Gagal ditemukan, pencarian 5 jurnalis foto yang hilang di Selat Sunda dihentikan
Tim SAR tidak menemukan Arupadhatu I maupun delapan orang di dalamnya. Operasi dapat dibuka kembali apabila muncul petunjuk baru dari masyarakat atau kapal.
Lima orang jurnalis foto yang saat ini masih hilang terlihat berfoto sebelum berangkat menuju gunung anak Krakatau pada Senin (7/9/2026). (Dokumentasi Keluarga)
PANDEGLANG: Operasi pencarian lima jurnalis foto dan tiga awak kapal yang hilang di Selat Sunda resmi dihentikan pada Kamis (17/9) setelah berlangsung selama 10 hari. Tim SAR tidak menemukan keberadaan delapan orang maupun kapal Arupadhatu I.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan keputusan penghentian diambil setelah operasi pencarian dinilai tidak lagi efektif.
Pencarian sebelumnya telah berlangsung selama tujuh hari sebelum diperpanjang tiga hari. Hingga hari terakhir, tim gabungan belum mendapatkan petunjuk yang mengarah pada keberadaan kapal maupun rombongan.
"Tadi disampaikan bahwa sejak pelaksanaan hari pertama operasi gabungan pencarian dan pertolongan sampai dengan hari ke-10, setelah perpanjangan tiga hari, secara umum tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun penumpang atau awak yang berada di kapal tersebut," kata Andra di Carita, Pandeglang, dikutip detikNews.
Selama operasi berlangsung, tim SAR menemukan 13 objek, di antaranya life jacket, terpal, helm, dan galon.
Temuan tersebut diperiksa dan dikonfirmasi bersama Polairud. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh objek tidak berkaitan dengan Arupadhatu I.
"Bahwa kemudian ada beberapa temuan material atau objek dicatat ada 13 objek yang ditemukan selama operasi, dan itu sudah dikonfirmasi oleh Polairud. Setelah dicek dan diteliti, dinyatakan bahwa saat ini temuan tersebut tidak terhubung dengan Arupadhatu I," jelas Andra.
HILANG SAAT LIPUTAN ERUPSI ANAK KRAKATAU
ima jurnalis yang hilang adalah pewarta foto Antara Muhammad Bagus Khoirunas, 28, Arie Basuki, 52, dari merdeka.com, fotografer lepas Donal Husni, 51, Yudistiro Pranoto, 43, dari iNews, serta Firdaus Wajidi, 42, dari Anadolu.
Tiga orang lainnya adalah Warta, 55, selaku kapten kapal, Surakman, 60, sebagai anak buah kapal, serta Heriyanto, 49, yang ikut dalam rombongan sebagai pemandu.
Mereka menaiki Arupadhatu I dan dilaporkan hilang kontak di Selat Sunda sejak Senin, 7 September 2026, ketika melakukan perjalanan untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Meski operasi SAR aktif telah dihentikan, pemantauan terhadap kemungkinan munculnya informasi baru tetap dilakukan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan informasi akan terus dihimpun melalui VTS (Vessel Traffic Service), SROP (Stasiun Radio Pantai), Lanal (pangkalan Angkatan Laut), patroli Polairud, serta kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda.
"Operasi SAR ini tidak berhenti sampai di sini, setelah pencarian ini kita hentikan, kita lakukan dengan pemapelan melalui srop vts, termasuk lanal, termasuk dari Polairud yang melakukan patroli, yang melakukan pencarian, termasuk aktivitas kapal yang melintas di Selat Sunda yang akan menjadi ujung tombak apabila menemukan informasi lebih lanjut," katanya.
Gubernur Andra mengatakan informasi dari nelayan, kapal yang melintas, maupun masyarakat dapat menjadi dasar untuk kembali menjalankan operasi apabila menghasilkan petunjuk baru.
"Bilamana ada informasi dari masyarakat, baik nelayan, atau kapal yang melintas atau pihak mana pun, operasi ini bisa dihidupkan kembali atau dilaksanakan kembali bilamana ada penemuan petunjuk baru," ucapnya.
Al Amrad juga memastikan mekanisme tersebut memungkinkan operasi SAR kembali diaktifkan.
"Dan apabila itu ada tanda-tanda, operasi SAR akan dinyatakan dibuka kembali," imbuhnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.