Gunung Sinabung erupsi, 2.451 warga dievakuasi dan tempat wisata ditutup
Sejak 2010, Sinabung telah berulang kali mengalami erupsi dengan mengeluarkan abu, awan panas, lava dan lontaran batu.
Gunung Sinabung memuntahkan material vulkanik saat letusan di Karo, Sumatera Utara, Indonesia, pada 2 Maret 2021. (Foto: EPA/SASTRAWAN GINTING)
JAKARTA: Sebanyak 2.451 warga dari dua desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, akan dievakuasi menyusul erupsi Gunung Sinabung yang mendorong peningkatan status gunung api tersebut menjadi Level III atau Siaga. Pemerintah juga menutup sementara tempat wisata di sekitar Sinabung dan memperketat akses menuju zona berbahaya.
Gunung Sinabung erupsi pada Senin (31/8) pukul 10.17 WIB dengan melontarkan kolom abu setinggi sekitar 3.500 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna hitam dan berintensitas tebal itu bergerak ke arah timur dan tenggara.
Menyusul erupsi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Sinabung dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga mulai pukul 12.30 WIB pada hari yang sama. Peningkatan status ditetapkan setelah pemantauan visual dan instrumental menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.
Kepala Badan Geologi Lana Saria memperingatkan bahwa letusan tersebut dapat menjadi awal dari aktivitas yang lebih besar.
“Erupsi ini merupakan erupsi awal dan tidak menutup kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar. Kami menaikkan tingkat aktivitas Gunung Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga),” kata Lana dikutip dari Kompas.id.
Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Sinabung. Larangan juga berlaku hingga radius 4,5 kilometer di sektor selatan-timur yang merupakan jalur potensial awan panas. Petugas memperketat penjagaan pintu masuk menuju zona merah untuk mencegah warga memasuki kawasan berbahaya.
2.451 WARGA DUA DESA DIEVAKUASI
Pemerintah memutuskan mengosongkan Desa Payung dan Desa Kuta Tengah yang berada cukup dekat dengan Gunung Sinabung. Kepala Bidang Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD Sumatra Utara Sri Wahyuni Pancasilawati mengatakan, keputusan itu diambil setelah rapat koordinasi penanganan erupsi.
“Berdasarkan hasil rapat koordinasi tadi malam, rencana hari ini warga dievakuasi. Desa Payung dan Desa Kuta Tengah jaraknya cukup dekat dengan Gunung Sinabung. Sehingga desa itu harus dikosongkan,” kata Sri Wahyuni pada Selasa (1/9), dilaporkan CNN.
Sebanyak 2.051 warga Desa Payung direncanakan dipindahkan ke Desa Batukarang, sedangkan 400 warga Desa Kuta Tengah akan dievakuasi ke Desa Sukatepu. Dengan demikian, total warga yang akan dievakuasi mencapai 2.451 orang.
BPBD Sumatra Utara telah membawa tenda untuk mengantisipasi kebutuhan tempat tinggal sementara bagi warga. Namun, lokasi penempatan pengungsi dan berapa lama mereka harus berada di pengungsian masih bergantung pada perkembangan aktivitas Sinabung serta arahan PVMBG. Proses evakuasi akan melibatkan TNI dan Polri.
“Kalau kemarin itu BPBD Karo pinjam tenda kita. BPBD provinsi pagi ini sudah membawa tenda ke sana. Terkait nanti masyarakat ditaruh di mana, di tenda kah mereka mau atau di mana, belum tahu. Tapi tenda sudah kita persiapkan,” ujar Sri Wahyuni.
WARGA SEMPAT PANIK, ABU CAPAI BERASTAGI
Erupsi menyebabkan hujan abu di sejumlah desa sekitar Sinabung hingga kawasan perkotaan Berastagi. Abu vulkanik menyelimuti permukiman, lahan pertanian, fasilitas umum dan jalan, sementara material yang beterbangan membuat warga perlu mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Kepala BPBD Kabupaten Karo Juspri M Nadeak menuturkan, warga sempat panik ketika letusan terjadi. “Saat letusan besar terjadi, masyarakat sempat panik dan pulang dari ladang,” ujarnya. Beberapa jam kemudian warga mulai kembali beraktivitas, meski abu masih menyelimuti permukiman dan perladangan.
Tidak ada korban jiwa ataupun korban luka yang dilaporkan akibat erupsi tersebut. Namun, petani menghadapi potensi kerugian karena tanaman terkena abu vulkanik yang cukup tebal, baik berupa kerusakan maupun penurunan produksi.
Kepala Desa Kutagugung, Kecamatan Juhar, Terkelin Sembiring mengatakan, warga yang sedang berada di ladang berhamburan pulang ketika letusan terjadi. Pengalaman erupsi Sinabung sebelumnya yang menelan korban jiwa masih membekas di kalangan masyarakat.
“Di beberapa lokasi, abu vulkanik beterbangan di jalan. Masyarakat harus mengenakan masker saat keluar rumah,” kata Terkelin.
Sementara itu, seperti dilaporkan Kompas.com, Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution mengatakan, arah angin membawa abu vulkanik menuju Berastagi. “Untuk masyarakat Sumut khususnya Berastagi, saat ini Gunung Sinabung statusnya Level III atau siaga. Arah angin mengarah ke Berastagi dan abu sudah masuk ke sana,” katanya.
Pemerintah Provinsi Sumatra Utara kemudian mengirimkan ribuan masker untuk dibagikan kepada masyarakat melalui Pemerintah Kabupaten Karo. Bobby juga meminta pemerintah daerah menyiagakan petugas pemadam kebakaran untuk membersihkan timbunan abu di titik-titik penting, terutama jalan yang digunakan masyarakat.
“Kami mengimbau kepada masyarakat tentunya untuk tetap waspada dan hati-hati terutama tentang kesehatan dan keamanan,” ujar Bobby.
TEMPAT WISATA DITUTUP SEMENTARA
Pemerintah juga meminta pelaku usaha menghentikan sementara aktivitas wisata di sekitar kawasan Sinabung sebagai langkah pencegahan selama aktivitas vulkanik meningkat. Peringatan kepada wisatawan telah disampaikan sejak sebelum erupsi terjadi.
“Dari kemarin sudah diberikan peringatan untuk wisatawan hingga hari ini dan ini erupsi. Otomatis untuk tempat wisata kita sudah imbau semua ditutup sementara dan sudah disampaikan dari kemarin,” kata Bobby.
Sebelum erupsi, petugas Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung telah mendeteksi sejumlah tanda peningkatan aktivitas vulkanik. Pengamatan sepanjang 1 hingga 30 Agustus menemukan asap putih dan kelabu dari kawah utama dengan ketinggian 50 hingga 1.000 meter dari puncak. Vegetasi di lereng timur juga terlihat menguning dan mengering.
Aktivitas kegempaan turut meningkat. Sebelum erupsi 31 Agustus, antara lain terekam 85 gempa vulkanik. Badan Geologi menjelaskan, gempa vulkanik merupakan bagian dari proses erupsi dan peningkatan aktivitas gunung api.
Sinabung mulai kembali aktif pada Agustus 2010 setelah tidak menunjukkan aktivitas erupsi selama lebih dari 400 tahun. Sejak itu, gunung tersebut berulang kali mengalami erupsi dengan mengeluarkan abu, awan panas, lava dan lontaran batu. Aktivitas berkepanjangan itu membuat sejumlah desa tertimbun material vulkanik dan ribuan keluarga dievakuasi dari kawasan berbahaya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.