Skip to main content
Iklan

Indonesia

Kabut asap karhutla tidak kunjung reda, kasus ISPA melonjak di Pekanbaru dan Palembang

Warga mengeluhkan mata perih hingga sesak napas ketika beraktivitas di luar. Dinas kesehatan mengimbau penggunaan masker dan meningkatkan layanan pengobatan.

Kabut asap karhutla tidak kunjung reda, kasus ISPA melonjak di Pekanbaru dan Palembang

Foto udara dari drone memperlihatkan Jembatan Ampera diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, 6 September 2026. (REUTERS/Abriansyah Liberto)

PEKANBARU: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat di Sumatra. Sebanyak 3.028 warga Pekanbaru terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam dua pekan terakhir, sementara kasus di Palembang meningkat dari 3.807 pada akhir Agustus menjadi 4.326 pada pekan kedua September.

Di Pekanbaru, data Dinas Kesehatan (Diskes) dihimpun dari 21 puskesmas yang tersebar di seluruh kota.

Lonjakan kasus terjadi ketika kabut asap semakin tebal di sejumlah wilayah Riau, termasuk Pekanbaru, Dumai, Kampar, Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Rokan Hilir.

Dampak asap juga mulai dirasakan warga yang beraktivitas di luar ruangan. Keluhan yang muncul antara lain mata perih dan berair hingga sesak napas saat berkendara.

Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru Dedy Sambudi meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah.

"Warga diminta untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan," kata Dedy, dikutip Riau Online, Selasa (15/9).

Awan, salah seorang warga yang setiap hari melakukan perjalanan menuju Pekanbaru untuk bekerja, mengaku tetap merasakan gangguan meski sudah menggunakan masker.

"Setiap hari berangkat kerja ke Pekanbaru, mata perih, napas sesak karena asap," ujar Awan.

Ia mengatakan matanya tetap terasa perih dan berair ketika melewati kawasan dengan kabut asap yang lebih tebal.

NEBULIZER SEBAGAI PENYELAMAT

Dampak kesehatan akibat kabut asap juga terlihat di Palembang, Sumatra Selatan.

Data Dinas Kesehatan Palembang menunjukkan kasus ISPA mencapai 3.807 pada minggu keempat Agustus. Jumlahnya kemudian meningkat menjadi 4.104 pada minggu pertama September dan 4.326 pada minggu kedua.

Balita, anak-anak, serta kelompok usia produktif disebut menjadi kelompok yang rentan terdampak.

Di Puskesmas Sukarami, peningkatan pasien dengan gejala ISPA terlihat dalam dua pekan terakhir dibandingkan total pasien pada Agustus.

Dokter fungsional Poliklinik ISPA Puskesmas Sukarami Citra Suwarnaputri mengatakan rata-rata sekitar 20 pasien datang setiap hari. Jumlah tertinggi tercatat pada Senin (14/9) dengan 32 pasien.

”Mayoritas pasien mengeluhkan gejala sakit tenggorokan, batuk kering ataupun berdahak, serta flu dengan hidung tersumbat yang diiringi demam rata-rata selama tiga hari,” ungkap Citra, dikutip Kompas.

Salah satu pasien yang membutuhkan penanganan adalah Aurelia, 5, yang memiliki riwayat asma sejak lahir.

Ibunya, Mita, 35, mengatakan dalam kondisi normal Aurelia biasanya menjalani terapi nebulizer sekitar sebulan sekali ketika asmanya dipicu batuk atau pilek.

Namun, selama polusi asap karhutla, frekuensi terapi meningkat menjadi sedikitnya sekali dalam seminggu.

”Terapi nebulizer itu menjadi penolong utama Aurelia yang memiliki riwayat asma bawaan sejak lahir,” kata Mita.

Pada Selasa (15/9), Aurelia menjalani terapi selama sekitar 15 menit menggunakan nebulizer dengan obat Ventolin dan Pulmicort di Posko Penanganan Dampak Asap Karhutla Puskesmas Sukarami.

Kondisi tersebut terjadi ketika kualitas udara Palembang memburuk. Berdasarkan pemantauan konsentrasi partikulat PM2.5 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara harian di kota itu rata-rata berada dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat selama sebulan terakhir.

Untuk menangani dampak kesehatan, Dinas Kesehatan Palembang menyiagakan 61 posko yang tersebar di wilayah kerja 42 puskesmas dan sejumlah fasilitas publik.

Posko menggunakan sistem jemput bola ke permukiman untuk memberikan edukasi kesehatan, membagikan masker, serta memberikan pengobatan kepada warga.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan