Skip to main content
Iklan

Indonesia

Hujan buatan: Indonesia memburu awan untuk redam kebakaran akibat El Nino

Hujan buatan jarang digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan di dunia, tetapi Indonesia yakin teknik ini dapat membantu menghadapi kebakaran yang menurut para ahli berpotensi menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Hujan buatan: Indonesia memburu awan untuk redam kebakaran akibat El Nino

Rudiyansah, 16, yang mengenakan kostum Superman, memeriksa kebakaran di kawasan yang terdampak kebakaran hutan di Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia, pada 14 Agustus 2026. (foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

PALANGKARAYA: Kalimantan, yang memiliki hutan hujan alami dan menjadi habitat berbagai spesies dilindungi, tengah terbakar. Ahli meteorologi Safillah Anggie Wahyuni berharap solusinya ada di awan.

Indonesia yakin hujan buatan atau penyemaian awan dapat membantu mengatasi musim kebakaran hutan dan lahan yang menurut para ahli berpotensi menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir, dipicu El Nino yang kuat.

Pemerintah Indonesia menyatakan, lebih dari 100.000 hektare lahan terbakar pada paruh pertama tahun ini.

Analisis independen pemantau deforestasi Nusantara Atlas menyebut, luas lahan yang terbakar hingga Juli mencapai lebih dari 285.000 hektare – lebih dari empat kali luas Jakarta.

Hujan buatan, yang dilakukan dengan menaburkan perak iodida, garam atau partikel lain ke awan untuk memicu hujan, jarang digunakan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di dunia.

Namun, Indonesia meningkatkan upaya tersebut setelah kebakaran pada 2015, saat El Nino kuat sebelumnya melanda, menghanguskan jutaan hektare lahan dan memicu krisis kabut asap regional.

"Modifikasi cuaca tidak menciptakan awan: kami mengoptimalkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan," kata Safillah kepada AFP setelah terbang di atas Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

"Modifikasi cuaca hanya akan efektif jika kondisinya tepat," tambahnya.

Pemandangan sebuah rumah yang diambil dari drone saat asap membubung dari kebakaran hutan di Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia, pada 14 Agustus 2026. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Indonesia melakukan 252 operasi hujan buatan antara 2021 dan Agustus tahun ini – naik dari 85 operasi dalam satu dekade sebelumnya, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Sebagian besar operasi itu dilakukan untuk mengalihkan hujan dari daerah yang dilanda banjir, tetapi banyak pula yang bertujuan memadamkan kebakaran hutan atau membasahi lahan gambut yang mudah terbakar.

Hanya dalam tiga tahun sejak operasi hujan buatan pertamanya, Safillah yang berusia 25 tahun telah mengumpulkan lebih dari 300 jam terbang.

Teknik ini pertama kali digunakan di Indonesia pada 1977 untuk menambah pasokan air di sebuah bendungan. Pemerintah mengatakan, puluhan helikopter serta pesawat tetap disiagakan untuk menyemai awan di seluruh Indonesia.

"Kami waspada terhadap perubahan cuaca, sekecil apa pun, yang dapat menghasilkan awan hujan," kata Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago.

"TIDAK ADA AWAN"

Namun, sebagian besar upaya pemadaman masih dilakukan di darat, dengan hampir 50.000 petugas pemadam dikerahkan saat ini.

Para ahli juga mempertanyakan penggunaan teknik tersebut pada musim kemarau, ketika kebakaran hutan mencapai puncaknya.

"Efektivitasnya akan sangat rendah karena minimnya awan," kata I Putu Santikayasa, dosen hidroklimatologi IPB University.

Penelitian menunjukkan, efektivitas penyemaian awan sulit diukur.

Teknik ini juga memunculkan pertanyaan mengenai dampak buruk penggunaan perak iodida secara luas dan biayanya.

Hujan buatan adalah "upaya mitigasi, bukan solusi permanen," kata Direktur Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo, seraya menegaskan tidak ada bukti mengenai dampak buruk tersebut.

Kebakaran melahap vegetasi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Indonesia, pada 23 September 2019. (Foto: EPA/FULLY HANDOKO)

Penelitian yang ditulis Santikayasa menemukan, operasi penyemaian awan selama 12 hari pada 2023 menggandakan peluang terjadinya hujan dan menghilangkan titik panas kebakaran.

Sementara para aktivis mengatakan, upaya mitigasi seperti hujan buatan mengabaikan masalah mendasar, termasuk alih fungsi hutan hujan dan lahan gambut secara besar-besaran.

Indonesia memiliki kawasan lahan gambut tropis yang luas.

Saat basah, lahan gambut merupakan penyimpan karbon yang penting, tetapi menjadi sangat mudah terbakar ketika kering. Api juga dapat membara di bawah tanah dan dengan cepat kembali menyala.

Ekosistem yang rentan ini harus dilindungi dari pembangunan, kata Uli Arta Siagian, Manajer Kampanye Hutan dan Kebun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

"Tanggung jawab perlindungan ada pada negara dengan tidak menerbitkan izin di kawasan yang rentan terhadap kebakaran," katanya kepada AFP.

KABUT ASAP REGIONAL

Indonesia rutin menghadapi kebakaran hutan dan lahan hebat yang mengirimkan kabut asap pekat ke negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap dari kebakaran telah meningkatkan polusi udara di wilayah Malaysia di Pulau Kalimantan, sehingga beberapa sekolah ditutup.

Selain hujan buatan, Indonesia melakukan pembasahan kembali lahan gambut serta memantau titik panas kebakaran dengan satelit dan patroli darat.

Perkebunan skala besar dilarang menggunakan api untuk membuka lahan, meski petani kecil dikecualikan.

Namun, praktik tersebut masih umum dilakukan dan dianggap sebagai penyebab sebagian besar kebakaran hutan di Indonesia.

Menteri Lingkungan Hidup telah meminta pemerintah daerah di wilayah rawan untuk meningkatkan patroli pencegahan dan mendorong penerapan "sanksi hukum", termasuk denda dan "sanksi pidana", terhadap pembakaran ilegal.

Kebakaran tahun ini akan diperparah oleh El Nino yang kuat – fenomena iklim alami yang menyebabkan perubahan pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di seluruh dunia.

Fenomena ini biasanya menyebabkan kondisi lebih kering di Indonesia dan dikaitkan dengan kebakaran hebat.

Luas lahan yang terbakar hanya dalam paruh pertama tahun ini telah melampaui luas lahan yang terbakar sepanjang 2023, ketika El Nino terakhir kali terbentuk.

Kelompok aktivis 350.org pekan ini memperingatkan bahwa perubahan iklim memperburuk tren tersebut.

El Nino "datang ketika suhu dasar global sudah lebih tinggi, sehingga memicu cuaca yang lebih ekstrem."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan