Diteror pampers, bra, dan celana dalam, ajakan damai ibu George Sugama Halim ditolak korban
Dwi Ayu Darmawati khawatir bila kasus penganiayaan ini berhenti, maka akan muncul korban lain yang kelak mengalami hal serupa dari pelaku.
JAKARTA: Dwi Ayu Darmawati (19), mantan pegawai toko roti Lindayes Patisserie & Coffee di Cakung, Jakarta Timur, menolak mentah-mentah ajakan damai dari Linda Pantjawati, ibu tersangka penganiayaan terhadap dirinya, George Sugama Halim.
Video Linda menangis memohon damai beredar viral di media sosial.
Penolakan ini ditegaskan Dwi Ayu meskipun ia sudah memaafkan tindakan George.
"Saya sudah memaafkan pelaku, tapi saya tetap ingin kasus ini terus berjalan," ucapnya dalam wawancara dengan kanal YouTube tvOne pada Senin (23/12).
Ia khawatir bila kasus ini berhenti, akan ada korban lain yang mengalami hal serupa.
Harapannya proses hukum dapat memberikan efek jera kepada pelaku.
Dwi Ayu bahkan mengaku masih mengalami trauma akibat kejadian yang memghebohkan Indonesia itu.
Ia sulit tidur dan hanya bisa terlelap saat pagi hari. Selain itu, ia sering merasa gelisah dan cemas.
Trauma ini bahkan memengaruhinya saat mencari pekerjaan baru; ia sampai memastikan bahwa tempat kerja yang dilamarnya memiliki kebijakan anti-kekerasan.
TEROR TERHADAP KELUARGA GEORGE SUGAMA HALIM
Linda Pantjawati mengungkapkan bahwa keluarganya menerima teror dari pihak tak dikenal.
Teror tersebut berupa kiriman paket tidak senonoh, seperti pampers, bra, dan celana dalam berukuran besar atas nama George Sugama Halim, serta cacian melalui telepon dari nomor misterius.
"Setiap hari saya diteror, ditelepon, lalu dimaki-maki oleh orang yang tidak saya kenal," cerita Linda dalam tayangan kanal YouTube Intens Investigasi belum lama ini.
Padahal, lanjutnya, pihaknya sudah menyerahkan George ke polisi dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan.
Ia meminta agar kasus ini tidak melebar dan tidak ada lagi intimidasi terhadap keluarganya.
"Kami sudah menyerahkan (George) ke pihak berwajib. Jadi, saya mohon kepada netizen agar tidak menghakimi sepihak. Bijaklah dalam berkata-kata," pintanya.
Pemilik toko roti itu juga mengungkapkan bahwa George merasa sangat ketakutan berada di dalam penjara.
"Dia menangis dan gemetar, tidak mau di penjara karena di sana segalanya tidak nyaman," bebernya.
Pengacara keluarga George, Michael Pardede, menegaskan bahwa pihaknya akan mengambil langkah hukum terhadap orang-orang yang meneror Linda dan keluarganya.
"Kami akan melaporkan orang-orang yang telah melakukan teror ini. Tolonglah gunakan hati nurani," katanya dalam wawancara dengan kanal YouTube.
Michael juga memperingatkan bahwa tindakan membully dan meneror keluarga George masuk dalam kategori kejahatan siber.
"Cyber crime itu tidak main-main loh. Ini orang tua loh. Tolong dong hargain, akan dilacak semua nomor kalian ya, siap ya," tekannya.
Michael meminta agar masyarakat tidak melebar-luaskan konflik ini dan tidak mengganggu bisnis maupun keluarga George.
"Negara ini adalah negara hukum. Keluarga ini juga dilindungi oleh hukum," tutupnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.