Iran serang Israel, Pertamina jamin harga BBM di Indonesia tetap stabil
Serangan drone Iran ke Israel terlihat di atas Yerusalem pada 14 April 2024. (Foto: REUTERS/Ronen Zvulun)
JAKARTA: Pemerintah Indonesia menampik kekhawatiran naiknya harga BBM menyusul serangan Iran ke Israel akhir pekan lalu. Pertamina menjamin harga BBM masih akan tetap stabil kendati serangan tersebut berpotensi menyebabkan harga minyak mentah dunia meroket.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, seperti dilaporkan kantor berita Antara di Jakarta pada Senin (15/4). Dia mengatakan, harga minyak mentah memang memiliki kecenderungan naik, namun Pertamina tetap memastikan pasokan BBM nasional dalam kondisi aman.
"Kami juga komitmen menjaga harga BBM domestik tetap stabil agar tidak berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat," kata Riva kepada Antara.
Riva melanjutkan, pemerintah telah mengeluarkan arahan untuk menahan harga BBM hingga paruh pertama 2024, sehingga Pertamina tidak akan menaikkan harga BBM sekali pun biaya produksi meningkat akibat naiknya harga minyak mentah dunia.
"Sebagai perusahaan negara, kami mendukung upaya pemerintah menjaga perekonomian nasional lebih stabil dan kondusif," kata dia.
Kekhawatiran kenaikan harga BBM mencuat setelah Iran menembakkan ratusan proyektil ke Israel pada Sabtu lalu. Serangan ini disebut adalah balasan atas gempuran Israel ke Kedutaan Besar Iran di Suriah pada 1 April.
Menurut Richard Bronze, analis di perusahaan data Energy Aspect yang dikutip CNN, Iran mengekspor 1,5 juta barel minyak mentah per hari atau setara 1,5 persen dari pasokan minyak global. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat, Iran memproduksi total 3,25 juta barel minyak mentah per hari pada bulan Maret.
Serangan Iran berpotensi menganggu jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz, lepas pantai selatan Iran. Menurut para pengamat, jika konflik ini berlanjut, Iran bisa saja menyerang kapal tanker yang melintasi selat yang merupakan jalur penting pengiriman produk minyak dan gas tersebut.
"Ini adalah jalur yang paling penting pada pasar minyak global," kata Bronze. "Setiap gangguan pada jalur ini akan berdampak besar pada pasokan minyak global dan berimbas pada harga minyak."
Namun Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan mereka meyakini konflik Iran dan Israel tidak akan berlangsung lama.
"Kami masih berpikiran ini short term, sebab kecenderungan dunia, banyak pihak itu tidak menginginkan harga yang terlalu tinggi," kata Tutuka dalam webinar 'Ngobrol Seru Dampak Konflik Iran-Israel ke Ekonomi RI', pada Senin seperti dikutip dari Kompas.
Tutuka menjelaskan bahwa tren kenaikan harga minyak mentah Indonesia sudah terjadi sejak Februari hingga April 2024, sekitar US$5 per barel setiap bulannya. Konflik antara Iran dan Israel, kata dia, bisa membuat harga minyak mentah mencapai US$100 per barel.
Menurut Tutuka, pemerintah Indonesia saat ini masih menunggu apa respons dari Israel dan Amerika Serikat terkait serangan Iran. Respons itulah yang nantinya akan menentukan apakah tren kenaikan harga akan terus berlanjut, atau bisa juga mengalami spike atau kenaikan tajam untuk sementara sebelum akhirnya turun lagi.
"Jadi apakah itu akan berkelanjutan atau spike, saya rasa cenderung menunggu dulu apa reaksi Israel dan Amerika terhadap konflik itu, dan kemungkinan juga cenderung akan spike dalam waktu yang tidak lama," jelasnya.