Skip to main content
Iklan

Indonesia

Menkes BGS siapkan skrining Hantavirus

Kemenkes menekankan virus ini termasuk lumayan berbahaya.

Menkes BGS siapkan skrining Hantavirus

Virus Hantavirus (Science Photo Library/Ruslanas Baranauskas)

JAKARTA: Kementerian Kesehatan mulai menyiapkan langkah antisipasi dan skrining setelah muncul klaster infeksi Hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar di Samudra Atlantik. 

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (BGS) menyebut pemerintah sudah berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk meminta panduan deteksi dini.

BGS mengatakan Hantavirus tergolong berbahaya sehingga pemerintah terus memantau perkembangan kasus.

“Ini kan virus yang lumayan berbahaya. Kita sudah koordinasi dengan WHO, kita minta guidance (panduan) untuk bisa lakukan screening-nya,” ujar BGS dikutip Bloomberg Technoz di Gedung Kemenkes, Kamis (7/4).

Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah dari WHO, penyebaran kasus sejauh ini masih terkonsentrasi di kapal pesiar tersebut dan belum meluas ke wilayah lain.

“Tapi hasil masukannya yang kita terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu, jadi belum nyebar ke mana-mana,” katanya.

HEWAN KE MANUSIA

Meski kasus belum menyebar, Kemenkes mulai menyiapkan mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya Hantavirus ke Indonesia. Salah satu langkah yang disiapkan ialah sistem skrining, baik melalui rapid test maupun reagen untuk mesin polymerase chain reaction (PCR).

BGS menilai deteksi Hantavirus bisa dilakukan lebih cepat karena Indonesia sudah memiliki banyak mesin PCR.

"Jadi sekarang kita masih fokus ke surveillancenya, supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat," ujarnya.

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman menjelaskan Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama virus ini adalah hewan pengerat, terutama tikus liar.

Menurut Dicky, penularan paling sering terjadi ketika manusia menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus pembawa virus.

"Yang perlu dipahami, hantavirus umumnya bukan menyebar dari manusia ke manusia, melainkan dari lingkungan yang terkontaminasi," ujar Dicky kepada Kompas.com, Kamis (7/5).

Meski penularannya tidak semudah COVID-19, Hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan serius, terutama pada paru-paru.

Dicky menjelaskan Hantavirus dapat memicu kerusakan pembuluh darah dan kebocoran cairan di paru-paru. Kondisi itu membuat cairan masuk ke jaringan paru sehingga mengganggu proses pernapasan dan bisa berujung kematian.

WHO melaporkan tiga orang meninggal dunia dan satu lainnya dirawat intensif setelah muncul klaster infeksi Hantavirus yang terkait dengan sebuah kapal pesiar di Samudra Atlantik pada Minggu (3/5).

WHO menyebut satu kasus telah terkonfirmasi melalui pengujian laboratorium, sementara lima kasus lainnya masih berstatus dugaan. Organisasi kesehatan global tersebut terus memantau perkembangan wabah dan melakukan investigasi epidemiologi lebih lanjut.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan