Fakta-fakta demo DPR yang berujung ricuh: Jurnalis dipukuli, 400 orang ditahan
Massa menyuarakan pembubaran DPR, pengesahan RUU Perampasan Aset, penolakan komersialisasi pendidikan, hingga penghentian politik dinasti.
JAKARTA: Aksi demonstrasi menolak kenaikan tunjangan anggota DPR RI di kawasan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (25/8) berujung ricuh dan menyebabkan ratusan orang ditahan aparat kepolisian.
Menurut laporan LBH Jakarta dikutip IDN Times, hingga Selasa (26/8) pagi tercatat 400 orang masih ditahan, termasuk 200 di antaranya pelajar di bawah umur. Selain itu, seorang jurnalis foto dari Kantor Berita Antara turut menjadi korban pemukulan oknum polisi saat meliput aksi.
DARI DAMAI BERUBAH RICUH
Massa mulai memadati area Gedung DPR/MPR sejak pukul 10.15 WIB. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pengemudi ojek online, pedagang, hingga warga yang datang secara perseorangan, tanpa mengatasnamakan aliansi atau organisasi.
Situasi awal yang relatif damai berubah ricuh sekitar pukul 12.40 WIB ketika sekelompok pelajar berseragam sekolah bergabung di depan Gedung DPR. Mereka menyuarakan tuntutan mulai dari pembubaran DPR, pengesahan RUU Perampasan Aset, penolakan komersialisasi pendidikan, hingga penghentian politik dinasti.
Tak lama kemudian, massa bergerak menuju blokade polisi di persimpangan Kementerian Kehutanan arah Slipi. Polisi sempat memperingatkan agar tidak ada provokasi, namun ketegangan meningkat hingga berujung bentrokan.
Aparat mengerahkan kendaraan taktis, water cannon, dan menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran. Bentrokan masih berlangsung hingga pukul 18.20 WIB di bawah kolong flyover Slipi, dekat Stasiun Palmerah.
Kerusuhan makin meluas ketika massa membakar Pos Polisi Petamburan dan merusak sejumlah fasilitas umum, termasuk tenda pos polisi dan pembatas jalur TransJakarta.
Akibat insiden ini, beberapa rute TransJakarta Koridor 9 serta akses menuju Stasiun Palmerah ditutup sementara.
Pihak Polres Metro Jakarta Pusat memastikan telah menangkap sejumlah pelajar serta kelompok yang diduga berasal dari jaringan anarko dalam kericuhan tersebut.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Saputra, membenarkan adanya puluhan massa yang diamankan.
“Ada pelajar dan anarko, masih kita data,” sebutnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.