Skip to main content
Iklan

Indonesia

Hujan deras terus guyur Jakarta, sampai kapan prediksinya?

Banjir yang terjadi dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp2–10 triliun, terutama di kawasan padat yang dekat dengan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Hujan deras terus guyur Jakarta, sampai kapan prediksinya?
Pengendara sepeda motor memadati jalan setapak untuk menghindari jalan yang tergenang banjir di Semarang, Jawa Tengah. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

JAKARTA: Cuaca ekstrem masih terus melanda sejumlah wilayah di Jabodetabek, meski seharusnya Indonesia sudah memasuki musim kemarau.

Dalam beberapa hari terakhir, hujan deras mengguyur dengan durasi panjang hingga menyebabkan genangan dan banjir di berbagai titik.

Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, memperingatkan bahwa pola hujan ekstrem ini belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Ia menyebut adanya sistem awan hujan skala besar atau Mesoscale Convective Complex (MCC) yang menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi dan bersifat persisten.

“Hujan deras lebih dari dua jam, tinggi dan persisten. Dan itu benar-benar terjadi selama dua hari, menimbulkan banjir,” tulis Erma melalui akun X (Twitter).

POTENSI BANJIR MELUAS DAN CUACA EKSTREM BERLANJUT DI AGUSTUS

Menurut Erma, pola cuaca saat ini diperkirakan terus berlanjut hingga pertengahan Juli, dengan kemungkinan hujan ekstrem kembali terjadi pada tanggal 10–11 Juli.

Bahkan, ia memperingatkan bahwa intensitas hujan bisa meningkat dua kali lipat pada dasarian ketiga Agustus (sekitar 21–31 Agustus 2025).

“Khawatir banjirnya ini meluas. Agustus nanti hujan bisa dua kali lipat dari sekarang. Vorteks-nya lebih dekat dengan Indonesia,” ujarnya.

Ia menyarankan pemerintah daerah, khususnya di wilayah Jabodetabek, untuk segera melakukan langkah mitigasi. Menurutnya, banjir yang terjadi selama sepekan dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp2–10 triliun, terutama di kawasan padat yang dekat dengan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa hingga akhir Juni 2025, baru sekitar 30 persen zona musim (ZOM) di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau. Angka ini jauh di bawah normalnya yang berkisar 64 persen untuk periode yang sama.

BMKG juga mencatat bahwa anomali curah hujan telah terjadi sejak Mei dan diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober 2025, memperpanjang ketidakpastian cuaca selama musim kering tahun ini.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan