Ephorus HKBP Pendeta Victor Tinambunan: Banjir bandang Tapanuli bencana buatan manusia
Pimpinan tertinggi Gereja Batak itu menilai penyebab utama bencana adalah hilangnya tutupan hutan secara drastis di kawasan Tapanuli.
MEDAN: Ephorus Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pendeta Victor Tinambunan, menegaskan bahwa banjir bandang hebat yang melanda Sumatera Utara (Sumut) khususnya wilayah Tapanuli bukan sekadar fenomena alam. Ia menyebut bencana tersebut sebagai bencana ekologis, hasil dari ulah manusia yang menggerus tutupan hutan secara masif.
“Ini bukan bencana alam biasa, tetapi bencana buatan manusia,” kata Victor kepada detikSumut, Kamis (27/11).
Hingga kini, enam jemaat HKBP dilaporkan meninggal dunia akibat banjir dan longsor tersebut. HKBP telah menggerakkan jemaat untuk menggalang bantuan bagi korban terdampak.
Pimpinan tertinggi HKBP itu menilai penyebab utama bencana adalah hilangnya tutupan hutan secara drastis di kawasan Tapanuli. Ia menyebut pelaku perusakan hutan—baik korporasi maupun individu—bisa ditelusuri dan semestinya mendapat sanksi tegas dari aparat.
SOROTAN PADA KERUSAKAN HUTAN, ILLEGAL LOGGING, DAN TPL
Pendeta Victor menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap aktivitas illegal logging. Ia mendesak pemerintah menindak pelaku perusakan hutan dan bahkan secara gamblang meminta agar pemerintah menutup PT Toba Pulp Lestari (TPL) di Pangombusan, Toba, yang ia nilai telah merusak kawasan hutan Tapanuli Raya.
“Pemerintah harus tegas menindak illegal logging dan menutup TPL yang sudah merusak hutan,” sebutnya.
Desakan ini muncul di tengah beredarnya video banjir bandang yang memperlihatkan bongkahan kayu besar terseret arus. Publik menduga kayu-kayu tersebut merupakan hasil pemanfaatan hutan secara ilegal dan tidak terkendali.
Gubernur Sumut Bobby Nasution sebelumnya menyatakan siap menandatangani surat rekomendasi penutupan TPL pada Senin pekan depan, sebuah langkah yang disebut-sebut dapat menjadi titik balik pengelolaan hutan di Tapanuli.
Bagi Victor, pemulihan alam harus menjadi gerakan kolektif. Menanam kembali pohon dan membangun hutan lindung adalah tugas bersama agar generasi mendatang tidak terus menanggung dampak kerusakan ekologis saat ini.
HKBP telah mengirimkan tim pelayanan ke lokasi bencana untuk menyediakan layanan darurat, mulai dari dapur umum, logistik sembako, selimut, hingga perlengkapan anak.
Victor juga telah memerintahkan Praeses dan tim dari Kantor Pusat HKBP untuk menyiapkan posko layanan serta menampung pengungsi.
“Surat sudah kami kirim ke seluruh jemaat HKBP untuk membantu. Bantuan mulai berdatangan dan masih terus berjalan,” tutupnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.