Skip to main content
Iklan

Indonesia

Geger dokter muda Andito Mohammad Wibisono meninggal tertular campak di Cianjur

Kemenkes dan Dinkes Cianjur melakukan penelusuran kontak, memberi vitamin A, dan mengimbau masyarakat melengkapi vaksinasi.

Geger dokter muda Andito Mohammad Wibisono meninggal tertular campak di Cianjur

Dokter magang Andito Mohammad Wibisono (AMW) yang bertugas di RSUD Pagelaran, Cianjur, meninggal setelah tertular campak. (LinkedIn/Facebook)

CIANJUR: Kementerian Kesehatan mengonfirmasi seorang dokter magang di Cianjur meninggal dunia akibat campak setelah menjalani tugas jaga di RSUD Pagelaran.

Dokter tersebut adalah Andito Mohammad Wibisono yang diduga terpapar virus campak saat bertugas. Sebelumnya, ia disebut tetap menjalankan dinas meski telah mengalami gejala awal.

Dokter berusia 25 tahun itu diketahui baru menjalani satu bulan program internship di RSUD Pagelaran dari total enam bulan masa penugasan. Sebelumnya, almarhum telah menuntaskan tugas di Puskesmas Sukanagara, Cianjur. 

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Andi Saguni menyampaikan, berdasarkan penelusuran awal, korban kemungkinan sudah terinfeksi sebelum 18 Maret, saat gejala pertama muncul.

"Berdasarkan penelusuran, yang bersangkutan kemungkinan sudah terinfeksi sebelum tanggal 18 Maret," sorot Andi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/3) dikutip dari detikHealth.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menambahkan, sebelum meninggal dunia korban mengalami gejala klinis seperti demam, ruam merah, serta sesak napas.

Virus campak (iStock)

KRONOLOGI KONDISI MEMBURUK CEPAT BERUJUNG KEMATIAN

Pada 18 Maret, Andito mulai merasakan gejala awal berupa demam, flu, dan batuk. Ia sempat meminta izin untuk tidak berdinas dan diizinkan beristirahat.

Namun, pada 19 hingga 21 Maret 2026, ia tetap masuk kerja dan menjalani dinas selama tiga hari berturut-turut, termasuk menangani pasien campak karena merasa kondisinya masih fit.

Kondisinya terus memburuk. Pada 21 Maret mulai muncul ruam pada kulit, salah satu gejala khas campak. Meski demikian, ia masih bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menangani pasien suspek campak sebelum akhirnya mengajukan cuti.

Memasuki 24 Maret, Andito menginformasikan kepada rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp bahwa dirinya terinfeksi campak, disertai munculnya ruam di tubuh.

Kondisinya kemudian memburuk dengan cepat. Pada 25 Maret pukul 22.00 WIB, ia dibawa ke IGD rumah sakit oleh keluarga dalam kondisi penurunan kesadaran sejak satu jam sebelumnya.

Saat tiba di rumah sakit, korban mengalami akral dingin, tekanan darah 90/60 mmHg, denyut nadi 144 kali per menit, serta saturasi oksigen sangat rendah, yakni 35 persen. Setelah diberikan bantuan oksigen 15 liter per menit, saturasi hanya meningkat menjadi 50 persen.

Pada Kamis (26/3) pukul 00.30 WIB, ia dirujuk ke ruang ICU. Namun kondisi tidak membaik.

Pukul 08.15 WIB dilakukan tindakan intubasi. Beberapa jam kemudian, pukul 11.30 WIB, Andito dinyatakan meninggal dunia.

Andi menjelaskan diagnosis akhir menunjukkan campak dengan komplikasi pada jantung dan otak.

"Hasil pemeriksaan laboratorium yang keluar pada 28 Maret 2026 dari Bio Farma kemudian mengonfirmasi bahwa pasien positif campak," ungkap Andi.

Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Cianjur tengah melakukan penyelidikan epidemiologi sejak 27 Maret 2026. Langkah ini mencakup penelusuran kontak erat, pencarian sumber penularan, serta penilaian risiko.

Tim kesehatan juga telah memberikan vitamin A kepada sejumlah kontak erat sebagai langkah pencegahan.

Kemenkes mengingatkan bahwa kasus ini menunjukkan campak tidak hanya menyerang anak-anak, dan dapat berakibat fatal. Masyarakat yang belum mendapatkan vaksinasi diminta segera melengkapi imunisasi.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan