Pemerintah siapkan internet rumah 100 Mbps seharga Rp140 ribu
Komdigi akan memperluas jaringan fiber optik hingga permukiman.
Ilustrasi internet Indonesia (iStock/Adhi Megatama)
JAKARTA: Pemerintah menargetkan masyarakat Indonesia dapat menikmati layanan internet rumah berkecepatan 100 Mbps dengan biaya sekitar Rp140 ribu atau di bawah Rp200 ribu.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berupaya mewujudkan layanan tersebut melalui perluasan jaringan fiber optik hingga kawasan permukiman.
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan pengembangan layanan internet tetap (fixed broadband) menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menekan biaya konektivitas sekaligus meningkatkan akses internet berkecepatan tinggi bagi masyarakat.
"Dengan kecepatan 100 Mbps, masyarakat bisa membayar sekitar Rp140 ribu atau di bawah Rp200 ribu. Ini akan memberikan dampak ekonomi yang cukup tinggi bagi masyarakat," ujar Nezar di Jakarta pekan lalu, dikutip CNBC Indonesia.
Menurutnya, penggunaan satu koneksi internet secara bersama-sama oleh anggota keluarga dapat memberikan manfaat ekonomi lebih besar dibandingkan jika setiap orang harus mengandalkan koneksi masing-masing.
Karena itu, Komdigi mendorong pembangunan jaringan fiber optik yang menjangkau rumah tangga, bukan hanya kawasan bisnis atau pusat perkotaan.
"Internet bisa ditekan biayanya menjadi lebih murah dengan cara memperluas fixed broadband. Kita perlu memperluas jaringan fiber optik agar bisa masuk ke rumah tangga sehingga koneksinya bisa digunakan bersama oleh keluarga," urai Nezar.
Ketersediaan internet rumah dengan harga terjangkau diharapkan dapat mendukung berbagai aktivitas digital masyarakat, termasuk pembelajaran, pekerjaan, pengembangan usaha berbasis ekonomi digital, dan akses terhadap layanan publik
Meski demikian, pemerintah belum merinci kapan target tarif tersebut dapat diwujudkan, operator yang akan menyediakan layanan, maupun mekanisme penetapan harganya.
KOMDIGI TARGETKAN ADOPSI 5G CAPAI 30–40 PERSEN
Selain mengembangkan jaringan internet rumah, Komdigi juga menyiapkan peningkatan penggunaan teknologi jaringan seluler generasi kelima atau 5G dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Nezar menyebut tingkat adopsi teknologi 5G di Indonesia saat ini masih berada di bawah 10 persen.
Pemerintah membidik peningkatan angka tersebut menjadi sekitar 30 hingga 40 persen melalui penguatan infrastruktur digital nasional.
"Penguatan infrastruktur menjadi yang pertama dan paling penting. Kita akan meningkatkan adopsi teknologi 5G yang saat ini masih di bawah 10 persen, dengan target mendekati 30 hingga 40 persen dalam tiga sampai lima tahun ke depan," ujar Nezar.
Pengembangan konektivitas seluler tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperluas ketersediaan infrastruktur digital, termasuk di wilayah yang belum memperoleh layanan internet berkualitas.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.