Skip to main content
Iklan

Indonesia

Diaspora tak wajib pulang kampung, kata Menteri Rosan: Bisa berkontribusi dari mana saja

Diaspora Indonesia menurut Rosan bisa berkarya dari manapun, asalkan tetap memiliki semangat untuk memberi timbal balik kepada Indonesia.

Diaspora tak wajib pulang kampung, kata Menteri Rosan: Bisa berkontribusi dari mana saja
Lebih dari tujuh juta orang menjadi bagian dari diaspora Indonesia. (Foto: CNA/Danang Wisanggeni)

JAKARTA: CEO Badan Pengelola Investasi Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan P. Roeslani, menyampaikan pandangan tegas bahwa diaspora Indonesia tak harus kembali ke Tanah Air untuk bisa berkontribusi nyata.

Menurutnya, warga Indonesia yang menempuh pendidikan dan bekerja di luar negeri tetap bisa memberi manfaat besar bagi bangsa, bahkan tanpa harus pulang secara fisik.

Hal ini disampaikan Rosan dalam acara Meet the Leader yang digelar di Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (13/6).

Pernyataan tersebut muncul sebagai tanggapan atas pertanyaan dari seorang diaspora Indonesia lulusan teknik yang kini tinggal di Jerman. Ia bertanya, apakah sebaiknya pulang ke Indonesia untuk membangun karier atau tetap di luar negeri untuk mencari pengalaman profesional.

Rosan menjawab dengan lugas bahwa diaspora Indonesia bisa berkarya dari manapun, asalkan tetap memiliki semangat untuk memberi timbal balik kepada Indonesia.

“Banyak yang bilang kalau sudah selesai studi, harus langsung pulang. Tapi menurut saya, tidak harus,” ujarnya dilansir Kompas.com. 

BELAJAR DARI DIASPORA INDIA: CEO DI MANA-MANA

Rosan mengaku terinspirasi dari diaspora India yang kini menduduki posisi strategis di perusahaan global.

Ia menyebut, banyak dari mereka berhasil menjadi CEO di perusahaan-perusahaan besar seperti Apple, Tesla, Apollo Global Management, BlackRock, bahkan World Bank dan IMF.

“Saya ketemu Elon Musk, di kiri-kanannya orang India. Saya ketemu dengan jajaran petinggi di BlackRock, Apollo—juga orang India. Mereka sukses di luar, tapi tetap berdampak besar untuk negaranya,” ungkapnya.

Menurut menteri berusia 56 tahun itu, para diaspora India ini justru mampu memberi kontribusi luar biasa ke tanah kelahirannya. Mulai dari merekrut tenaga kerja dari India, membeli rantai pasok (value chain) dari sana, hingga mendirikan pabrik dan program CSR yang menguntungkan negara asal mereka.

“Dengan menjadi CEO, mereka bisa memutuskan produksi di India. Bisa rekrut orang India. Bahkan program sosial mereka pun diarahkan ke negara asal. Itu kontribusi riil,” jelas Rosan.

Rosan menekankan bahwa yang penting bukan lokasi bekerja, tetapi dampak nyata bagi Indonesia. Ia mendorong diaspora untuk mengejar posisi tertinggi di luar negeri sembari tetap menjaga koneksi dan kontribusi terhadap Tanah Air, baik lewat transfer teknologi, investasi, maupun penciptaan lapangan kerja.

“Bisa kontribusi lewat teknologi, rekrutmen SDM, beli barang dari Indonesia, dan investasi ke sini. Banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus pulang,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Rosan menegaskan bahwa pulang atau tidak adalah pilihan pribadi, dan setiap orang memiliki pandangan yang sah dalam negara demokrasi.

“Kalau punya kesempatan dan merasa bisa kontribusi dari mana saja, why not? Kita juga tetap bisa bangga. Ini opini saya, bisa saja ada yang tidak setuju, tapi itulah demokrasi,” tutupnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan