Kepala Staf Presiden tepis isu intimidasi, tegaskan pemerintahan Prabowo terbuka terhadap kritik
Jenderal Dudung mengatakan tidak ada ancaman terhadap masyarakat atau organisasi sipil yang menyampaikan koreksi kepada pemerintah.
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 15 Desember 2025. (Dok. Setpres RI)
JAKARTA: Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman membantah adanya intimidasi maupun tekanan dari pemerintah atau aparat penegak hukum terhadap masyarakat dan organisasi sipil yang kritis terhadap pemerintah.
Ia menegaskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terbuka terhadap kritik.
Pernyataan itu disampaikan Dudung saat menjawab pertanyaan wartawan terkait hasil survei salah satu lembaga di pelataran Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (13/5).
Jenderal berbintang empat itu memastikan hingga saat ini tidak ada ancaman terhadap pihak yang menyampaikan koreksi kepada pemerintah.
“Bapak Presiden mau setiap saat minta masukan. Beliau menyampaikan: kita harus berani bicara, kita harus berani berpendapat, tetapi kita harus berani mendengarkan pendapat orang lain,” kata Dudung menyampaikan sikap Presiden Prabowo, dikutip dari Antara.
Dudung juga mengingatkan agar tidak muncul kesan seolah-olah pemerintah melakukan intimidasi terhadap pihak yang berbeda pendapat.
“Jangan kemudian seakan-akan ada intimidasi, kalau ada intimidasi berarti juga mengeklaim bahwa pemerintah ini tidak mau dikoreksi. Janganlah dibuat-buat seperti itu,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa pemerintah, termasuk Presiden, terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak.
“Jangan kemudian dipelintir seakan-akan Presiden tidak mau menerima masukan,” tegas sosok ynag pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat itu.
KRITIK DISEBUT BAGIAN WAJAR DALAM DEMOKRASI
Menurut Dudung, dinamika berupa kritik hingga perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi, baik di ruang publik maupun media sosial.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan hati nurani serta tidak mudah terpecah oleh isu yang tidak benar.
Dudung menambahkan, Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan telah menegaskan dirinya tidak antikritik dan siap mengoreksi diri apabila menerima masukan.
Dalam pidatonya pada Puncak Perayaan Natal awal 2026, Prabowo menyebut kritik sebagai bentuk bantuan.
“Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan,” kata Prabowo.
Dudung juga mengutip pernyataan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terkait konsekuensi kepemimpinan.
“Gus Dur pernah menyampaikan bahwa sebenar apa pun yang kamu lakukan, sebaik apa pun yang kamu kerjakan, pasti ada kebencian orang lain,” pungkasnya.