Investor asing mulai bangun proyek di IKN, Otorita targetkan kawasan inti rampung 2028
Otorita IKN menyatakan, pembangunan yang didukung APBN, kerja sama dengan badan usaha, dan investasi swasta tetap ditargetkan rampung pada 2028.
Warga berjalan-jalan di Taman Kusuma Bangsa, Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu. (Facebook/IKN Indonesia)
JAKARTA: Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) memasuki babak baru setelah perusahaan asal China, PT Star Bright International Investment, memulai konstruksi proyek kawasan terpadu senilai Rp1,25 triliun di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN.
Proyek yang menjadi konstruksi perdana investor asing di IKN itu akan mencakup apartemen, restoran, area ritel, dan ruang perkantoran di lahan seluas 1,5 hektare, serta ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengatakan, lokasi proyek tersebut memiliki nilai strategis karena berada di pusat kawasan pemerintahan Nusantara. "Lokasi ini sangat istimewa. Dari sini kita dapat melihat Istana Negara serta kawasan yudikatif dan legislatif yang saat ini sedang dibangun. Seluruh kawasan tersebut akan kami selesaikan pada tahun 2028," ujar Basuki seperti dilaporkan Detik Finance, Kamis (16/7).
Selain investasi dari China, Otorita IKN juga segera menerima tambahan investasi dari Korea Selatan melalui PT Dian Jaya Indonesia senilai sekitar Rp1,2 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun apartemen dan perkantoran di kawasan IKN.
Basuki mengatakan, proyek itu ditargetkan mulai terealisasi tahun ini setelah Otorita IKN menggelar pertemuan dengan pihak investor. "Sebentar lagi yang dari Korea Selatan, Dian Jaya, sekitar Rp1,2 triliun juga untuk apartemen dan perkantoran," kata Basuki. Saat ditanya soal realisasi investasi tahun ini, ia menjawab, "Oh iya (realisasi tahun ini) makanya kemarin kita undang untuk manasi mereka."
Direktur Utama PT Star Bright International Investment Lu Keming menyampaikan, perusahaannya juga melihat peluang investasi lain di Nusantara. "Tim dari China juga tertarik untuk berinvestasi di sektor perhotelan dan pariwisata," ujarnya, dikutip dari Kompas.id, Kamis (16/7).
Menurut Otorita IKN, peletakan batu pertama proyek dilakukan pada 15 Juli 2026 dan dihadiri delegasi bisnis serta calon investor dari China maupun Korea Selatan.
Masuknya investasi asing menambah geliat investasi swasta di IKN. Otorita IKN mencatat, saat ini terdapat enam proyek investasi swasta yang sedang dalam tahap konstruksi, yakni apartemen PT Star Bright International Investment, Kampus Universitas Gunadarma Nusantara, Rumah Sakit Abdi Waluyo, Teras by Plataran, kawasan campuran PT Fajar Maju Karya Gemilang, dan apartemen PT Dian Jaya Indonesia.
Di luar itu, sembilan proyek swasta telah selesai dibangun, sementara sebanyak 67 pelaku usaha telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Otorita IKN.
TIGA SKEMA PEMBIAYAAN
Basuki menuturkan, pembangunan IKN ditopang tiga skema pembiayaan, yakni APBN, kerja sama pemerintah dengan badan usaha, dan investasi swasta.
Antara News melaporkan bahwa untuk proyek yang dibiayai APBN, terdapat 40 paket pekerjaan fisik yang dikelola Otorita IKN, terdiri atas sembilan paket yang selesai pada 2025, 15 paket dalam tahap konstruksi, dan 16 paket yang masih dalam persiapan lelang.
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum menangani 90 paket pekerjaan, dengan 78 paket telah rampung dan 12 lainnya masih dibangun, sedangkan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman mengelola 12 paket, dengan satu proyek rumah susun bagi masyarakat berpenghasilan rendah masih dalam tahap konstruksi.
Untuk skema kerja sama dengan badan usaha, terdapat 13 proyek prakarsa yang terdiri atas tujuh proyek sektor hunian dan enam proyek sektor jalan. Dalam waktu dekat, skema tersebut akan memasuki tahap pembangunan 108 unit rumah tapak yang diprakarsai PT Intiland Development Tbk serta delapan menara rumah susun oleh PT Nindya Karya.
Basuki mengatakan, Otorita IKN rutin memantau dan mengevaluasi bersama kementerian, investor, penyedia jasa konstruksi, konsultan, dan manajemen konstruksi agar seluruh pekerjaan berjalan sesuai target. Menurutnya, percepatan pembangunan tidak boleh mengorbankan keselamatan kerja maupun kualitas hasil pembangunan.
"K3 kita harus lebih ketat lagi. Kecelakaan bisa saja terjadi, tetapi harus kita minimalkan. Kita bekerja cepat, tetapi tetap aman dan nyaman," kata Basuki.
Ia menambahkan, pembangunan tetap berpegang pada tiga pilar utama, yakni kualitas, estetika, dan keberlanjutan lingkungan. "Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) selalu kami perketat guna meminimalisir kecelakaan kerja. Kecelakaan bisa saja terjadi kapan saja, maka antisipasi dan kewaspadaan harus diutamakan," tuturnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.