Skip to main content
Iklan

Indonesia

Diduga terpengaruh medsos, pelaku peledakan SMAN 72 bawa 7 peledak, ledakkan 4

Pelaku yang merupakan siswa kelas 12 diduga merakit bom berbahan baterai.

Diduga terpengaruh medsos, pelaku peledakan SMAN 72 bawa 7 peledak, ledakkan 4
Seorang siswa yang terluka terbaring di atas tandu di Rumah Sakit Islam Jakarta setelah terjadi ledakan saat salat Jumat di sebuah masjid yang berada di dalam kompleks SMAN 72, Kelapa Gading, Jakarta pada 7 November 2025. (Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana)
10 Nov 2025 11:14AM (Diperbarui: 19 Nov 2025 09:21AM)

JAKARTA: Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap fakta baru terkait insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, yang terjadi pada 7 November lalu.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa hasil olah tempat kejadian perkara menunjukkan ada tujuh peledak yang dibawa oleh terduga pelaku berinisial MNFH alias F, siswa kelas 12 di sekolah tersebut.

“Benar, ada tujuh peledak,” ujar Mayndra kepada CNN Indonesia, Minggu (9/11). 

Pelaku diduga merakit bom berbahan baterai dan meledakkannya ketika salat Jumat sedang berlangsung di masjid sekolah mengakibatkan 96 orang terluka.

Empat dari tujuh peledak tersebut diketahui meledak di dua lokasi berbeda, sedangkan tiga lainnya belum digunakan dan sudah diamankan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. 

Sebanyak 29 korban masih dirawat di beberapa rumah sakit, seperti RS Islam Cempaka Putih, RS Yarsi, dan RS Pertamina. Sementara 67 korban lainnya sudah diperbolehkan pulang. 

Terduga pelaku kini telah dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, setelah sebelumnya menjalani operasi di bagian kepala di RS Islam Cempaka Putih.

POLISI DALAMI PERAKITAN BOM

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa kepolisian masih mendalami identitas, latar belakang, serta lingkungan tempat tinggal pelaku. 

“Kami sedang mendalami motif bagaimana yang bersangkutan merakit dan melaksanakan aksinya. Semua akan dijelaskan setelah seluruh hasil penyelidikan dan penyidikan lengkap,” ujar Listyo.

Polisi menemukan sejumlah barang bukti penting, di antaranya sepucuk surat tulisan tangan pelaku serta serbuk yang diduga menjadi bahan pembuat peledak. Selain itu, hasil penggeledahan di rumah pelaku menunjukkan kecocokan antara barang bukti di lokasi kejadian dengan yang ditemukan di kediamannya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah, menyatakan kepada Metro TV bahwa aksi pelaku diduga dipicu oleh pengaruh konten ekstrem di media sosial, bukan karena perundungan seperti yang sempat diberitakan sebelumnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan