'Bun, kantor aku meledak': Kesaksian korban kebakaran Terra Drone yang menewaskan 22 orang
Ledakan, asap kimia, dan jeritan panik tiba-tiba terjadi di dalam gedung setinggi 6 lantai itu. Para saksi dan korban selamat mengungkap detik-detik mereka melawan panik berjuang menyelamatkan diri.
Kebakaran di gedung Terra Drone, Jakarta Pusat pada 9 Desember 2025 (Foto: EPA/Mast Irham)
JAKARTA: Siang yang seharusnya berjalan tenang di kawasan Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat berubah menjadi situasi genting ketika Gedung Terra Drone dilanda kebakaran hebat pada Selasa (9/12).
Peristiwa itu menelan 22 korban jiwa dan menyisakan puluhan orang yang harus menyelamatkan diri di tengah asap tebal, ledakan, serta akses keluar yang sangat terbatas.
Seorang ibu bernama Dea menerima telepon panik dari anaknya pada pukul 12 siang, tepat ketika kebakaran mulai menjalar. Telepon itu hanya berlangsung singkat.
"Anak saya sekitar jam 12 telepon saya, 'Bun, kantor aku meledak, terus langsung mati', katanya. Saya lemes dong," ucap perempuan berusia 52 tahun yang langsung mendatangi lokasi kejadian usai menerima telepon itu.
Meskipun sempat diliputi ketakutan, Dea bersyukur anaknya termasuk korban selamat. Menurut cerita sang anak yang berada di lantai 3, hanya hitungan detik setelah asap menyelimuti bangunan, terdengar suara ledakan besar.
"Iya meledak aja pas bunyi 'bum' gitu. Dia langsung sigap ke bawah," tutur Dea, menurut laporan Detik.
Namun, tidak semua karyawan di lantai 3 selamat. "Ternyata di lantai 3 tuh meninggal semua. Sampai bosnya dia juga," ucapnya.
Kesaksian lain datang dari seorang petugas keamanan bernama Rian yang juga mendengar suara ledakan keras sesaat sebelum api menyebar.
Ia menuturkan bahwa titik api pertama kali muncul di lantai 1, lalu menyambar ke barang barang di sekitarnya.
"[Ledakan] Kencang," ucapnya kepada CNN Indonesia.
"Kebakar sama kardus-kardus kan. Nah, jadi apinya, asapnya juga banyak," kata Rian.
Di lantai 5, Dimitri, salah satu karyawan yang selamat, juga merasakan ledakan yang sama. Saat asap dari lantai 2 dan 3 menebal, ia dan rekan-rekannya tidak punya pilihan selain naik ke rooftop dan menunggu evakuasi.
"Saya sedang di lantai 5, kami sedang loading. Asap di lantai 2 dan 3 sudah banyak, kita langsung lari ke rooftop untuk menyelamatkan diri," katanya, dikutip dari Grid.
Ia meyakini bahwa titik awal kebakaran berasal dari area penyimpanan dan pengujian baterai di lantai dasar.
"Dugaan sementara karena korsleting atau kegagalan termal pada baterai drone, lalu memicu ledakan dan kebakaran," ungkapnya.
Wandi, seorang tukang parkir berusia 51 tahun, turut menjadi saksi bagaimana situasi dalam gedung berubah cepat ketika asap memenuhi lantai bawah. Ia melihat para karyawan berhamburan naik ke lantai atas karena jalur penyelamatan di lantai dasar tertutup asap.
"Karyawan, iya, semua. Jalan keluarnya tertutup semua itu. Kemungkinan kayaknya seperti itu ya. Soalnya, yang pertama kebakaran kan di bawah, mereka nggak bisa lari," ujar Wandi, dikutip dari Detik.
Dia mengatakan aroma asap kimia menyeruak hingga ke luar gedung. Menurutnya, bau tersebut mirip bau baterai yang terbakar.
"Asapnya kimia, baunya juga sudah nggak enak. Sudah agak bau kimia juga, baterai. Banyak. Dia kan drone, pusat drone, sekali nggak lama, kalau ada 15 menit, langsung besar," kata Wandi.
Ia juga mengingat momen ketika melihat para karyawan berkumpul di bagian atas gedung sambil meminta pertolongan.
"Sudah pada ngumpul di atas. Mereka pada melambaikan tangan minta tolong. Wah, berarti ada orang, masih ada orang di atas," tambahnya.
Warga sekitar juga mengalami kepanikan. Seorang perempuan bernama Ani mengatakan sempat terjadi mati listrik sebelum terdengar teriakan dari dalam gedung.
"Tadi tiba tiba lampu mati, lalu ada orang ramai minta tolong. 'Tolong tolong' begitu ramai jerit jerit," ujar perempuan berusia 53 tahun itu kepada Grid.
Pihak kepolisian sementara menduga sumber api berasal dari baterai drone yang berada di lantai dasar, namun penyelidikan lebih rinci masih berlangsung.
"Kalau dari keterangan tadi, memang sementara baru karena baterai ya, baterai dari drone yang terbakar. Namun sebabnya terbakar, saat ini tim labfor masih bekerja," ujar Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, dikutip dari CNN Indonesia.
Di tengah kobaran api, video belasan karyawan di lantai teratas menjadi viral. Rekaman itu menampilkan mereka berdiri dan bergantung di tepi gedung sambil melambai meminta pertolongan. Damkar kemudian menurunkan 19 orang melalui tangga tinggi, semuanya berhasil selamat.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra memastikan karyawan dalam video itu telah dievakuasi.
"Jadi untuk yang dalam video yang cukup viral itu, ada karyawan karyawannya yang selamat sampai dengan lantai paling atas, itu sudah diselamatkan oleh tim Damkar. Itu ada berjumlah sekitar 19 orang, selamat semua yang sampai ke atas," ucapnya.
Roby menyampaikan temuan penting lainnya setelah penyisiran forensik: gedung enam lantai itu hanya memiliki satu pintu keluar masuk dan satu lift.
"Bersih. Juga kita temukan bahwa memang masuk dan keluarnya itu hanya melalui pintu bawah di depan itu saja. Jadi satu lift, tadi juga ada satu lift kita periksa juga untungnya tidak ada korban di dalamnya," kata Roby, dikutip dari Liputan6.
Polisi telah memeriksa enam saksi yang terdiri dari empat karyawan dan dua HRD, dan akan memperluas pemeriksaan kepada pemilik gedung serta penanggung jawab perusahaan.
"Saat ini kita masih melakukan pemeriksaan. Ada 4 karyawan, 2 HRD. Itu juga nanti kita upayakan komunikasi dan memeriksa pemilik gedung atau penanggung jawab perusahaan," ujarnya.
Penyelidikan diarahkan untuk mencari kemungkinan unsur kelalaian atau pelanggaran keselamatan kerja.
"Untuk sampai dengan saat ini kita belum menemukan unsur pidananya. Kita masih menyelidiki apakah ada unsur pidana dalam kejadian kebakaran yang terjadi itu. Termasuk dengan kelalaian, apakah dari pihak operator, manajemen, atau pemilik gedung, juga kita masih melakukan penyelidikan dulu," katanya.
BPBD DKI Jakarta mencatat total 76 orang menjadi korban dalam insiden ini, dengan 54 di antaranya selamat dan 22 meninggal dunia. Tidak ditemukan korban warga negara asing.
Hingga malam hari, proses identifikasi masih berlangsung di RS Polri Kramat Jati untuk memastikan identitas seluruh korban.