Skip to main content
Iklan

Indonesia

Pengeluaran Gen Z Jakarta hampir Rp12 juta per bulan, habis untuk apa saja?

Pengeluaran tertinggi tercatat di Jakarta Selatan, sementara tingkat pengangguran usia 15-29 tahun masih jauh di atas kelompok pekerja lain.

Pengeluaran Gen Z Jakarta hampir Rp12 juta per bulan, habis untuk apa saja?

LRT Jakarta (Dok. Waskita Karya)

JAKARTA: Hampir Rp12 juta per bulan. Itulah rata-rata pengeluaran generasi Z di Jakarta sepanjang 2025 menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Besarnya biaya hidup tersebut menunjukkan bahwa beban anak muda di ibu kota kini tidak lagi didominasi kebutuhan makan, melainkan berbagai pengeluaran penunjang aktivitas sehari-hari.

Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan rata-rata pengeluaran Gen Z mencapai Rp11,97 juta per bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp7,14 juta digunakan untuk kebutuhan nonmakanan, sedangkan Rp4,83 juta dialokasikan untuk makanan.

"Rata-rata pengeluaran tertinggi berada di Jakarta Selatan sebesar Rp15.168.533 per bulan, sedangkan yang terendah berada di Kepulauan Seribu sebesar Rp6.082.246 per bulan," ujarnya.

Pengeluaran nonmakanan mencakup berbagai kebutuhan yang sulit dihindari masyarakat perkotaan, seperti biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, perlengkapan kerja, hingga perangkat elektronik.

Besarnya porsi pengeluaran tersebut menunjukkan biaya hidup di Jakarta tidak lagi hanya ditentukan oleh kebutuhan pangan, tetapi juga mobilitas, pendidikan, dan kebutuhan penunjang pekerjaan yang terus meningkat.

SOROTAN PENGGUNAAN PAYLATER

Di sisi lain, kondisi ekonomi generasi muda Jakarta masih menghadapi sejumlah tantangan. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15-29 tahun pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen, jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia 30-59 tahun yang sebesar 3,25 persen.

Selain itu, sekitar 21,47 persen pekerja muda masih bekerja di sektor informal yang umumnya memiliki pendapatan tidak tetap.

Kondisi tersebut mendorong semakin banyak generasi muda memanfaatkan layanan buy now, pay later (BNPL) atau PayLater untuk mengatur arus kas.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira mengatakan meningkatnya penggunaan PayLater di kalangan anak muda tidak dipicu oleh satu faktor saja.

Menurut dia, terdapat tiga penyebab yang saling berkaitan, yakni kemudahan akses terhadap produk, kondisi ekonomi pengguna, serta kesenjangan antara akses layanan keuangan dan tingkat literasi keuangan masyarakat.

"PayLater merupakan kredit yang dibuat sangat mudah untuk diakses dan ditempatkan langsung di halaman pembayaran. Konsumen tidak perlu datang ke bank atau melalui proses panjang. Cukup beberapa kali klik, barang langsung diterima, sementara pembayarannya dilakukan kemudian," kata Adrian kepada Kompas.com.

"Mereka harus membayar transportasi, tempat tinggal, kebutuhan kerja, bahkan membantu keluarga. PayLater kemudian dipakai untuk menjembatani kebutuhan hari ini dengan pendapatan yang baru diterima di masa depan," lanjutnya.

Menurut Adrian, tekanan ekonomi menjelaskan mengapa seseorang membutuhkan kredit. Namun, kemudahan penggunaan PayLater juga dapat meningkatkan kecenderungan berbelanja secara impulsif.

"Banyak penelitian di Indonesia menemukan hubungan positif antara penggunaan PayLater dan pembelian impulsif. Semakin mudah digunakan, semakin besar peluang konsumen membeli secara spontan," ujarnya.

Ia menilai PayLater dapat menjadi instrumen keuangan yang bermanfaat apabila digunakan sebagai consumption smoothing, yaitu menjembatani kebutuhan sementara hingga pendapatan diterima.

Namun, kondisi akan berbeda apabila utang terus digunakan untuk menutup kekurangan pendapatan rutin karena berisiko memperburuk kondisi keuangan pengguna.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan