'Jangan rusak Pelita Air!' DPR kritik rencana merger dengan Garuda Indonesia
Pelita Air dikhawatirkan akan terdampak budaya kerja Garuda yang dinilai masih bermasalah.
JAKARTA: Anggota Komisi VI DPR Mufti Anam menolak rencana peleburan maskapai pelat merah Pelita Air ke Garuda Indonesia.
Ia menilai, Pelita Air saat ini justru menunjukkan kinerja positif dengan ketepatan waktu tinggi serta kualitas pelayanan yang baik, sehingga merger dikhawatirkan merugikan.
Mufti mengaku berdasarkan pengalamannya menggunakan Pelita Air, pelayanan yang diberikan memuaskan.
“Saya naik Pelita Air, tepat waktu juga, luar biasa. Pelayanan oke, makanan oke,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR, Senin (22/9) dilansir Bisnis.
“Soal Pelita Air mau digabungkan dengan Garuda, saya sangat tidak setuju. Jujur ketika terdesak, ketika saya sudah tidak percaya lagi ke Garuda [karena delay], kemarin saya naik Pelita Air, tepat waktu juga ternyata, luar biasa,” lanjutnya.
KEKHAWATIRAN KINERJA TERTULAR GARUDA
Mufti khawatir apabila merger tetap dilakukan, Pelita Air akan terdampak budaya kerja Garuda Indonesia yang menurutnya masih bermasalah. Apalagi Garuda masih terus mencatatkan kerugian.
Pada 2024 lalu, Pelita Air mencatatkan laba pertama sepanjang sejarah perseroan dengan pertumbuhan pendapatan hingga 81,34 persen. Dengan kinerja positif itu, Pelita Air bahkan tidak lagi membebani keuangan induknya, Pertamina.
“Saya tidak mau Garuda untuk kemudian membajak Pelita Air yang sudah bagus jadi maskapai kebanggaan kita, kemudian akhirnya rusak gara-gara kena virus budaya kerja di Garuda Indonesia yang amburadul,” kata Mufti.
Penolakan juga datang dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN). Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PAN Abdul Hakim Bafagih menilai, penggabungan Pelita Air ke Garuda Indonesia akan berisiko menurunkan kinerja maskapai yang sedang bagus.
“Ini perusahaan lagi bagus-bagusnya. Kalau kemudian digabungkan, dimerger atau aksi korporasi lain dengan perusahaan yang lagi terseok-seok, kasihan Pelitanya,” ujarnya.
Abdul mengusulkan jika spin-off tetap dilakukan, Pelita Air sebaiknya langsung dijadikan anak usaha Danantara, bukan dilebur ke Garuda.
Direktur Niaga Garuda Indonesia, Reza Aulia Hakim, menyebut rencana konsolidasi dengan Pelita Air masih dalam tahap awal.
“Dapat kami sampaikan bahwa kami mengikuti panduan strategis dari Danantara. Hingga saat ini (rencana penggabungan) masih dalam tahap analisis awal antara pemangku kepentingan, di bawah arahan dan panduan strategis dari Danantara,” jelas Reza dikutip Bloomberg Technoz.
Rencana merger muncul kembali seiring restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan PT Pertamina (Persero) atas unit usaha non-inti. Bisnis di luar migas dan energi terbarukan akan dipisahkan (spin-off) dan diarahkan berada di bawah koordinasi Danantara.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan langkah ini merupakan bagian dari transformasi bisnis untuk memperkuat fokus perusahaan sebagai entitas energi nasional.
“Untuk beberapa usaha kami akan spin off dan tentunya mungkin akan di bawah koordinasi dari Danantara akan kita gabungkan clustering dengan perusahaan-perusahaan sejenis. Sebagai contoh untuk airline kami (Pelita Air) kita sedang penjajakan awal untuk penggabungan dengan Garuda Indonesia,” kata Simon.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.