Skip to main content
Iklan

Indonesia

'Cuma bisa menunggu dan berharap': Kabut asap karhutla ganggu mata pencaharian warga di Sumatra

Karhutla telah menyebabkan kabut asap lintas batas dan mengganggu mata pencaharian warga di Sumatra. Dalam bagian pertama dari seri ini, CNA berbicara dengan warga setempat tentang dampaknya terhadap pendapatan dan kesehatan mereka.

'Cuma bisa menunggu dan berharap': Kabut asap karhutla ganggu mata pencaharian warga di Sumatra

Pengemudi becak Kholidi mengalami penurunan pendapatan karena para penumpang langganannya memilih tetap di rumah akibat kabut asap di Palembang, Sumatra Selatan. (FOTO: CNA/Nivell Rayda)

PALEMBANG, Indonesia: Berjam-jam Kholidi mengayuh becaknya menyusuri jalanan Palembang yang diselimuti kabut asap untuk mencari penumpang.

Sekolah-sekolah yang biasanya menjadi tempat pria 60 tahun itu mencari penumpang tutup. Pasar tempat ia menunggu pelanggan yang biasanya ramai kini sepi.

“Kemarin saya tidak membawa pulang uang sepeser pun dan sepertinya hari ini juga sama,” kata Kholidi.

Selama berminggu-minggu, hutan, semak belukar, dan lahan gambut yang mengering di berbagai wilayah Indonesia terbakar, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Menurut data Kementerian Kehutanan, hingga 16 September, terdapat 5.983 titik panas di Sumatra, sebanyak 4.169 di antaranya berada di Sumatra Selatan.

Asap berbahaya dari kebakaran lahan dan hutan (karhutla) itu terbawa ribuan kilometer hingga ke negara-negara tetangga, termasuk Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Di Palembang, ibu kota Sumatra Selatan, Indeks Kualitas Udara (AQI) berkisar antara 150 dan 275 sejak pertengahan Agustus.

Berdasarkan klasifikasi kualitas udara Indonesia, angka 151 hingga 200 masuk kategori “tidak sehat”, sedangkan 201 hingga 300 tergolong “sangat tidak sehat”.

Di wilayah lain di provinsi itu, jarak pandang yang buruk membuat pihak berwenang menutup jalan untuk mencegah kecelakaan lalu lintas.

Pengendara melintasi karhutla di tepi jalan utama di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, 11 September 2026. (FOTO: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Kabut asap juga berdampak pada kesehatan warga, termasuk istri Kholidi, Emi, yang menjadi salah satu dari lebih dari 110.000 warga Indonesia yang menjalani pengobatan akibat gangguan pernapasan akibat karhutla sepanjang tahun ini.

“Kabut asap kadang begitu parah sampai masuk lewat pintu dan jendela rumah kami,” kata Kholidi. Dua kali ia harus membawa Emi ke klinik untuk mendapat bantuan oksigen.

Khawatir dengan kesehatan istrinya, Kholidi meminta Emi sementara tidak lagi bekerja sebagai penyapu jalan, sehingga ia menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperingatkan bahwa kondisi terburuk masih akan terjadi karena hujan diperkirakan baru turun pada awal Oktober.

Bagi pekerja seperti Kholidi, tidak ada pilihan mudah. Berdiam di rumah berarti tidak mendapat penghasilan, sementara keluar rumah berarti mempertaruhkan kesehatan tanpa jaminan mendapat penumpang.

Kabut asap dari karhutla di sekitar menyelimuti Kota Palembang, Indonesia, 13 September 2026. (FOTO: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

“Bahkan ketika langit tampak mulai cerah, saya masih merasakan kabut asap membuat mata perih dan tenggorokan gatal,” katanya.

Namun, karena istrinya tidak bisa bekerja dan putrinya yang masih remaja tinggal bersama mereka, Kholidi tak punya banyak pilihan selain terus mengayuh becaknya.

MATA PENCAHARIAN TERSELIMUT KABUT ASAP

Karhutla terjadi di Indonesia hampir setiap musim kemarau, yang kerap dikaitkan dengan pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Lahan gambut yang mengering dapat memperburuk keadaan karena api bisa menjalar di bawah tanah dan membara selama berminggu-minggu.

Di Kalimantan yang dihuni sekitar 17 juta orang, karhutla telah menghanguskan kawasan hutan yang luas dan menewaskan satwa dilindungi.

Namun, dampaknya sangat parah di Sumatra, yang berpenduduk sekitar empat kali lipat Kalimantan. Tanaman, rumah, dan infrastruktur publik rusak, mengganggu kehidupan dan mata pencaharian jutaan orang.

Petugas pemadam kebakaran memadamkan karhutla di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, Indonesia, 11 September 2026. (FOTO: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Kabut asap juga mengganggu kegiatan belajar. Sekolah-sekolah di daerah terdampak kabut beralih ke pembelajaran jarak jauh.

Mengutip seorang pejabat Kementerian Pendidikan, Reuters melaporkan bahwa hingga 2 September, lebih dari 1,4 juta siswa di enam provinsi mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Menurut perkiraan lembaga kajian Center for Economic and Law Studies (Celios) yang berbasis di Jakarta, kondisi tahun ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi dan kesehatan hingga Rp123 triliun.

Pasar malam di sekitar Jembatan Ampera, ikon Palembang, semakin sepi wisatawan sejak kabut asap melanda, kata Oktarina Pertiwi, yang menjual kaus suvenir dan baju tidur di lapaknya yang sederhana.

“Pada Jumat malam dan akhir pekan, pasar ini biasanya ramai sampai susah berjalan. Tapi beberapa minggu terakhir sepi sekali,” kata perempuan 35 tahun itu kepada CNA pada 11 September.

Menurut Oktarina, omzet lapaknya biasanya sekitar Rp4 juta per malam.

“Sejak ada kabut asap, bisa dapat Rp1 juta saja sudah beruntung, paling Rp1,5 juta.”

Di sisi lain kota, Derian Winata, 32, menghabiskan sore hari berjualan minuman dari belakang minivannya kepada pelari dan warga yang sedang berolahraga di Kompleks Stadion Jakabaring, Palembang.

Ia biasanya meraup sekitar Rp400.000 pada hari kerja dan Rp600.000 pada akhir pekan. Sejak kabut asap melanda, pendapatannya turun separuh karena semakin sedikit orang berolahraga di luar ruangan.

“Beberapa minggu terakhir ini berat bagi saya,” katanya kepada CNA.

The Jakabaring Sports Complex in Palembang, South Sumatra where Derian Winata sells his drinks has been largely deserted because of the haze. (Photo: CNA/Nivell Rayda)

Bahkan ketika langit tampak lebih cerah, banyak pelanggan tetapnya masih enggan datang.

“Orang-orang masih takut,” katanya, seraya menyebut kualitas udara Palembang masih “sangat tidak sehat”.

Derian yakin para pelanggan akan kembali setelah hujan turun dan udara kembali bersih.

“Saya berharap itu segera terjadi,” katanya.

Namun, kondisi diperkirakan belum akan membaik dalam waktu dekat.

Para ilmuwan memperkirakan musim kemarau tahun ini akan berkepanjangan akibat kondisi “super-El Nino”, sementara musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan baru mulai sekitar Desember.

APAKAH BANTUAN AKAN TIBA TEPAT WAKTU?

Oktarina, pedagang pakaian, terus berdoa agar karhutla segera berakhir. Orang tuanya tinggal di sebuah desa terpencil dekat beberapa titik panas.

“Saya sangat khawatir dengan mereka. Kabut asap di sana jauh lebih parah daripada di kota,” kata perempuan 35 tahun itu kepada CNA.

“Tapi saya bisa apa? Saya juga harus bekerja supaya bisa mengirimi mereka uang.”

Kompleks Stadion Jakabaring di Palembang, Sumatra Selatan, tempat Derian Winata berjualan minuman, sebagian besar sepi akibat kabut asap. (FOTO: CNA/Nivell Rayda)

Karena sebagian besar stasiun pemantau kualitas udara berada di kota-kota besar, tingkat polusi di daerah yang lebih terpencil sulit diukur.

Namun, upaya penanganan mulai ditingkatkan.

Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan rumah sakit umum dan puskesmas di daerah terdampak untuk memberikan oksigen dan pengobatan gratis kepada warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap.

Kementerian juga mendirikan pos kesehatan sementara untuk menjangkau korban di daerah yang lebih terpencil.

Sementara itu, Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bulan lalu mengumumkan telah mengalokasikan lebih dari Rp618 miliar untuk membantu 200.000 lebih UMKM di daerah terdampak bencana.

“Pemerintah pusat tidak akan membiarkan pemerintah provinsi, kabupaten, atau kota menangani ini sendiri,” kata Menteri UMKM Maman Abdurrahman pada 26 Agustus.

Namun, Maman mengatakan kementeriannya masih memprioritaskan pelaku usaha yang terdampak banjir dan longsor tahun lalu di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.

Untuk pelaku usaha yang terdampak bencana baru-baru ini, termasuk gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur bulan lalu dan karhutla terbaru, kementerian belum menentukan siapa yang berhak menerima program tersebut maupun kapan bantuan akan disalurkan.

“Namun, kami pastikan bahwa kami berkomitmen penuh untuk menyalurkan (bantuan) tersebut,” katanya.

Kabut asap menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, Indonesia, 13 September 2026. (FOTO: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Sementara menunggu bantuan, pelaku usaha dan pekerja di Sumatra mencari cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Derian, penjual minuman, mencoba mencari pelanggan di tempat lain, termasuk di sekitar kampus.

“Tapi kegiatan di (kampus-kampus) juga berkurang karena mahasiswa bisa memilih kuliah jarak jauh,” katanya.

Pilihan Kholidi, pengemudi becak, lebih terbatas.

Di usia 60 tahun, ia mengaku sudah tidak sanggup mengayuh becak jauh dari rumahnya di Palembang bagian selatan, terutama melalui rute yang menanjak dan melewati jalan layang.

Sebagai gantinya, ia menghabiskan waktu lebih lama di jalan dan baru pulang setelah mendapat penghasilan yang cukup.

“Saya cuma bisa menunggu dan berharap kabut asap segera berakhir,” kata Kholidi.

“Setelah itu semuanya bisa kembali normal.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan