Penerbangan dibatalkan, penumpang putar otak cari rute lain, tempuh jalan darat berjam-jam
Gangguan penerbangan akibat letusan Gunung Anak Krakatau memaksa para pelancong di Indonesia melakukan perjalanan darat yang memakan waktu lama karena tiket kereta api habis terjual dan tarif penerbangan melonjak.
Pelancong Achmad Rifyannur (kiri) dan Jason Leong sama-sama terdampak gangguan penerbangan akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (FOTO: Achmad Rifyannur dan Jason Leong)
JAKARTA: Seharusnya Achmad Rifyannur, 29, hanya perlu menempuh penerbangan singkat selama dua jam untuk bisa pulang.
Namun, setelah penerbangannya dari Bali ke Jakarta dibatalkan pada Minggu (6/9) akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, perjalanan pulang berubah menjadi maraton panjang selama 27 jam dengan kereta, feri, dan berbagai transportasi umum lainnya.
“Saya seharusnya terbang dari Bali ke Jakarta pukul 7 pagi pada Minggu dengan AirAsia, karena Senin saya ada pekerjaan,” kata selebgram perjalanan itu kepada CNA.
Achmad, yang memiliki hampir satu juta pengikut di Instagram, awalnya mencoba memesan penerbangan lain, kali ini menuju Bandung, Jawa Barat, yang berjarak sekitar dua jam berkendara dari Jakarta.
Dia berhasil mendapatkan tiket pesawat pukul 1 siang pada Minggu. Namun, menjelang waktu keberangkatan, penerbangan itu juga dibatalkan akibat aktivitas vulkanik yang sama.
Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan delapan bandara menghentikan sementara operasional penerbangan sejak Minggu pagi, termasuk pintu gerbang internasional utama Indonesia, Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.
Menurut Kementerian Perhubungan, hingga Senin pukul 9 pagi, sekitar 2.300 penerbangan dibatalkan, ditunda, atau dialihkan, berdampak pada lebih dari 270.000 penumpang.
Namun, salah satu dari delapan bandara yang sempat ditutup sementara, yakni Bandara Atung Bungsu di Sumatra Selatan, telah kembali beroperasi.
Tanpa kepastian kapan penerbangan akan kembali beroperasi, Achmad akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta lewat jalur darat. Dia naik feri dari Gilimanuk, Bali, menuju Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta.
Perjalanan dari Banyuwangi ke Jakarta memakan waktu sekitar 17 jam dengan kereta.
Namun, tiket kereta langsung ke Jakarta juga sudah habis karena banyak pelancong lain mengalami nasib serupa. Achmad pun terpaksa mengambil rute yang lebih panjang dengan beberapa kali berganti kereta.
“Perjalanan dari Bali ke Jakarta yang seharusnya singkat, sekarang harus saya tempuh sekitar 27 jam,” kata Achmad. Saat dihubungi CNA pada Senin pagi, Achmad masih harus menempuh sekitar sepertiga perjalanan lagi sebelum tiba di rumah.
Achmad hanyalah satu dari sekian banyak pelancong yang harus putar otak mencari rute alternatif akibat erupsi gunung berapi.
PUTAR OTAK UNTUK PULANG
Komedian Malaysia Jason Leong, yang tampil di Jakarta pada 5 September, dijadwalkan terbang dengan Batik Air dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di Subang, negara bagian Selangor, pada Minggu pukul 11.45.
Namun sekitar pukul 1 dini hari, dia mendapat pemberitahuan bahwa penerbangannya dibatalkan akibat abu vulkanik erupsi Anak Krakatau.
Leong kemudian mengunggah video di Instagram untuk meminta saran rute alternatif agar bisa kembali ke Malaysia. Sejumlah pilihan yang disarankan, antara lain, terbang dari Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya.
“Pada akhirnya saya memilih Yogyakarta karena Surabaya juga dekat dengan gunung yang sedang erupsi, sementara tidak ada penerbangan langsung dari Bandung ke Kuala Lumpur,” kata Leong kepada CNA, merujuk pada erupsi Gunung Semeru, sekitar 100 km di selatan Surabaya.
Dia berhasil memesan penerbangan AirAsia dari Bandara Internasional Yogyakarta menuju Bandara Internasional Kuala Lumpur pada Senin pukul 17.30. Untuk mencapai Yogyakarta, dia menempuh perjalanan dengan kereta selama lebih dari enam jam.
“Saya bisa bilang, mengatur rute alternatif cukup mudah. Tapi, mungkin itu karena saya sering bepergian untuk urusan pekerjaan,” kata Leong.
Dia juga mengaku terkesan dengan komunikasi dari pihak Bandara Internasional Soekarno-Hatta serta informasi yang diberikan lembaga Pemerintah Indonesia yang memantau cuaca, kualitas udara, dan erupsi gunung berapi.
“Komunikasi dari pihak bandara jelas dan terus diperbarui, begitu pula informasi dari lembaga-lembaga terkait.”
Sementara itu, Helen, 58, ibu rumah tangga asal Indonesia yang tinggal di Singapura, masih mempertimbangkan sejumlah pilihan penerbangan alternatif ke Jakarta.
“Saya seharusnya terbang dari Singapura ke Jakarta pada Minggu pagi, tetapi penerbangan Singapore Airlines saya terdampak. Saya sudah menjadwal ulang, tapi penerbangan paling awal yang tersedia baru 12 September,” kata Helen, yang hanya ingin disebut dengan nama depannya, kepada CNA.
“Situasinya sulit karena kakak saya sedang sakit, jadi saya sedang mencari cara lain agar bisa kembali ke Indonesia secepat mungkin.”
Helen mengatakan sempat mempertimbangkan terbang ke Surabaya pada Selasa, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan kereta. Namun, harga tiketnya sangat mahal, setidaknya tiga kali lipat dari tarif normal.
Helen akhirnya memesan penerbangan dari Batam ke Semarang, yang berjarak sekitar enam jam perjalanan dengan kereta atau mobil dari Jakarta, karena harganya lebih terjangkau. Dia dijadwalkan terbang ke Semarang pada Rabu dan sebelumnya harus menyeberang dengan feri dari Singapura ke Batam.
“Ini sangat membuat frustrasi karena ada begitu banyak ketidakpastian. Saya paham mungkin ada situasi yang berada di luar kendali siapa pun, tetapi penumpang membutuhkan informasi yang lebih jelas mengenai pilihan yang tersedia.”
BANDARA ALTERNATIF DISIAPKAN
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan Indonesia telah menetapkan enam bandara di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur sebagai bandara alternatif.
Bandara yang paling dekat dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta adalah Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil dari Jakarta.
Sementara yang terjauh, Bandara Internasional Juanda di Surabaya, Jawa Timur, berjarak sekitar sembilan jam perjalanan dengan kereta dari ibu kota.
“Kami mengimbau seluruh maskapai, baik domestik maupun internasional, untuk memanfaatkan bandara alternatif yang telah disiapkan,” kata Dudy dalam pernyataan pada Senin.
Menteri Perhubungan juga menjanjikan layanan kereta dan bus gratis bagi penumpang yang penerbangannya dialihkan ke enam bandara tersebut.
Namun, para pakar mengatakan, mengalihkan penerbangan ke bandara-bandara alternatif itu tidak semudah yang dibayangkan.
“Maskapai perlu mengirim staf darat, kru pemeliharaan, dan memastikan ketersediaan suku cadang yang cukup untuk melakukan perawatan. Saat ini, sumber daya tersebut masih berada di Jakarta dan tidak ada cara untuk menerbangkannya ke bandara-bandara alternatif,” kata pengamat penerbangan independen Gerry Soejatman kepada CNA.
Situasi semakin rumit karena menurut Kementerian Perhubungan, sedikitnya 170 pesawat masih tidak dapat terbang dan tertahan di apron Bandara Internasional Soekarno-Hatta akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Dengan begitu banyak pesawat yang tidak bisa terbang, pembatalan dan penundaan akan terus terjadi sampai bandara kembali dibuka,” kata Gerry.
Sementara itu, harga tiket penerbangan dari dan menuju bandara-bandara alternatif tersebut melonjak tajam.
Sebagai contoh, tiket Singapore Airlines dari Singapura ke Surabaya pada 8 September dibanderol lebih dari Rp10 juta di situs atau aplikasi pemesanan, lebih dari dua kali lipat tarif normal.
Harga tiket pun terus meningkat seiring bertambahnya permintaan, seperti pada penerbangan Scoot dari Singapura ke Semarang pada 9 September.
Harga tiket yang awalnya mulai dari Rp4,3 juta ketika CNA mengeceknya pada Senin pukul 09.30, melonjak menjadi Rp6,6 juta sekitar satu jam kemudian.
Sebagai perbandingan, tiket untuk penerbangan Scoot yang sama pada 1 Oktober dibanderol Rp2,2 juta.
Secara terpisah, peralihan dari pesawat ke kereta untuk perjalanan dari Surabaya dan sekitarnya menuju Jakarta juga terlihat dari data PT Kereta Api Indonesia (KAI).
KAI Daop 8 Surabaya mencatat 6.707 penumpang menuju Jakarta pada 7 September, naik 88 persen dari 3.562 penumpang sepekan sebelumnya.
Angka tersebut juga naik 44 persen dibandingkan Minggu, ketika 4.669 penumpang tercatat melakukan perjalanan dari Surabaya dan sekitarnya menuju Jakarta.
KAI menyebut kereta menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat ketika erupsi Gunung Anak Krakatau memengaruhi pilihan moda transportasi mereka, seperti dilaporkan Kompas.
Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya Mahendro Trang Bawono mengatakan, pihaknya terus memantau peningkatan kebutuhan perjalanan dan akan menyesuaikan perjalanan maupun kapasitas jika diperlukan.
AKTIVITAS VULKANIK MEREDA
Gunung Anak Krakatau menyemburkan lava pijar dan kolom abu vulkanik yang menjulang sejak 4 September. Pada 2018, erupsi menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh dan memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 400 orang di Jawa dan Sumatra.
Gunung itu pertama kali muncul dari kaldera yang terbentuk akibat letusan dahsyat Krakatau pada 1883, yang memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 36.000 orang.
Pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, tidak ada ancaman tsunami dalam waktu dekat.
Pihak berwenang menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga, level tertinggi kedua, sejak aktivitasnya mulai meningkat pekan lalu. Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 3 km dari gunung api tersebut.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Lana Saria menyampaikan, selama 25 jam berturut-turut, mulai Jumat pukul 23.00 hingga Minggu pukul 00.00, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang ditandai semburan lava tanpa henti dari kantong magmanya.
Namun pada Minggu pagi, semburan lava menyerupai air mancur itu telah berhenti, meski beberapa erupsi ringan masih tercatat.
Perkembangan tersebut, kata Lana, “untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut”.
Meski aktivitas vulkanik menurun, status Siaga dan larangan beraktivitas dalam radius 3 km tetap diberlakukan sementara Badan Geologi terus memantau gunung tersebut secara ketat.
Pengamat penerbangan, Gerry, berharap perkembangan ini berarti bandara-bandara dapat segera kembali dibuka.
“Hanya ada satu pertanyaan di benak para penumpang saat ini: ‘Kapan bandara dibuka kembali dan penerbangan kembali beroperasi?’” katanya.
Menhub Dudy mengatakan, sejumlah langkah masih harus dilakukan setelah abu vulkanik tidak lagi terdeteksi di udara sebelum bandara dapat kembali dibuka.
“kami akan melakukan upaya-upaya seperti pembersihan runway, taxiway, maupun apron. Hal ini supaya apabila pada waktunya situasi sudah memungkinkan, bandara siap dioperasikan,” kata Dudy.
Laporan tambahan oleh Johannes Tjendro
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.