Skip to main content
Iklan

Indonesia

AS dan China melakukan de-risking, begini cara India dan Indonesia menangguk untung

india-indonesia_2
Presiden RI Joko Widodo (kanan) membantu mengisi daya mobil listrik saat peluncuran stasiun pengisian kendaraan listrik umum pertama di Nusa Dua, Bali, pada Maret 2022. (Berkas Foto: Sonny Tumbelaka/AFP)

MUMBAI dan JAKARTA: Tahun lalu, India punya banyak hal untuk dirayakan. Apple membuka pusat penjualannya yang pertama di negara tersebut dan juga memindahkan sebagian pabriknya di China ke India. Kemudian, perusahaan lain banyak mengikuti langkahnya.

Micron Technology asal Amerika Serikat (AS) sepakat untuk membangun fasilitas semikonduktor senilai US$2,75 miliar (Rp43 miliar) di negara bagian Gujarat. Micron menghabiskan hingga US$825 juta untuk mendirikan fasilitas tersebut dan India mendanai sisanya.

Applied Materials asal AS mengumumkan akan membangun pusat rekayasa kolaboratif di Bengaluru, dengan investasi sebesar US$400 juta. Selain itu, perusahaan semikonduktor, Lam Research, akan mulai menjalankan program pelatihannya yang akan diikuti oleh 60.000 teknisi India.

Foxconn, produsen kontrak elektronik terbesar di dunia asal Taiwan, menyampaikan bahwa mereka akan memperbanyak jumlah tenaga kerja dan investasinya di India pada tahun ini.

Banyak yang merasa bahwa India saat ini naik daun karena AS dan China sedang berupaya melakukan pengurangan risiko (de-risking), misalnya, dengan mengurangi tingkat ketergantungannya pada satu negara.

Dengan melakukan pengurangan risiko, rantai pasokan global menjadi berubah di beberapa wilayah. Salah satunya, India; selain itu, Asia Tenggara, seperti Indonesia, di mana industrinya berubah dengan begitu pesat.

"Saat ini, India berada di posisi yang ideal karena geopolitik dan kebijakan dalam negerinya" kata Jivanta Schoettli, Lektor Politik India dan Kebijakan Luar Negeri di Dublin City University.

Karena seluruh penjuru dunia berupaya mengurangi risiko bisnisnya, program siaran CNA bertajuk When Titans Clash ingin mengetahui bagaimana masing-masing negara dengan ekonomi terbesar di anak benua dan di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) memperoleh keuntungan dari situasi ini.

MERAYU INDIA

Di India, kisah Apple "mungkin mengejutkan banyak orang", menurut Schoettli.

"Ada cukup banyak keraguan perihal ... apakah India sebenarnya (mampu) memberikan keterampilan (yang) diperlukan, tenaga kerja, lahan, lokasi, logistik," jelasnya. "Tapi entah bagaimana, semua ini terpenuhi.

"Saya rasa sekarang perkiraannya, Apple akan mendapatkan 15 persen dari (pertumbuhan) pendapatannya dan 20 persen dari (pertumbuhan penggunanya) selama lima tahun ke depan (dari India).”
 
Selama ini, penciptaan lapangan kerja di India telah menjadi "masalah yang besar", kata Sinderpal Singh, rekan senior di S Rajaratnam School of International Studies, yang juga menjabat sebagai asisten direktur Institute of Defence and Strategic Studies di sekolah tersebut.

Dr Sinderpal Singh, akademisi S Rajaratnam School of International Studies di Nanyang Technological University.

Perdana Menteri India Narendra Modi meluncurkan kampanye "Make in India" pada tahun 2014, akan tetapi baru dalam dua tahun terakhir kepala eksekutif dan pemerintah mulai memperhatikannya.

"Sangat sulit untuk mengabaikan latar belakang geopolitiknya," kata Singh. "India sudah beranjak dewasa. Dan beberapa orang merasa, ini situasi zero-sum game (menang-kalah) — di saat China merugi, India malah beruntung."

Negara-negara Barat sedang berupaya mendekati India meski PM Modi belum bersedia berpaling dari Rusia, negara penyuplai minyak utama bagi India dan memiliki perdagangan bilateral yang terus tumbuh seiring berlanjutnya konflik di Ukraina. 

Tahun lalu, di Gedung Putih, AS dan India menandatangani kerja sama di bidang pertahanan, eksplorasi ruang angkasa, dan manufaktur semikonduktor.

Perdana Menteri India Narendra Modi disambut dengan kemegahan dan upacara yang diadakan di Gedung Putih pada Juni lalu. (Gambar: Associated Press)

Salah satu perjanjiannya membolehkan penjualan drone SeaGuardian MQ-9B bersenjata buatan Amerika ke India. Selain itu, perjanjiannya juga mengizinkan General Electric asal AS untuk berkolaborasi dengan Hindustan Aeronautics untuk memproduksi mesin jet untuk pesawat India.

India juga menandatangani Artemis Accords, sebuah cetak biru kerja sama di bidang eksplorasi ruang angkasa di antara negara-negara yang ikut serta dalam rencana eksplorasi bulan yang dipimpin oleh Amerika.

Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) dan Organisasi Penelitian Luar Angkasa India (ISRO) juga sepakat untuk membuat misi bersama ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tahun ini.

Selama India melakukan pertemuan diplomatiknya, termasuk dengan Perancis, hanya sedikit yang menyinggung kemunduran India perihal kebebasan beragama dan pers. Di bawah pemerintahan Modi, kejahatan kebencian terhadap agama telah meningkat, di antaranya yang tercatat adalah beberapa pembunuhan terhadap warga Muslim oleh warga.

Modi menjadi tamu kehormatan di parade tahunan Hari Bastille di Perancis, Juli lalu, atas undangan dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Gambar: AP)

"Pemerintah Amerika memahami betapa pentingnya merawat hubungan dengan India secara strategis," kata Singh. "Apalagi sekarang dengan (Presiden Joe) Biden, India menjadi sangat penting sekali sehingga mereka berusaha menghindari menyinggung ... masalah-masalah ini.”

Namun, geopolitik bukan satu-satunya faktor di balik keputusan yang diambil beberapa perusahaan baru-baru ini. China memiliki populasi yang menua, di mana lebih dari 30 persen penduduknya akan menginjak usia di atas 60 tahun pada tahun 2035.

Di sisi lain, India menyalip China setahun yang lalu sebagai negara dengan populasi terbanyak di dunia, lebih dari setengah penduduknya yang mencapai 1.4 miliar berusia di bawah 30 tahun.

"Bukan hanya tentang produksi barang ekspor, tapi juga tentang potensi pasarnya yang sangat besar. Selain itu, daya tarik yang kuat datang dari kelas menengah yang kian sejahtera, atau belum sepenuhnya sejahtera, namun masih bisa dianggap sebagai kelas yang punya kekuatan daya beli," kata Schoettli.

Dr Jivanta Schoettli dari Dublin City University sebelumnya adalah peneliti tamu di Institute of South Asian Studies di Singapura.

HAMBATAN DAN TANTANGAN

India memang mengalami hambatan produksi tapi sekarang negara tersebut sedang mencoba menyelesaikannya dengan merampingkan pelaksanaan proyek infrastruktur di seluruh negerinya.

Jaringan jalan bebas hambatan nasional, misalnya, akan diperluas, begitu juga dengan kapasitas jalur kereta api untuk mengangkut kargo serta jaringan transmisi listrik untuk memudahkan konsumen mengakses daya listrik.

Rencana infrastruktur tersebut mencakup pembangunan sekitar 200 bandara baru, pangkalan helikopter, dan bandar udara air guna meningkatkan pelayanan penerbangan serta 20 pabrik pengolahan makanan, 11 koridor industri, dan dua koridor pertahanan baru di Tamil Nadu dan Uttar Pradesh.

Seperti negara lainnya, India juga menawarkan subsidi dan memfasilitasi perdagangan. India telah menyiapkan skema insentif terkait produksi untuk sektor-sektor seperti pembuatan modul fotovoltaik surya dan baterai yang lebih canggih.

Meski begitu, kementerian di India "cukup terbuka" mengenai tantangan yang dihadapinya saat ini, mulai dari masalah keandalan pasokan listrik, hingga masalah logistik dan regulasi, yang mungkin "sangat diketahui" oleh investor asing, kata Schoettli.

"Jika Anda memutuskan untuk datang ke India dan melakukan investasi, Anda mungkin datang dengan prasangka ... bahwa (di sana) akan ada banyak hambatan," katanya.

Saya rasa semoga saja, ada kejutan gembira bahwa pemerintah sedang berusaha cukup keras untuk mengatasinya.”

Bagi perusahaan yang hendak memindahkan rantai pasokan dari China ke India, mereka akan menghadapi beberapa tantangan, termasuk kurangnya tenaga kerja terampil. Kendati India memiliki tenaga kerja dengan upah yang lebih murah dan dengan jumlah yang melimpah, kualitas tenaga kerjanya masih perlu ditingkatkan kembali.

India terus mengalami kenaikan tingkat kemiskinan dan kekurangan gizi, dengan hampir 12 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem menurut standar Bank Dunia. Di China sendiri, tingkat kemiskinan yang sama hampir nol.

Daerah kumuh di India

Perihal tenaga kerja di bidang teknologi, China dilaporkan telah meluluskan hampir dua kali lebih banyak mahasiswa dari bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika dibandingkan dengan India. Pemerintah Beijing juga secara signifikan lebih banyak berinvestasi dalam bidang penelitian dan pengembangan serta industri seperti robotika, kecerdasan buatan, dan bioteknologi.

Karena alasan ini, Anthony Saich, direktur Rajawali Foundation Institute for Asia dan profesor Daewoo Hubungan Internasional di Harvard Kennedy School, menganggap "sangat sulit" untuk memindahkan industri dari China.

Sebagai contoh, dia mengambil kasus Foxconn, pemasok barang untuk Apple, yang memiliki sekitar 200.000 pekerja di pabriknya di Zhengzhou, Provinsi Henan.

"Jalan, jembatan yang dibangun oleh pemerintah China, asrama yang didirikan oleh pemerintah China — sulit rasanya membayangkan negara lain akan mampu menyediakan infrastruktur semacam itu untuk perusahaan sebesar itu," kata Saich.

"(Apple) benar-benar tidak bisa keluar dari China, terlepas dari masalah politik yang lebih besar. ... Rantai nilai, rantai pasokan diintegrasikan ke dalam model global, jadi Anda tidak bisa begitu saja mengabaikannya dan bilang, ' ... Kita pindah saja ke India.’” 

Profesor Anthony Saich dari Harvard Kennedy School, dalam program siaran CNA bertajuk When Titans Clash.

PERTAMBANGAN NIKEL DI INDONESIA

Bagi Asia Tenggara, sistem perdagangan multilateral terbuka sangatlah menguntungkan.

Di tahun 1980-an, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita di kawasan tersebut sebanding dengan PDB per kapita di Afrika sub-Sahara. Saat ini, PDB Asia Tenggara 3,5 kali lebih tinggi daripada Afrika sub-Sahara, menurut Victor Stolzenburg, ekonom riset dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Asia Tenggara mampu berintegrasi dengan seluruh dunia karena kebijakan perdagangan terbukanya dan berada di wilayah yang ideal pada peta.”

Namun pengurangan risiko (de-risking), dalam bentuk diversifikasi rantai pasokan, juga bisa mendatangkan investasi.

Salah satu sentra produksi nikel terbesar di kawasan ini, jika bukan yang terbesar, adalah Kawasan Industri Morowali Indonesia (IMIP) di Sulawesi. Di sini, lampu sorot tetap menyala sepanjang malam, dan lebih dari 40.000 pekerja menjalankan kegiatan operasinya di lokasi tersebut sepanjang waktu.

Kawasan Industri Morowali Indonesia (IMIP) pada malam hari.

Kawasan ini mencakup hampir 4.000 hektar. Butuh waktu 45 menit untuk berkendara dari ujung ke ujung. Tempat ini memiliki pembangkit listrik, pelabuhan, dan bahkan bandara sendiri.

11 tahun yang lalu, tanah itu dulunya merupakan hutan hujan lebat dan rumah bagi sekitar 3.000 penduduk desa. Investasi China, dipimpin oleh Tsingshan Holding Group, perusahaan baja tahan karat raksasa, memainkan peran yang sangat besar dalam mengubah hutan menjadi pabrik.

Eksportir nikel Hamid Mina memasok bijih tersebut ke China ketika perusahaannya, bekerja sama dengan Tsingshan, mulai membangun pabrik pengolahan nikel pertama pada tahun 2013.

"Tsingshan bilang, 'Kami pandai bangun pabrik dan menjalankan produksi. Kami pandai di situ. Kamu orang Indonesia, kamu tahu aturan dan undang-undang di Indonesia, semuanya.' Jadi kami berbagi tugas," ingat Hamid, yang sekarang menjabat sebagai direktur pelaksana di IMIP. "Mereka punya teknologinya, jadinya kami kerja sama.”

Hamid Mina, direktur pelaksana di IMIP, bertempat tinggal di Jakarta, tempat dia memantau bisnisnya yang bernilai miliaran dolar di Morowali dengan memasang berbagai kamera.

Nikel, material yang telah lama digunakan dalam pembuatan baja yang tahan karat, kini menjadi komponen penting dalam pembuatan baterai lithium-ion pada kendaraan listrik.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa di tahun 2040, teknologi energi bersih akan menyumbang hingga 70 persen dari total permintaan nikel.

Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dan merupakan penambang nikel terbesar, mengekstraksi hampir setengah dari pasokan nikel di dunia. Sementara China, mereka memiliki beberapa perusahaan baterai dan teknologi ramah lingkungan terbesar di dunia.

Pada intinya, IMIP beroperasi untuk mencairkan dan memurnikan nikel dalam skala yang sangat besar. Dan operasi tersebut menyumbang kontribusi pada upaya China yang ingin mendiversifikasi sumber bahan bakunya yang dapat mendorong pertumbuhan ekonominya.

Kawasan Industri Morowali Indonesia (IMIP) pada siang hari.

AMBISI KENDARAAN LISTRIK

Namun, pertumbuhan di Morowali tidak hanya didorong oleh pertumbuhan global dalam industri kendaraan listrik (EV) dan baterai.

Ada larangan ekspor bijih nikel Indonesia sejak tahun 2020 dan langkah ini dikritik oleh Uni Eropa (EU), WTO, dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Namun, larangan tersebut mendorong investor asing untuk mendirikan pabrik peleburan di negara tersebut, menambah nilai ekspor logamnya dan menciptakan lapangan kerja. Di tahun 2014, ekspor bijih nikel Indonesia bernilai US$1,1 miliar; di tahun 2022, ekspor produk nikel mencapai US$34 miliar.

"Soalnya, angka penggandanya (multiplier) sangatlah besar," kata Septian Hario Seto, Wakil Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Septian Hario Seto adalah Wakil Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia

Saat ini, berbagai perusahaan di Morowali berkolaborasi untuk memproduksi ‘emasnya’ abad ke-21 — dengan jumlah investasi mendekati US$5 miliar hingga US$6 miliar dan "sekarang masuk setiap tahunnya", kata Hamid.

"Kami menyambut siapa saja," imbuhnya. "Kami tidak ambil pusing (apakah) Anda dari Barat atau dari Timur. Kami hanya mau berbisnis. Tanpa sangkut paut politik.”

Supaya rantai nilai dapat meningkat lebih jauh, maka Indonesia menciptakan "ekosistem" EV dan baterai lithium, kata Septian.

Di tahun 2022, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan EV pertama yang dirakit di Indonesia, buatan Hyundai. Perusahaan ini bekerja sama dengan dua perusahaan Korea Selatan untuk merakit baterai EV di Indonesia.

Tahun lalu, saat Jokowi berkunjung ke Australia, kedua negara menandatangani kesepakatan kerja sama dalam penambangan litium dan nikel guna memproduksi baterai EV. Hal ini sekaligus menyoroti kerja sama strategis di bidang ini sebagai prioritas antara kedua negara.

BYD saat ini sedang mendirikan tokonya di Indonesia, diikuti oleh produsen EV lainnya yang berasal dari China, Wuling. Sementara itu, perusahaan asal AS, Tesla, melanjutkan negosiasi investasinya dengan pemerintah Indonesia.

Dalam waktu dekat, perusahaan China akan mengolah nikel di Indonesia. Kemudian, baterai EV akan dirakit oleh perusahaan Korea Selatan dan mungkin juga perusahaan Australia di sana. Sementara itu, mobil buatan Indonesia akan diproduksi oleh pabrikan asal Amerika dan China.

Ketika dunia sedang menghadapi ketegangan situasi geopolitik, Jakarta memandang kemitraan global sebagai langkah maju menuju masa depan.

"Kita harus menghindari konsentrasi rantai pasokan (di tangan) satu pihak. Tapi saya pikir, upaya mendiversifikasi rantai pasokan, ... kita tidak bisa bilang, 'Oh, saya tak mau China," kata Septian.

"Negara-negara Barat akan tertinggal 10 hingga 15 tahun dengan ... teknologi China perihal pengolahan nikel, sehingga kami tidak bisa mengecualikannya.

"Kita dapat bekerja sama dalam hubungan yang saling menguntungkan bagi semua pihak, karena ... tidak ada satu negara pun, bahkan tidak ada satu wilayah pun, yang mampu memenuhi semua kebutuhan mineral yang penting untuk mendorong transisi energi ini.”

Untuk Asia Tenggara, prospeknya "tetap sangat positif" karena kawasan tersebut "terus memegang peranan penting dalam sistem perdagangan multilateral yang kita miliki", kata Stolzenburg.

IMF baru-baru ini memperkirakan bahwa ASEAN "akan terus melampaui rata-rata dunia sebanyak 1,5 kali lipat." Dalam perdagangan, misalnya, kawasan ini melampaui rata-rata global sebanyak lima kali lipat pada tahun 2022.

"Titik awalnya ... sangatlah positif," kata Stolzenburg. "Tentu saja, ada risiko penurunan. Sejauh ini, tampaknya negara-negara ASEAN ... dapat menanganinya dengan baik.”

Dia menerangkan, bagaimanapun juga, pandangan positif bergantung pada faktor ini: bahwa negara ASEAN tidak dipaksa untuk memihak.

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan