Indonesia akan wujudkan mimpi tol bawah laut, di mana lokasinya?
Pembangunan terowongan bawah laut ini berpeluang bekerjasama dengan Korea Selatan.
JAKARTA: Pemerintah Indonesia berencana membangun terowongan tol bawah laut atau immersed tunnel (IMT) pertama di Tanah Air, yang akan direalisasikan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan jaringan Jalan Tol IKN Seksi 4A dan 4B, yang menurut laporan Suara.com akan bekerja sama dengan Korea Selatan, negara yang memiliki pengalaman luas dalam pembangunan tol bawah laut.
Salah satu terowongan bawah laut terkenal di negeri Ginseng adalah Terowongan Boryeong, yang menghubungkan Boryeong, Chungcheong Selatan, dengan Taean.
Terinspirasi dari kesukesan tersebut, Indonesia berencana menerapkan teknologi serupa dalam pembangunan IMT di IKN.
Menurut Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Rachman Arief Dienaputra, terowongan ini akan menghubungkan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dengan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
"IMT IKN akan melintasi Sungai Sepaku dan direncanakan memiliki panjang 1,82 kilometer," ujar Rachman Arief kepada Kompas.com pada Rabu (2/10).
Proyek IMT ini diperkirakan menelan biaya sebesar 736,34 juta dolar AS atau sekitar Rp 11,3 triliun.
Sebagian besar dana, senilai 665 juta dolar AS atau sekitar Rp 10,2 triliun, akan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan memanfaatkan pinjaman luar negeri.
Dengan asumsi proses persiapan pinjaman dan lelang berlangsung selama 1-2 tahun, konstruksi diproyeksikan akan dimulai pada 2026 atau 2027.
Terowongan ini akan terdiri dari bagian terendam (immerse section) sepanjang 1,08 kilometer dan bangunan pendekat sepanjang 0,74 kilometer, yang mencakup metode cut and cover sepanjang 0,34 kilometer serta U-type sepanjang 0,4 kilometer.
Desain IMT menggunakan konsep single box dengan lebar total penampang 40,8 meter, dibagi menjadi dua ruang (chamber).
Masing-masing chamber akan menjadi jalur lalu lintas dengan tiga lajur dua arah dengan lebar 16,25 meter, dan kecepatan maksimal yang direncanakan adalah 100 kilometer per jam.
Rachman Arief menjelaskan bahwa konstruksi IMT dilakukan dengan cara menenggelamkan segmen-segmen terowongan beton precast ke dasar sungai, kemudian distabilkan dengan lockingfill dan backfill.
"Struktur IMT akan dilindungi oleh lapisan batu (rock protection cover) untuk menjaga kestabilannya. Pada dasarnya, IMT IKN mengadopsi teknologi yang sama dengan yang diterapkan di Korea Selatan dan Turkiye," tambahnya.
Selain itu, pembangunan IMT ini akan melibatkan ahli internasional, yang diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi para insinyur Indonesia untuk mendapatkan alih pengetahuan.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini