Skip to main content
Iklan

Indonesia

Gang sempit di Penjaringan ini lahirkan para juara gimnastik nasional

Mereka berlatih salto dan jungkir balik di gang sempit dengan peralatan seadanya. Namun, anak-anak dari permukiman miskin di Jakarta ini membuktikan diri mampu bersaing dengan atlet-atlet gimnastik terbaik Indonesia.

Gang sempit di Penjaringan ini lahirkan para juara gimnastik nasional

Pelatih gimnastik Yoga Ardian (kanan) melatih anak-anak di sebuah gang di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

JAKARTA: Di sebuah permukiman padat di Jakarta Utara, beberapa anak terlihat sedang berlatih salto dan jungkir balik, mencoba untuk bisa mendarat dengan mulus.

Saat terjatuh, benturan mereka hanya ditahan dua matras busa usang yang dihamparkan di atas jalanan beton, bukan lantai senam berpegas.

Tempat latihan mereka adalah gang selebar kurang dari 2 meter, dengan pemandangan tikus-tikus berkeliaran, dipadati jemuran pakaian dan deretan sepeda motor yang diparkir.

"Sebentar! Kasih jalan dulu!" kata instruktur mereka, Yoga Ardian, saat sesi latihan pada suatu sore.

Anak-anak berusia enam hingga 14 tahun itu langsung berhenti dan mengangkat matras untuk memberi jalan kepada pengendara motor.

Beberapa detik kemudian, "gym" darurat itu kembali siap digunakan. Anak-anak pun kembali berbaris untuk berlari, bersalto, dan berguling di sepanjang gang sempit itu. Setidaknya belasan kali mereka harus berhenti untuk memberi jalan kepada pejalan kaki, motor, atau gerobak pedagang.

"Beginilah latihan di gang," kata Yoga, pendiri Indosalto Gymnastics Club, kepada CNA pada Sabtu lalu. "Kami tidak punya kemewahan berupa ruang yang memadai, privasi, ataupun peralatan."

Gang sempit di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, yang melahirkan para juara gimnastik. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Meski serba terbatas, gang di kawasan Penjaringan ini telah melahirkan sejumlah juara nasional.

Dalam turnamen Indonesia Gymnastics Open pada pertengahan Juli, tiga murid Indosalto meraih medali emas, yakni Karlina (14), Katrina Binafi (9), dan Adelia (8).

Karlina bahkan telah tiga kali menjadi juara nasional tricking. Ia juga mengoleksi medali dari berbagai kejuaraan gimnastik dan kickboxing. Tricking merupakan olahraga akrobatik yang memadukan unsur bela diri, gimnastik, dan breakdance.

"Fasilitas kami memang terbatas, tetapi semangat anak-anak ini luar biasa. Mereka selalu ingin belajar, mencoba hal-hal baru, dan terus menantang diri sendiri. Itu yang membuat mereka istimewa," kata Yoga, 35.

Setelah berlatih bersama Yoga, Karlina menyadari bahwa dirinya berbakat dalam akrobatik dan bakat itu membuka jalan yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.

"Dulu saya sebenarnya nggak punya cita-cita," ujar Karlina, yang bergabung dengan Indosalto sejak klub itu berdiri pada 2022.

"Begitu mulai menang di berbagai kompetisi, saya sadar mungkin saya memang bisa jadi atlet. Sekarang saya ingin terus bertanding, terus berkembang, dan membuat Coach bangga."

Karlina, 14, salah satu murid pertama Indosalto Gymnastics Club saat klub itu berdiri pada 2022. Kini ia telah tiga kali menjadi juara nasional tricking dan meraih medali emas gimnastik. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

"JANGAN CUMA NONTON, SINI SAYA AJARI"

Yoga juga menapaki perjalanan di dunia gimnastik dengan semangat yang sama.

Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi atlet capoeira. Ia terpikat pada seni bela diri asal Brasil itu karena memadukan gerakan bertarung, tari, dan akrobatik secara luwes.

Capoeira yang kerap dimainkan di gang-gang sempit kawasan favela di Brasil mengingatkannya pada gang kecil tempatnya dibesarkan di Penjaringan.

Bertahun-tahun mendalami capoeira memberinya bekal akrobatik untuk beralih ke gimnastik. Dari sanalah ia kemudian membangun karier sebagai pelatih dan instruktur.

Namun, baru pada 2022 terlintas di benaknya untuk mengajari anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya.

Pandemi COVID-19 membuat dunia seakan berhenti. Yoga pun mendadak kehilangan pekerjaan sebagai pelatih dan instruktur. Kelas gimnastik dan sesi latihan privat yang biasa ia jalankan lenyap seketika. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain terus berlatih sendiri.

Instruktur gimnastik dan capoeira Yoga Ardian, 35, mendirikan Indosalto Gymnastics Club pada 2022. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Setiap hari, ia menggelar matras di gang depan rumahnya untuk berlatih gimnastik dan capoeira agar kebugarannya tetap terjaga. Tak butuh waktu lama hingga aksinya menarik perhatian warga.

Karlina bersama beberapa teman sekampungnya kerap menyaksikan sosok yang kelak menjadi pelatih mereka itu berlatih.

"Saya suka film kungfu. Saya kira (Yoga) sedang latihan kungfu karena gerakannya mirip," kata Karlina.

"Lama-lama Yoga bilang, 'Jangan cuma nonton! Sini saya ajari.'"

Gerakan pertama yang diajarkan Yoga adalah standing backbend. Mula-mula ia menopang punggung mereka dengan satu tangan saat mereka melenting ke belakang, mengajarkan mereka untuk percaya pada tubuh sendiri ketika tangan mulai menjangkau aspal.

Seiring kekuatan, kelenturan, dan rasa percaya diri meningkat, mereka pun mampu melakukan posisi bridge tanpa bantuan.

Setelah menguasai backbend, Karlina dan teman-temannya segera beralih ke backbend kickover, yakni melenting ke posisi bridge lalu mengayunkan satu kaki, disusul kaki lainnya, melewati kepala hingga kembali berdiri.

Berikutnya mereka mempelajari back handspring, yaitu melompat ke belakang dengan bertumpu pada kedua tangan sebelum kembali mendarat dengan kedua kaki dalam satu rangkaian gerakan.

Beberapa bulan kemudian, Karlina dan teman-temannya sudah mampu melakukan salto belakang tanpa bertumpu pada tangan.

RUMAH PARA JUARA

Setelah pandemi berakhir, jumlah murid Indosalto naik turun. Ada yang datang, ada pula yang berhenti berlatih. Namun Karlina tetap bertahan dan nyaris tak pernah absen dari sesi latihan yang dipimpin Yoga hampir setiap hari.

Perkembangannya yang pesat membuat Yoga memutuskan mendaftarkannya ke kompetisi tricking tingkat regional pada Agustus 2023.

"Saya benar-benar gugup karena itu pertama kalinya saya ikut lomba," kenang Karlina, yang ibunya bekerja sebagai buruh pabrik dan ayahnya telah meninggal dunia.

"Peserta lain sudah bertahun-tahun berlatih dan mengikuti kompetisi, sedangkan saya masih anak baru yang baru berlatih sekitar setahun."

Karlina akhirnya menjuarai kategori one-on-one battle, gelar yang berhasil ia pertahankan pada 2024 dan kembali pada 2025.

"Bukan karena saya lebih hebat dari peserta lain. Saya cuma hoki," ujarnya merendah. "Semua trik yang saya tampilkan berhasil mendarat dengan bersih dan gerakannya mengalir, sementara beberapa peserta lain melakukan kesalahan kecil."

Awal Agustus nanti, Karlina akan kembali mempertahankan gelarnya. Ia juga mulai melebarkan kiprahnya di luar tricking. Pada 2025, ia mengikuti Kejuaraan Nasional Kickboxing dan meraih dua medali perak di nomor musical form dan creative form.

Di saat yang sama, nama Indosalto juga kian diperhitungkan setelah tiga muridnya meraih medali emas pada Indonesia Open Gymnastics Championships yang digelar pada Juli.

(Dari kiri) Katrina Binafi, 9, Adelia, 8, dan Karlina, 14, menunjukkan medali yang mereka raih. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Karlina meraih medali emas di nomor balok keseimbangan putri usia di atas 12 tahun dan finis di peringkat kelima klasemen keseluruhan. Adelia menjadi juara di nomor palang bertingkat putri usia di bawah sembilan tahun, sementara Katrina meraih emas di nomor lompat meja putri usia di bawah sembilan tahun.

"Saat pembawa acara menyebut nama saya sebagai peraih medali emas, saya langsung terpaku. Saya nggak percaya," kata Adelia.

"Saya juga nggak percaya. Senangnya luar biasa," timpal Katrina.

Keduanya mengaku gugup karena baru bisa berlatih menggunakan palang bertingkat dan papan tolak berstandar kompetisi sekitar sepekan sebelum kejuaraan digelar.

"Tapi Kak Yoga terus bilang, 'Tampil saja seperti biasanya.' Kata-kata itu membuat saya percaya diri untuk bertanding," ujar Katrina.

Katrina Binafi, 9, melakukan salto belakang, sementara pelatihnya, Yoga Ardian, mengawasi. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

PELUANG DAN HARAPAN

Nama Indosalto kini telah dikenal luas, melampaui gang-gang sempit di Penjaringan.

Sejak Januari, berbagai media di Indonesia memberitakan kiprah klub yang tak disangka-sangka itu. Sementara Karlina, Katrina, dan Adelia kini juga memiliki banyak pengikut di media sosial.

Orang tua dari berbagai penjuru Jakarta menghubungi Yoga — yang kini kembali bekerja sebagai pelatih dan instruktur setelah pandemi COVID-19 — untuk menanyakan apakah anak-anak mereka bisa berlatih di Indosalto.

Untuk memenuhi permintaan yang terus bertambah, Indosalto membuka kelas umum setiap Minggu di sebuah taman di kompleks olahraga utama Jakarta.

Berbeda dengan sesi latihan gratis pada hari kerja yang dikhususkan bagi anak-anak di Penjaringan, kelas akhir pekan ini berbayar dan terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar gimnastik, tricking, atau capoeira.

Federasi Gimnastik Indonesia juga memberi dukungan dengan mempersilakan klub tersebut menggunakan fasilitas latihannya secara cuma-cuma serta membebaskan biaya pendaftaran untuk mengikuti kompetisi.

Bagi Yoga, bantuan itu seperti mendapat durian runtuh.

"Bantuan terbesar adalah pembebasan biaya pendaftaran, yang bisa mencapai Rp2,5 juta per orang. Jumlah itu sangat besar bagi banyak keluarga di daerah ini," katanya.

Yoga Ardian melatih anak-anak gimnastik di Penjaringan, Jakarta Utara. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Dukungan juga mengalir dari individu maupun perusahaan yang menyumbangkan leotard, sepatu, perlengkapan latihan, dan berbagai peralatan, sehingga klub itu perlahan bisa mengganti fasilitas seadanya yang selama ini mereka gunakan.

Palang bertingkat yang mereka gunakan sekarang hanyalah dua batang besi untuk pull-up yang dijepit di antara bangunan. Mereka juga tidak memiliki papan tolak untuk nomor lompat meja, balok keseimbangan, maupun matras pendaratan yang layak, kata Yoga.

"Kami memang tidak punya peralatan yang memadai, tetapi itu bukan penghalang bagi kami," kata Yoga.

"Saya hanya fokus mengajarkan apa yang bisa saya ajarkan: kekuatan, kontrol tubuh, keseimbangan, kelenturan, dan disiplin. Kalau fondasinya kuat, anak-anak akan sangat cepat beradaptasi dalam situasi apa pun."

Peluang bagi anak-anak ini pun kini tak lagi terbatas di dunia olahraga.

Penyelenggara berbagai acara mengundang mereka untuk tampil, sementara sutradara casting menghubungi Yoga agar mereka mengikuti audisi untuk film dan program televisi.

Yoga mengaku lebih banyak menolak daripada menerima tawaran tersebut karena "beberapa di antaranya mengharuskan anak-anak meninggalkan sekolah".

Namun, ia selalu memberi tahu anak-anak tentang setiap peluang yang datang dan menjelaskan alasan di balik keputusan menerima atau menolaknya.

"Dengan begitu, mereka tahu peluang apa saja yang terbuka setelah lulus sekolah," ujar Yoga, yang belum memiliki anak.

"Mereka bisa bekerja di industri film dan bermain dalam film laga. Mereka bisa menjadi koreografer laga. Mungkin ada yang tertarik menjadi pelatih seperti saya atau menjadi atlet," tambahnya.

"Pilihan ada di tangan mereka."

Yoga berharap, ke depannya semakin banyak juara yang lahir dari lingkungan tempat tinggalnya.

"Anak-anak di sini rata-rata nggak ada kegiatan selain sekolah, jadi sebagian besar waktu mereka cuma dihabiskan untuk nongkrong," katanya.

"Di sini kebanyakan tawuran, berantem, sudah biasa. Jadi kami berusaha mengubah mereka menjadi lebih disiplin dan mengarahkan mereka untuk menjadi lebih baik."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan