Skip to main content
Iklan

Indonesia

Fenomena doom spending trending di kalangan gen Z, apa maksudnya?

Doom spending sangat terkait dengan pengeluaran impulsif karena ketidakyakinan akan masa depan.

Fenomena doom spending trending di kalangan gen Z, apa maksudnya?
Ilustrasi doom spending (iStock)
07 Oct 2024 08:05PM (Diperbarui: 07 Oct 2024 08:30PM)

JAKARTA: Generasi Z dan milenial akhir-akhir ini semakin sering menghabiskan uang untuk hal mewah, seperti memakai barang-barang bermerk, mengenakan pakaian desainer terkenal, berpesta di kelab malam, dan liburan ke luar negeri.

Mereka lebih memilih menggelontorkan uang untuk pengeluaran berskala besar itu dibandingkan dengan menabung.

Fenomena yang sedang menjamur ini rupanya memiliki istilah yaitu dikenal sebagai doom spending.

Doom spending mengacu ke tren pengeluaran impulsif yang disebabkan oleh rasa pesimistis terhadap kondisi ekonomi dan masa depan.

Psychology Today menjelaskan bahwa doom spending adalah kebiasaan berbelanja tanpa perencanaan yang bertujuan untuk mengatasi stres dan kekhawatiran tentang masa depan.

Tren ini semakin meluas secara global, terutama di kalangan generasi yang masih berjuang untuk mencapai stabilitas finansial.

Sebuah survei menunjukkan bahwa 43% milenial dan 35% Gen Z lebih rentan terhadap doom spending, terutama di kalangan mereka yang belum memiliki penghasilan stabil.

Ylva Baeckström, dosen senior di bidang keuangan di King's Business School, London, Inggris, menekankan bahwa praktik ini tidak sehat dan memiliki dampak fatalistik.

Ia menjelaskan bahwa generasi muda yang terhubung secara daring lebih sering terpapar berita negatif, yang mempengaruhi emosi mereka dan mendorong kebiasaan belanja yang tidak bijaksana.

Survei dari Bank of America menunjukkan bahwa 53% Gen Z merasa bahwa meningkatnya biaya hidup menjadi hambatan utama dalam mencapai kesuksesan finansial.

Bagi mereka, tujuan keuangan tampak sulit dicapai, sehingga mereka merasa tidak ada gunanya menabung dan memilih untuk menikmati hidup sekarang.

Mereka khawatir bahwa mereka tidak akan mampu membelanjakan uang untuk hal-hal yang membawa kebahagiaan, sehingga pada akhirnya memicu peningkatan pengeluaran.

SOLUSI MENEKAN DOOM SPENDING

Untuk mengatasi tren ini, Samantha Rosenberg, salah satu pendiri platform pembangunan kekayaan Belong, menyarankan agar proses belanja dibuat lebih sulit guna mengurangi perilaku impulsif.

Ia menekankan bahwa belanja online memudahkan pengeluaran tanpa pikir panjang, sementara berbelanja langsung di toko dapat mendorong kita untuk lebih kritis terhadap keputusan pembelian.

Rosenberg juga merekomendasikan penggunaan uang tunai untuk membatasi belanja impulsif.

Metode pembayaran cepat seperti Apple Pay menghilangkan rasa "sakit" saat mengeluarkan uang, sehingga kita lebih mudah menghabiskan tanpa berpikir panjang.

Dengan meningkatkan kesadaran akan "rasa sakit saat membayar," Rosenberg berharap dapat membantu mengurangi perilaku doom spending di kalangan generasi muda.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan