Skip to main content
Iklan

Indonesia

Hashim Djojohadikusumo: Indonesia tidak akan hapus penggunaan energi fosil, apa alasannya?

Indonesia juga terus menjajaki energi nuklir sebagai bagian dari transisi energi jangka panjang.

Hashim Djojohadikusumo: Indonesia tidak akan hapus penggunaan energi fosil, apa alasannya?
Utusan Khusus Presiden RI untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan pernyataan dalam konferensi perubahan iklim PBB COP29 di Baku, Azerbaijan, 12 November 2024. (Reuters/Maxim Shemetov)

JAKARTA: Utusan Khusus Presiden RI untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa Indonesia tidak akan melakukan phase-out atau penghentian total penggunaan energi fosil. Pemerintah, menurutnya, hanya akan melakukan phase-down secara bertahap, sambil memperluas kapasitas energi baru terbarukan (EBT).

“Yang penting waktu itu ada ketegasan dari pemerintah kita, bahwa tidak ada phase-out dari fossil fuels kita. Pemakaian untuk ekonomi Indonesia, terutama industri dan energi listrik Indonesia tetap akan memakai fossil fuels, yaitu batu bara, gas alam, dan lain-lain,” urai Hashim dalam Rapimnas Kadin di Jakarta Pusat, Selasa (2/12).

INDONESIA PILIH PHASE-DOWN, BUKAN PHASE-OUT

Adik kandung Presiden Prabowo Subianto itu mengajak dunia usaha untuk mengurangi ketergantungan energi fosil secara bertahap. Menurutnya, arah transisi energi Indonesia sudah jelas, namun penghentian total fosil tidak realistis mengingat kebutuhan listrik nasional dan struktur industri Indonesia yang masih sangat bergantung pada energi konvensional.

Ia menyebut bahwa 76 persen pembangkit listrik yang akan dibangun dalam 15 tahun ke depan berbasis EBT (energi baru terbarukan). Namun untuk memenuhi kebutuhan energi selama masa transisi, batu bara dan gas tetap dipertahankan dalam sistem kelistrikan nasional.

Taipan pemilik Arsari Group itu juga menyinggung dukungan Indonesia terhadap inisiatif Brasil di forum COP30 UNFCCC melalui Tropical Forests Financing Facility (TFFF). Dalam inisiatif itu, Indonesia tidak hanya bergabung, tetapi siap menyuntikkan investasi sebesar US$1 miliar, setara dengan komitmen finansial Brasil.

“Ini adalah komitmen Presiden Prabowo untuk ikut partisipasi dengan dana investasi sebesar 1 miliar dolar AS… untuk matching commitment dari pemerintah Brasil,” ujarnya.

Komitmen ini disebut sebagai bukti bahwa Indonesia tetap serius dalam agenda perubahan iklim global, meski tetap mempertahankan batu bara dan gas dalam bauran energi.

DORONG ENERGI NUKLIR 

Dalam paparannya, Hashim menegaskan pentingnya energi nuklir sebagai bagian dari transisi energi jangka panjang. Pemerintah telah merencanakan 500 megawatt tenaga nuklir dalam fase awal, yang akan ditingkatkan hingga 6,5 gigawatt dalam beberapa dekade mendatang.

Untuk itu, kebutuhan uranium Indonesia pastinya meningkat signifikan. Hashim mendorong pelaku industri pertambangan untuk melihat potensi ini sebagai peluang bisnis baru.

“Ini kesempatan bagi dunia usaha… kalau ada kesempatan menemukan tambang uranium, monggo, silakan dicari karena Indonesia perlu uranium,” ujarnya.

Source: Others/ew/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan