Skip to main content
Iklan

Indonesia

Hidup dari pinjaman dan gadaikan aset? Warga RI mulai terlilit cicilan mobil dan motor

Banyak yang mengambil cicilan kendaraan pada 2022 dengan keyakinan bahwa ekonomi akan membaik pascapandemi COVID-19. 

Hidup dari pinjaman dan gadaikan aset? Warga RI mulai terlilit cicilan mobil dan motor
Ilustrasi perjalanan mudik menggunakan mobil di jalan tol pada malam hari. (Foto: iStock/ItalyDrones)

JAKARTA: Tekanan ekonomi rumah tangga di Indonesia semakin terasa. Kesulitan membayar cicilan mobil dan motor mulai melanda sebagian masyarakat, memicu kekhawatiran para ekonom.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menyebut tren keterlambatan pembayaran kredit kendaraan bermotor menjadi lampu kuning bagi kondisi ekonomi nasional.

Menurutnya, masyarakat kini sudah tidak lagi berada pada fase “makan tabungan”, melainkan bergantung pada pinjaman online (pinjol) dan gadai aset untuk bertahan hidup.

“Nilai outstanding pinjol naik 600 persen lebih dalam 5 tahun terakhir, disusul pegadaian yang juga alami kenaikan tajam,” ungkap Bhima, Kamis (14/8), dikutip detikFinance.

Bhima menilai tekanan ini dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari gelombang PHK massal di industri padat karya, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, hingga kesulitan pelaku UMKM bersaing dengan membanjirnya barang impor. Kondisi tersebut membuat kredit macet kendaraan semakin sering terjadi di masyarakat.

Ia juga menjelaskan bahwa banyak warga mengambil cicilan kendaraan pada 2022 dengan keyakinan bahwa ekonomi akan membaik pascapandemi COVID-19.

Namun kenyataan berbalik. Situasi ekonomi memburuk, membuat mereka yang misal sudah berkomitmen membayar cicilan motor selama tiga tahun akhirnya terbentur kesulitan.

Ketika pendapatan tidak mencukupi, debitur biasanya meminta penundaan pembayaran ke bank, dan dalam kasus terburuk kendaraan mereka ditarik oleh pihak leasing.

Perencana Keuangan Tatadana Consulting, Tejasari Asad, menambahkan bahwa kesulitan membayar cicilan kendaraan umumnya disebabkan oleh penurunan penghasilan sekaligus meningkatnya jumlah utang.

Menurutnya, penurunan penghasilan terjadi karena banyak usaha dan bisnis mengalami kemerosotan serta maraknya PHK.

Di sisi lain, meski penghasilan tetap, jumlah cicilan yang harus dibayar bertambah sehingga membebani kemampuan pelunasan.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan