Skip to main content
Iklan

Indonesia

Diplomat Arya Daru Pangayunan bunuh diri, Kemlu tegaskan punya layanan konseling psikologis

Kementerian juga memastikan sedang memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga almarhum.

Diplomat Arya Daru Pangayunan bunuh diri, Kemlu tegaskan punya layanan konseling psikologis
Diplomat Arya Daru Pangayunan (X)

JAKARTA: Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan bahwa pihaknya telah menyediakan layanan konseling psikologi dan psikiatri bagi seluruh staf Kemlu yang membutuhkan.

Pernyataan ini disampaikan menyusul hasil penyelidikan polisi terkait kematian diplomat muda Arya Daru Pangayunan (ADP), yang disimpulkan sebagai bunuh diri karena mati lemas.

"Secara umum, Kemlu juga selama ini memberikan berbagai dukungan kepada seluruh staf dan keluarga Kemlu yang membutuhkan, termasuk layanan konseling psikologi dan psikiatri," tulis Kemlu dalam pernyataan resmi, Rabu (30/7).

Kemlu menegaskan bahwa layanan in-house ini telah lama tersedia untuk membantu staf yang terdampak secara emosional akibat aktivitas atau penugasan dinas, termasuk mereka yang menghadapi tekanan atau situasi krisis.

"Kepergian Alm. ADP meninggalkan duka mendalam bagi Kemlu. Almarhum dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah, rekan kerja yang berdedikasi, serta senior yang mengayomi," tulis pernyataan itu.

Kementerian juga menambahkan bahwa dampak emosional dari kepergian Arya Daru dirasakan luas oleh rekan kerja dan keluarga besar Kemlu, dan karena itu, pendampingan psikologis juga diberikan kepada keluarga almarhum.

ARYA KESULITAN MENGEKSPRESIKAN EMOSI NEGATIF

Ketua Umum Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Nathanael E. J. Sumampouw, menyampaikan bahwa Arya Daru dikenal sebagai pribadi yang berkarakter positif, bertanggung jawab, sportif terhadap rekan kerja, pekerja keras, sangat diandalkan, dan peduli terhadap lingkungannya.

Namun, di balik citra positif tersebut, pria yang akrab dipanggil Daru itu disebut mengalami kesulitan mengekspresikan emosi negatif, terutama saat menghadapi tekanan intens.

"Almarhum berusaha menginternalisasi berbagai emosi negatif dan tidak menunjukkannya di depan orang lain," ujar Nathanael.

Menurutnya, tekanan emosional tersebut dihayati secara mendalam oleh Daru hingga memengaruhi cara pandangnya terhadap diri sendiri, lingkungan, dan masa depan.

Nathanael menyebut bahwa di masa-masa akhir hidupnya, almarhum tengah menjalankan peran strategis dalam melindungi WNI di luar negeri yang berada dalam kondisi krisis. Tugas ini, menurutnya, menuntut empati tinggi, sensitivitas sosial, serta ketahanan psikologis yang luar biasa.

“Peran ini tentu menimbulkan dampak seperti burnout, compassion fatigue, atau kelelahan kepedulian karena terus menerus terpapar penderitaan dan trauma,” pungkas Nathanael.

Tim forensik juga menemukan adanya riwayat pencarian layanan kesehatan mental secara daring yang dilakukan Arya Daru, menunjukkan bahwa ia sempat berusaha mendapatkan bantuan meski tak menunjukkan kondisinya kepada orang sekitar.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan