Garuda Indonesia rugi Rp5,4 triliun sepanjang 2025
Kinerja 2025 tertekan karena puluhan pesawat menunggu perawatan, penumpang turun 10,5 persen jadi 21,2 juta, serta rupiah melemah dan rantai pasok aviasi mengerek biaya.
Pesawat Garuda Indonesia terlihat di landasan pacu Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Banten pada 8 Februari 2026. (CNA/Ericssen)
JAKARTA: Maskapai nasional Garuda Indonesia membukukan rugi sepanjang 2025. Rapor merah keuangan perseroan terjadi imbas menurunnya kinerja operasional sepanjang tahun lalu.
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) masih mencatatkan kerugian signifikan pada tahun buku 2025 yakni sebesar US$319,39 juta atau setara Rp5,42 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.969 per dolar AS) meskipun telah memperoleh suntikan dana sebesar Rp23,67 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagatha Nusantara (BPI Danantara).
Kerugian GIAA bahkan naik sekitar 4,5 kali lipat dari US$72,7 juta pada tahun sebelumnya.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan mengungkapkan, pendapatan usaha konsolidasi perseroan sepanjang 2025 tercatat sebesar US$3,22 miliar, turun 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Penurunan ini terjadi seiring fase konsolidasi operasional yang tengah dijalankan untuk memperkuat fundamental bisnis perusahaan," ujarnya dalam keterangan resmi dikutip detikFinance, Selasa (24/3).
Ia menguraikan lebih jauh penurunan kinerja perseroan terjadi imbas puluhan armada pesawat tak layak terbang atau unserviceable aircraft di semester I-2025 karena menunggu jadwal perawatan (scheduled maintenance).
Glenny menjelaskan terdapat 99 armada pesawat milik Garuda Indonesia Group siap terbang atau serviceable aircraft hingga akhir tahun 2025. Angka tersebut naik dari data per Juni 2025, yakni sebanyak 84 armada.
Total unserviceable armada hingga akhir 2025 masih sebanyak 43 pesawat, yang saat ini dalam tahapan penyelesaian perawatan armada. Akibatnya, jumlah penumpang Garuda Indonesia Group pun terkoreksi sepanjang tahun 2025.
Jumlah penumpang sepanjang tahun tercatat 21,2 juta, turun 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Glenny menjelaskan, tekanan nilai tukar rupiah dan tantangan rantai pasok industri aviasi global juga turut mengerek biaya dan proses perawatan. Ia mengatakan, pihaknya akan mendorong transformasi bisnis secara konsisten dengan pemulihan armada yang tengah berlangsung.
"Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, Garuda Indonesia optimis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap menuju fase pemulihan yang lebih solid," sebutnya.
SUNTIKAN DARI DANANTARA
Glenny menambahkan, dukungan pendanaan dari BPI Danantara mulai memberikan dampak terhadap pemulihan kinerja operasional di semester II 2025. Setidaknya, Perseroan menargetkan operasional 68 armada Garuda dan 50 pesawat Citilink di akhir tahun 2026.
"Melalui dukungan pendanaan capital injection di akhir tahun 2025, Garuda Indonesia menargetkan sedikitnya di akhir tahun 2026 akan mengoperasikan sebanyak 68 serviceable aircraft, sedangkan Citilink menargetkan serviceable aircraft di akhir 2026 sebanyak 50 pesawat," jelasnya.
Mayoritas saham Garuda kini berada di bawah kendali pemerintah Indonesia melalui PT Danantara Asset Management, yang menguasai 91,11 persen. PT Trans Airways milik Chairul Tanjung juga tercatat sebagai pemegang 1,80 persen saham.