten Rokan Hilir, Sokoi di Kabupaten Pelalawan, dan Kandis di Kabupaten Siak. Adapun kebakaran di Pasir Limau Kapas telah berhasil dipadamkan setelah lima hari penanganan intensif.
Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto menyatakan, petugas masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk angin kencang, vegetasi kering, dan karakteristik lahan gambut yang menyulitkan proses pemadaman.
“Tim Manggala Agni terus bekerja maksimal di seluruh lokasi kebakaran. Meskipun menghadapi kondisi cuaca yang cukup menantang dan medan yang tidak mudah, personel tetap fokus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan api benar-benar dapat dikendalikan,” ujar Ferdian.
Dalam Rakornas Pengendalian Karhutla 2026, Hanif juga mengungkapkan bahwa luas karhutla secara nasional hingga 28 Februari 2026 telah mencapai 32.637,42 hektar, hampir 20 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut, menuntut kesiapsiagaan yang lebih kuat dan sinergi lintas sektor agar Indonesia, khususnya Riau, tidak kembali menghadapi bencana kabut asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat, lingkungan, dan perekonomian.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.