Tidak ada karat lagi: Prabowo dorong gentengisasi, pakar pertanyakan urgensinya
Presiden Prabowo Subianto menargetkan atap seng di seluruh Indonesia diganti dengan genteng tanah liat dalam tiga tahun ke depan.
Rumah beratap seng di sepanjang Sungai Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur, pada 11 Februari 2026. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)
JAKARTA: Bulan lalu, Fitriyenni beserta keluarganya harus meninggalkan rumah beratap seng berkarat di gang sempit Jakarta Barat dan pindah ke rumah mertua yang hanya terpaut beberapa meter.
"Atapnya bocor, jadi kami memutuskan pindah ke rumah mertua yang atapnya lebih baik," kata perempuan berusia 41 tahun ini.
Ditinggali empat orang anggota keluarganya, rumah kecil dua lantai yang sebagian dindingnya dari seng itu sudah tidak layak ditinggali. Kepada CNA, Fitriyenni mengatakan keterbatasan biaya membuat dia belum bisa memperbaiki atap rumah.
Karena itulah, rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan seluruh rumah beratapkan seng dengan genteng tanah liat menjadi berita gembira bagi Fitriyenni.
"Kalau gratis, alhamdulillah. Rasanya seperti mendapat (hadiah) renovasi rumah," kata dia.
Pada awal bulan ini, Prabowo mengatakan program yang dinamakan "gentengisasi" ini ditargetkan rampung dalam waktu tiga tahun. Tujuannya, kata Prabowo, untuk membuat rumah lebih sejuk dan indah.
“Saya lihat, semua kota, kecamatan, hampir semua desa kita sekarang, maaf ya, terlalu banyak genteng dari seng,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah (Rakornas) di Bogor, Jawa Barat, pada 2 Februari 2026.
“Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng," kata dia.
Prabowo mengatakan, menggantikan atap seng dengan genteng tanah liat akan membuat lingkungan lebih bersih, sehingga akan menarik wisatawan.
“Turis dari luar, untuk apa dia datang melihat seng berkarat? Karat itu lambang degenerasi. Saya berharap dalam 2-3 tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat,” kata Prabowo.
“Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah, rakyat kita harus bahagia,” ujarnya, menegaskan kembali pesan tersebut pada 13 Februari dalam sebuah acara di Jakarta mengenai prospek ekonomi Indonesia tahun 2026.
Gentengisasi adalah bagian dari gerakan pemerintah yang diumumkan juga di acara yang sama pada 2 Februari lalu untuk mendorong kebersihan lingkungan. Gerakan tersebut dinamakan ASRI, singkatan dari aman, sehat, resik, indah.
Meski rincian pendanaan program belum diungkapkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan anggaran gentengisasi tidak akan melebihi Rp1 triliun karena hanya menyasar rumah beratap seng, bukan seluruh rumah di Indonesia.
"Ini masih perkiraan kasar, tetapi angkanya bisa dikendalikan,” ujar Purbaya kepada wartawan pada 3 Februari.
Dalam acara pada 2 Februari itu, Prabowo mengatakan koperasi Merah Putih akan bekerja sama dengan pabrik genteng.
Namun, para pakar mempertanyakan urgensi dari program penggantian atap ini, potensi biayanya, serta apakah benar-benar lebih ramah lingkungan.
“Ada berbagai pertimbangan lingkungan yang perlu diperhitungkan. Sebagian rumah sudah memiliki suhu yang nyaman, sementara yang lain terasa panas,” ujar Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia.
Pakar kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, menyatakan kekhawatirannya terkait anggaran.
“Setelah ini menjadi kebijakan, saya kira biayanya akan lebih dari Rp1 triliun karena mencakup seluruh Indonesia yang sangat luas,” ujarnya.
Para analis menilai program penggantian atap ini berisiko mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan struktural yang lebih mendalam terkait tata kelola perumahan, penggunaan lahan, dan lingkungan di Indonesia.
LEBIH BERKELANJUTAN?
Menurut Prabowo, genteng memiliki empat keunggulan dibandingkan atap seng.
Genteng dinilai lebih indah secara estetika dan dapat merepresentasikan identitas arsitektur Indonesia, ujarnya.
Atap genteng disebut lebih sesuai dengan iklim tropis Indonesia, memberikan kenyamanan termal yang lebih baik bagi penghuni, serta meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Penggantian atap juga akan mendorong industri genteng dalam negeri, menciptakan lapangan kerja dan nilai ekonomi, kata Prabowo.
Dalam acara tersebut, presiden menampilkan di layar besar gambaran lanskap Indonesia setelah seluruh atap seng diganti.
Berdasarkan gambar yang ditunjukkan, genteng tersedia dalam warna biru langit, biru tua, hijau, abu-abu, dan terakota.
Atapnya dapat menggunakan campuran abu terbang (fly ash) dari limbah batu bara dengan tanah liat, sehingga meningkatkan kekuatan dan daya tahan genteng sekaligus mengurangi bobotnya, kata Menteri Koperasi Ferry Juliantono pada 7 Februari.
Bulan lalu, Prabowo juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap atap seng saat meninjau hunian sementara bagi korban banjir di Aceh.
Ia menilai rumah-rumah tersebut dibangun dengan seng yang membuat bagian dalam terasa panas.
“Saya tanya, bagaimana ini seng panas. Coba dipikirkan, kalau bisa kita kasih apa solusi,” ujar Prabowo dalam pertemuan dengan sejumlah menteri di Aceh Tamiang pada 1 Januari.
Dalam kacamata keberlanjutan, para ahli mengatakan bahwa yang lebih utama ialah dampak bahan sepanjang daur hidupnya.
Genteng tanah liat memang tahan lama dan dapat bertahan puluhan tahun, tetapi memerlukan penambangan tanah liat — termasuk dari lahan pertanian — serta proses pembakaran yang intensif energi, menghasilkan emisi karbon.
Produksi genteng untuk program ini akan mengubah rantai pasok, meningkatkan penambangan tanah liat, menambah emisi transportasi antarpulau, serta berpotensi memerlukan penguatan struktur rumah untuk menahan beban yang lebih berat dibandingkan atap seng.
Sejumlah studi siklus hidup telah dilakukan di berbagai negara terhadap beragam material atap.
Sebuah studi pada 2018 di Australia Barat mengenai dampak lingkungan dari atap lembaran logam, genteng beton, dan genteng tanah liat menemukan bahwa atap lembaran logam memiliki jejak karbon tertinggi, terutama dari proses perolehan bahan baku. Genteng tanah liat memiliki jejak karbon terendah—kurang dari separuh jejak atap logam—yang sebagian besar berasal dari proses manufaktur.
Namun, dengan daur ulang, jejak karbon atap logam dapat dikurangi hingga 73 persen, sementara penurunan pada genteng tanah liat tergolong kecil karena limbahnya dihancurkan untuk digunakan pada aplikasi lain, demikian temuan studi tersebut.
Meski genteng tanah liat dikenal tahan lama, Abdullah, dosen senior teknik sipil di Universitas Syiah Kuala, Aceh, mengatakan terdapat atap seng berkualitas tinggi di Indonesia yang dapat bertahan hingga 20 tahun dan lebih tahan terhadap korosi.
Di wilayah rawan gempa seperti Aceh, atap seng bisa lebih awet dibandingkan genteng tanah liat karena genteng cenderung mudah jatuh jika struktur rumah tidak cukup kokoh—kondisi yang masih banyak ditemui di berbagai daerah di provinsi tersebut, ujarnya.
Harga atap seng dan genteng tanah liat berbeda-beda di tiap wilayah Indonesia, namun menurut Abdullah, atap seng umumnya lebih murah.
Di Aceh, kata dia, atap seng bisa berharga kurang dari Rp100 ribu per meter persegi, sementara genteng tanah liat bisa dua kali lipatnya per meter persegi. Hal ini karena Sumatra tidak memproduksi genteng tanah liat, tambahnya.
Pemasangan genteng juga memerlukan material tambahan seperti rangka atap, yang meningkatkan biaya konstruksi, ujarnya.
Pakar lingkungan Mahawan mengatakan, dengan berbagai pertimbangan tersebut serta adanya persoalan nasional yang lebih mendesak, skema ini tidak bersifat mendesak karena pilihan atap merupakan ranah pribadi.
“Tidak perlu ada pemaksaan standardisasi,” katanya.
Pengalaman penghuni rumah dengan atap seng pun beragam.
Sebagian warga mengatakan kepada CNA bahwa mereka tidak merasa atap logam menahan panas secara berlebihan. Menurut mereka, hal itu lebih bergantung pada ventilasi dan desain plafon, bukan semata pada material bangunan. Yang lain mempertanyakan soal biaya atap genteng.
Warga Jakarta, Chandra Dalmanto, 40, yang menggunakan atap seng, mengatakan: “Tidak terlalu panas karena masih ada plafon, bukan hanya seng.”
“Saya kira orang-orang sudah memakai atap seng sejak lama, dan mungkin sudah tahu cara agar tidak terlalu panas,” ujar Chandra, 40, seorang pekerja serabutan.
Yuli Febriana, 42, memiliki atap kombinasi seng dan genteng. Ia mengatakan masalah utamanya adalah kebocoran dan ingin bagian seng dari rumahnya diganti, asalkan gratis.
“Kalau tidak gratis, saya tidak mampu karena suami saya sedang menganggur,” kata ibu lima anak tersebut di Jakarta Barat.
“Saya hanya bekerja serabutan, menyetrika pakaian orang yang membutuhkan bantuan saya.”
APAKAH PEMERINTAH DAERAH AKAN MEMATUHI?
Pemerintah daerah memiliki kewenangan atas penataan ruang, kata para pakar.
Karena itu, agenda penggantian atap yang digerakkan dari pusat berisiko menimbulkan gesekan dengan prioritas perencanaan di daerah, ujar pakar kebijakan publik Trubus.
“Daerah juga harus menyiapkan kebijakan regulasinya, baik melalui peraturan daerah atau perda, apakah melalui peraturan wali kota atau regulasi pendukung lainnya, yang juga tidak boleh bertentangan dengan undang-undang lingkungan hidup, terutama terkait berbagai tata guna lahan,” kata Trubus.
Ia menambahkan, pengambilan tanah liat harus selaras dengan rencana tata ruang wilayah. Perluasan produksi genteng dapat berbenturan dengan zonasi pertanian dan kawasan konservasi.
Meski pemerintah menyebut program ini sebagai langkah berkelanjutan, material yang digunakan tetap memerlukan kajian lingkungan dan kesehatan yang ketat, mengingat adanya usulan mencampur limbah batu bara dengan tanah liat, kata Trubus.
Para pakar juga mengingatkan bahwa bentuk hunian di Indonesia berkembang dari kondisi ekologi setempat.
Perencana tata ruang dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mengatakan material perumahan secara historis mencerminkan kondisi tanah, iklim, dan adaptasi budaya.
Pulau Jawa, yang merupakan pulau terpadat di Indonesia, kaya akan tanah liat sehingga mendukung produksi genteng.
Namun, di pulau lain seperti Sumatra dan Kalimantan, komposisi tanah dan tingkat kelembapan berbeda, ujar para pakar.
Beberapa komunitas masyarakat menghindari material berbasis tanah karena alasan simbolik, kata Trubus dan Yayat, sehingga rencana tersebut kemungkinan tidak akan diterima secara luas.
“Di Sumatra, misalnya, atap tanah liat mungkin tidak mudah diterima karena secara kultural ada anggapan bahwa atap rumah tidak boleh berasal dari tanah karena identik dengan kematian,” ujar Yayat.
Selain itu, kebijakan penyeragaman atap juga memunculkan pertanyaan perencanaan yang krusial, seperti kapasitas struktur bangunan, tambah mereka.
Genteng lebih berat dibandingkan lembaran seng. Di permukiman informal yang dibangun secara bertahap, struktur bangunan mungkin tidak mampu menahan beban tambahan tanpa penguatan.
Di wilayah rawan gempa, atap yang lebih berat dapat meningkatkan risiko bagi penghuni jika struktur rumah lemah.
“Jadi, misalnya, kalau rumah berada di lereng gunung, lebih mudah menggunakan atap seng,” kata Trubus.
“Jika terjadi gempa dan rumah roboh, lebih mudah menyelamatkan diri. Genteng bisa membahayakan penghuni.”
BUKAN SEKADAR SOAL ATAP
Mengingat pemerintah masih memiliki sejumlah program lain yang belum sepenuhnya terealisasi, para analis menilai sebaiknya fokus diarahkan terlebih dahulu pada program-program tersebut.
Salah satu program utama, misalnya, adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, ada pula target pemerintah membangun tiga juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah setiap tahun, yang hingga kini masih berjalan.
Analis properti yang berbasis di Jakarta, Anton Sitorus, mengatakan: “Perumahan bukan hanya soal atap. Ini tentang sanitasi, ventilasi, pencahayaan, dan sirkulasi udara yang sehat.”
Jika keberlanjutan menjadi tujuan, lanjutnya, kualitas struktural rumah seharusnya lebih diprioritaskan dibandingkan aspek estetika.
Anton mencatat Indonesia masih menghadapi tantangan mendasar dalam program tiga juta rumah, seperti ketersediaan lahan, regulasi, dan pendanaan.
Menutup kesenjangan tersebut dinilai lebih mendesak daripada mengganti atap, ujarnya.
Namun, sebagian pelaku usaha berharap program ini membuka peluang. Pemilik pabrik genteng tanah liat di Majalengka, Jawa Barat, mengatakan semenjak pengumuman Prabowo, sejumlah pejabat pemerintah telah mengunjungi pabriknya untuk menanyakan kapasitas produksi.
“Saya berharap akan ada peningkatan permintaan. Dan juga bantuan dari pemerintah agar pabrik saya bisa berkembang,” ujar Syarif, 37.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.