Indonesia akan alami kemarau basah tahun ini, di mana saja?
Kemarau basah adalah kondisi di mana curah hujan tetap tinggi meskipun telah memasuki musim kemarau.
JAKARTA: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mengalami fenomena kemarau basah pada tahun 2025.
Kondisi ini terjadi ketika curah hujan tetap tinggi meskipun telah memasuki musim kemarau.
Secara klimatologis, musim kemarau di Indonesia biasanya ditandai dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan. Namun, dalam kondisi kemarau basah, curah hujan justru bisa mencapai lebih dari 100 milimeter per bulan.
Dalam keterangannya pada Selasa (20/5), BMKG menyebut bahwa sebanyak 185 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 26 persen dari seluruh wilayah Indonesia, diperkirakan akan mengalami musim kemarau dengan sifat "atas normal", yakni curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata musim kemarau pada umumnya.
Wilayah-wilayah yang diprediksi akan terdampak kemarau basah mencakup sebagian kecil Provinsi Aceh, sebagian besar wilayah Lampung, serta wilayah barat hingga tengah Pulau Jawa.
Selain itu, kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Pulau Sulawesi, dan sebagian wilayah tengah Papua.
Fenomena inilah yang menjadi penyebab utama mengapa saat ini sejumlah provinsi yang secara kalender telah memasuki musim kemarau masih mengalami hujan dalam frekuensi yang cukup tinggi.
BMKG menjelaskan bahwa dinamika atmosfer Indonesia saat ini masih menunjukkan pola transisi musim, terutama memasuki pekan terakhir bulan Mei.
Cuaca di berbagai daerah umumnya cerah pada pagi hingga menjelang siang hari, namun berubah menjadi hujan pada sore hingga malam.
Hal ini disebabkan oleh kondisi atmosfer yang sangat labil, yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara suhu permukaan laut yang hangat, tekanan udara, dan kelembapan tinggi.
BMKG juga menyoroti bahwa suhu udara yang terasa menyengat pada siang hari menjadi semakin tidak nyaman akibat kelembapan udara yang tinggi.
Kondisi ini mendorong terbentuknya awan-awan konvektif, seperti awan Cumulonimbus, yang dapat memicu cuaca ekstrem berupa hujan lebat, petir, angin kencang, hingga hujan es.
Dalam sepekan terakhir, sejumlah wilayah dilanda bencana hidrometeorologi akibat hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. Wilayah terdampak antara lain Aceh, Sumatra Barat, Jambi, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.