Di tengah pengaruhnya yang memudar, mengapa Jokowi tidak mencalonkan diri jadi ketum PSI?
Keputusan Jokowi tidak mencalonkan diri jadi ketua umum PSI akan memuluskan jalan putranya, Kaesang Pangarep, duduk di tampuk pimpinan. Namun tanpa memiliki partai, para pengamat mengatakan pengaruh Jokowi akan semakin terbatas.
Joko Widodo (tengah) bersama putranya Kaesang Pangarep (kanan) dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan beberapa anggota PSI pada Februari 2024. (Foto: Instagram/@kaesangp)
JAKARTA: Mantan Presiden Joko Widodo akhirnya tidak ikut serta dalam pencalonan ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Para pengamat mengatakan, keputusan ini diambil Jokowi demi memberikan putranya kekuatan politik yang lebih besar.
Namun tanpa kendaraan politik, lanjut para pengamat, ada tanda-tanda pengaruh Jokowi akan mulai memudar.
Sejak dibukanya pendaftaran ketua umum PSI pada 13 Mei lalu, semua mempertanyakan apakah Jokowi akan mencalonkan diri. Ketika dikonfirmasi, Jokowi juga tidak membantah akan maju jadi ketum PSI.
Namun putranya, Kaesang Pangarep, yang merupakan ketum petahana telah mengonfirmasi pada Sabtu lalu (21/6) bahwa ayahnya tidak akan mencalonkan diri. Pendaftaran calon ketum sendiri telah ditutup pada Senin kemarin.
"Nggak mungkin juga, anak sama bapak saling berkompetisi," kata Kaesang dalam konferensi pers.
Anak bungsu Jokowi berusia 30 tahun ini mengatakan bahwa dia mengatakan kepada ayahnya untuk memberi kesempatan kepada anak muda.
Kaesang tidak menjawab pertanyaan apakah Jokowi yang berulang tahun ke-64 Sabtu lalu akan bergabung menjadi kader partai.
Sementara itu Kaesang kembali mencalonkan diri menjadi calon ketum PSI, berhadapan dengan dua calon lainnya yaitu Ronald Sinaga dan Agus Mulyono Herlambang.
Pemungutan suara akan dilakukan oleh partai antara 12 dan 19 Juli, pengumuman pemenang akan disampaikan pada kongres partai atnggal 19 dan 20 Juli.
JOKOWI MENDUKUNG KAESANG DARI BALIK LAYAR
Dikenal sebagai partai anak muda pendukung Jokowi, PSI yang didirikan pada 2014 tidak mendapakan suara yang cukup unuk duduk di parlemen pada pemilu tahun lalu.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pendukungnya terus merangkak naik.
Kaesang bergabung dengan PSI pada September 2023 dan ditunjuk jadi ketua umum dua hari setelahnya.
Dalam beberapa hari terakhir kondisi kesehatan Jokowi dan perubahan perawakannya jadi pemberitaan di media tanah air. Wajahnya terlihat membengkak dan menggelap ketika Jokowi menyambut para pendukungnya yang mengucapkan selamat ulang tahun.
Namun para pengamat mengatakan, masalah kesehatan bukan jadi alasan bagi Jokowi untuk tidak maju jadi caketum PSI. Ajudan Jokowi juga mengatakan bahwa kondisi fisiknya baik-baik saja dan dia "sangat, sangat sehat".
Perubahan warna kulit Jokowi disebut terjadi karena alergi yang dialaminya sepulang dari Vatikan untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus pada 26 April lalu. Ajudan Jokowi, Syarif Muhammad Fitriansyah, mengatakan kondisi sang mantan presiden saat ini sudah membaik.
Para pengamat kepada CNA mengatakan bahwa Kaesang sepertinya akan tetap memimpin PSI, sementara Jokowi akan mendukung dari balik layar sebagai upaya memperkuat politik dinasti.
"Artinya Jokowi akan memaksimalkan kekuatan politiknya melalui Kaesang," kata Adi Prayitno, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Para pengamat mengatakan, Kaesang kemungkinan besar akan terpilih kembali menjadi ketum PSI. Jokowi, kata mereka, tidak perlu menjadi ketum untuk bisa memiliki pengaruh di partai tersebut.
Ray Rangkuti, direktur lembaga Lingkar Madani, mengatakan Jokowi sepertinya akan mendukung dan membimbing Kaesang yang masih minim pengalaman politik.
Nicky Fahrizal, pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan Jokowi bisa ambil bagian di dewan penasihat partai. Posisi serupa sebelumnya diambil oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat yang dipimpin putranya Agus Harimurti Yudhoyono.
"Ini bukan pola yang baru, dan mantan Presiden Soeharto juga memegang peranan yang sama di Partai Golkar," kata Nicky.
"Karena perpolitikan di Indonesia belum melalui banyak reformasi yang baik, cara politik dinasti berjalan tidak jauh berbeda."
Selain PSI, ada juga rumor yang mengatakan Jokowi kemungkinan akan bergabung dengan Golkar, namun belum terbukti.
Menyusul mundurnya ketua umum sebelumnya Airlangga Hartarto pada Agustus 2024, saat ini Golkar dipimpin oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, orang dekat Jokowi.
TANPA PARTAI, TAK PUNYA PENGARUH?
Tanpa menjadi anggota partai mana pun, pengaruh Jokowi dalam perpolitikan Indonesia telah memudar, ujar Ray.
Misalnya dalam kasus tuduhan ijazah palsu, lanjut Ray, tidak ada tokoh politik penting yang maju untuk membelanya.
Awal bulan lalu ketika para purnawirawan jenderal militer mengajukan surat ke DPR untuk pemakzulan Gibran, hanya ada sedikit suara yang mendukung sang wakil presiden, imbuh Ray lagi.
Dalam sebuah tulisan opininya, Made Supriatma, peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mengisyaratkan kesiapannya untuk mendengarkan keprihatinan para purnawirawan jenderal tersebut.
"Prabowo telah mengkonsolidasikan kekuatannya dengan mengesampingkan mantan Presiden Joko Widodo dan mendekatkan diri kepada rival politik pendahulunya," tulisnya.
Hal lainnya, para pengamat mencatat bahwa Prabowo, yang kerap mengatakan bisa menang pilpres karena dukungan Jokowi, telah menemui mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang juga ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Megawati sebelumnya telah mendepak Gibran, Jokowi, dan menantunya Bobby dari PDIP karena tidak mendukung Ganjar Pranowo pada pilpres tahun lalu. Sejak saat itu, hubungan Megawati dan Jokowi renggang.
PDIP adalah partai dengan kursi terbanyak di parlemen dan partai terbesar di luar koalisi Prabowo.
"Tentu saja Prabowo coba mendekati Megawati karena dia punya partai," kata Ray soal Prabowo yang ingin kembali akur dengan Megawati.
PSI memang bisa jadi kendaraan politik bagi keluarga Jokowi jika Gibran atau Kaesang akan maju dalam pilpres mendatang, namun menurut Adi Prayitno, partai itu masih harus menempuh perjalanan panjang untuk bisa mewujudkannya.
Wasisto Raharjo Jati, peneliti di Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa PSI tumbuh dari partai milenial progresif menjadi partai yang berpusat pada kultus individu Jokowi. Pergeseran dramatis ini telah membuat banyak pendukung awal PSI menjauh.
“Tetapi pergeseran itu mungkin telah menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara Jokowi dan partai politik tersebut,” kata Wasisto dalam tulisannya yang diterbitkan oleh University of Melbourne.
“Masalahnya adalah, performa buruk PSI dalam pemilu legislatif 2019 dan 2024 menimbulkan keraguan atas kelayakannya sebagai kendaraan politik utama Jokowi di masa depan.”
Pada 2019, PSI hanya memperoleh 1,89 persen suara nasional. Kinerjanya membaik pada 2024 dengan 2,81 persen suara, tetapi angka ini masih berada di bawah ambang batas 4 persen yang dibutuhkan untuk meraih kursi parlemen.
Para pengamat berpendapat, Jokowi saat ini tampaknya berambisi memperkuat dinasti politiknya, namun belum memiliki sarana yang memadai.
“Dalam perpolitikan Indonesia, ada tiga elemen utama yang harus dimiliki seseorang. Pertama, harus memiliki partai politik atau organisasi massa dengan basis dukungan besar,” kata Ray.
“Kedua, harus memiliki banyak uang atau modal, dan ketiga, banyak teman (yang berpengaruh).”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.