Fenomena Rojali dan Rohana dianggap dibuat-buat, Menko Airlangga angkat bicara
Airlangga menekankan kedua istilah itu tidak sesuai kenyataan di lapangan dan cenderung digoreng secara berlebihan.
JAKARTA: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi polemik soal fenomena Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya) yang ramai dibicarakan publik.
Menurutnya, istilah tersebut tidak menggambarkan kenyataan di lapangan dan cenderung digoreng secara berlebihan.
“Terkait dengan isu Rohana dan Rojali, ini isu yang ditiup-tiup. Faktanya berbeda, dan tentu ini yang harus kita lihat,” kata Airlangga dikutip Tempo, Selasa (5/8), di Kantor Kemenko Perekonomian.
Ia menyebut bahwa bukan konsumsi yang melemah, tetapi pola konsumsi yang bergeser dari belanja offline ke online.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), transaksi online melalui e-retail dan marketplace tumbuh 7,55 persen dari kuartal I ke kuartal II. Jumlah transaksi e-commerce meningkat signifikan dari 280 juta pada 2018 menjadi 3,23 miliar transaksi pada 2024.
Penjualan produk perawatan pribadi dan kosmetik naik 16,95 persen secara tahunan dengan nilai transaksi mencapai Rp67,6 triliun. Produk rumah tangga dan perkantoran juga meningkat 29,38 persen dengan nilai mencapai Rp72,8 triliun.
Airlangga menambahkan bahwa konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2025 tumbuh 4,97 persen, sedikit lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat 4,93 persen.
Kinerja positif juga terlihat di sektor ritel, seperti terlihat dari pertumbuhan laba bersih emiten-emiten besar seperti Alfamart (AMRT) yang tumbuh 4,99 persen, Mitra Adiperkasa (MAPI) tumbuh 6,85 persen, dan MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) tumbuh 12,87 persen pada semester I 2025.
REALITA DATA DAN PERSEPSI PUBLIK TAK SEPENUHNYA SELARAS
Meski pemerintah menyampaikan narasi optimistis, laporan dari Bloomberg dan pelaku industri justru menunjukkan gejala yang berlawanan.
Penjualan Unilever Indonesia dan Matahari Department Store mengalami penurunan sepanjang semester I 2025. Bahkan Indofood CBP Sukses Makmur hanya mampu mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 1,7 persen.
Meski lalu lintas pengunjung mal meningkat sekitar 10 persen, pertumbuhan penjualan tidak sejalan. Hal ini disampaikan oleh Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), yang menyatakan bahwa pola belanja masyarakat telah berubah karena terbatasnya dana yang dimiliki.
Menurutnya, masyarakat kini hanya membeli barang-barang murah yang benar-benar dibutuhkan.
Situasi serupa juga terlihat pada sektor transportasi. Penjualan sepeda motor turun 2 persen sepanjang semester I, sementara penjualan mobil anjlok 8,5 persen.
Bahkan, pada Juni 2025, Indonesia menjual lebih sedikit mobil dibanding Malaysia, meski negara tersebut memiliki populasi hanya seperdelapan dari Indonesia.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.