Gagal ginjal meroket di Indonesia, hindari kebiasaan-kebiasaan buruk ini
Konsumsi garam dan gula berlebih menjadi sorotan utama.
JAKARTA: Kasus gagal ginjal yang semakin marak di Indonesia menjadi perhatian serius, terutama karena dapat menyerang siapa saja, termasuk mereka yang masih berusia muda.
Kebiasaan hidup yang tidak sehat menjadi salah satu faktor utama pemicunya.
Dilansir dari detikHealth, Minggu (16/3), spesialis penyakit dalam dr. Yunita Indah Dewi, SpPD, mengungkapkan bahwa sejumlah kebiasaan buruk berpotensi memicu gagal ginjal kronis pada usia muda.
Beberapa di antaranya adalah kurangnya konsumsi air putih, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, penggunaan obat pereda nyeri secara berlebihan, serta pola makan tinggi gula dan daging merah.
KONSUMSI GARAM DAN GULA BERLEBIH JADI SOROTAN
Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr. Pringgodigdo Nugroho, turut mengingatkan bahwa asupan garam berlebih dapat memicu hipertensi, yang pada akhirnya berkontribusi pada gangguan ginjal.
"Terlalu banyak garam menyebabkan tubuh menarik lebih banyak cairan ke dalam pembuluh darah, yang kemudian meningkatkan tekanan darah. Jika tidak terkontrol, kondisi ini dapat berujung pada penyakit ginjal kronis," ujarnya.
Ia menegaskan, konsumsi garam sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 2 gram per hari atau setara dengan kurang dari 5 gram garam dapur per hari.
Selain garam, konsumsi gula berlebihan juga menjadi perhatian. Dokter penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr. Dina Nilasari, PhD, SpPD-KGH, mengungkapkan kepada Kompas.com bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis, seperti bubble tea dan minuman manis lainnya, dapat meningkatkan risiko gagal ginjal.
"Memang tidak secara langsung, tetapi konsumsi gula berlebih dapat memicu diabetes dan obesitas, yang keduanya merupakan faktor utama penyebab gagal ginjal," jelasnya.
Dina juga menyoroti bahaya konsumsi minuman berenergi dalam jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minuman ini dapat merusak fungsi ginjal karena tingginya kandungan gula, natrium, dan kafein.
Kebiasaan mengonsumsi minuman berenergi untuk tetap terjaga saat bekerja hingga larut malam dapat mempercepat dampak negatifnya terhadap ginjal.
"Kandungan tersebut memaksa ginjal bekerja lebih keras. Awalnya, mungkin tubuh terasa lebih bertenaga, tetapi efeknya hanya sementara. Jika dikonsumsi terus-menerus, dapat meningkatkan risiko gagal ginjal," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi jamu atau ramuan herbal yang tidak jelas komposisinya bisa berisiko merusak ginjal. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam memilih produk herbal yang dikonsumsi.
Berdasarkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batas konsumsi gula yang disarankan adalah tidak lebih dari 50 gram atau sekitar 12 sendok teh per hari.
Penyakit ginjal kronis sering kali tidak menimbulkan gejala hingga kerusakan ginjal mencapai 90 persen.
Sayangnya, gangguan ginjal yang sudah terjadi tidak bisa pulih sepenuhnya. Namun, jika terdeteksi sejak dini, peluang untuk mengelola kondisi ini agar tidak semakin parah masih cukup tinggi.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.