Skip to main content
Iklan

Indonesia

Bullying merajalela: Bocah SD di Karawang patah tulang, kasus di Pekanbaru diduga berujung kematian

Rentetan kasus perundungan di tanah air memunculkan desakan agar pemerintah mengambil tindakan tegas.

Bullying merajalela: Bocah SD di Karawang patah tulang, kasus di Pekanbaru diduga berujung kematian
Ilustrasi korban bullying. (iStock/78image)

KARAWANG: Gelombang kasus perundungan di dunia pendidikan Indonesia tampaknya belum menemukan titik henti.

Seorang siswi kelas 6 di sebuah SD Negeri wilayah Tirtajaya, Karawang, berinisial NER, diduga menjadi korban kekerasan berat yang didalangi teman sekelasnya sendiri. 

Insiden ini bukan sekadar cekcok kecil; korban mengalami patah tulang dan trauma psikologis yang membuatnya enggan kembali ke sekolah.

Menurut ibunya, Rizka Puspitasari, 36, peristiwa itu terjadi pada 6 November 2025. 

"Iya tulang tangan kanan (patah), dilakukan tindakan op (opname), sekarang lagi pemulihan (di rumah)," cerita Rizka, dilansir Kumparan, Rabu (26/11).

Berdasarkan cerita NER, semua bermula ketika seorang siswa laki-laki memaksa meminjam kipas mini miliknya. Penolakan sederhana justru memicu aksi brutal di mana pelaku menjambak kerudung korban berulang kali sambil melontarkan makian yang menyerempet orang tua korban.

Kekerasan tidak berhenti di ruang kelas. Saat jam pulang, pelaku kembali menghadang NER. Ia menabrakkan sepeda listrik ke arah perut korban, melempar batu yang mengenai pahanya, dan bahkan meludahi wajah NER. 

Upaya korban membalas dengan meludah justru membuat anak laki-laki itu semakin agresif. Dalam upaya melarikan diri, NER terjatuh keras dan mengalami patah tulang tangan kanan hingga harus menjalani perawatan medis.

Rizka mengatakan putrinya kini masih menjalani masa pemulihan di rumah dan menunjukkan tanda-tanda trauma mendalam. Ia menuntut agar pelaku diberikan sanksi tegas karena NER kini menolak kembali bersekolah akibat rasa malu dan takut.

KASUS PERUNDUNGAN DI PEKANBARU, SATU NYAWA MELAYANG

Di Pekanbaru, seorang siswa SDN 108 berinisial MAR diberitakan Kompas.com diduga meninggal dunia akibat tindak kekerasan yang dilakukan teman sekolahnya. Kejadian ini dilaporkan orangtua korban ke Polresta Pekanbaru pada 25 November.

Kuasa hukum keluarga, Suroto, menyebut pihak sekolah menolak mengakui adanya bullying dan mengklaim korban meninggal karena penyakit bawaan seperti jantung dan reumatik. Namun keluarga tegas menyatakan MAR tidak memiliki riwayat penyakit tersebut.

Sebelum meninggal, MAR sempat mengaku kepada ibunya bahwa ia ditendang di bagian kepala saat kegiatan belajar kelompok. Dugaan sementara, kejadian itu menyebabkan kerusakan otak hingga akhirnya korban meninggal dunia. 

Suroto menambahkan, pihaknya memiliki saksi yang siap bersaksi, termasuk anak lain yang diduga juga menjadi korban pelaku yang sama. Insiden kekerasan itu terjadi pada 13 November.

Tidak berhenti di situ, MAR juga disebut pernah mengalami perundungan pada Oktober. Ia kerap dipukul di bagian dada dan sempat dirawat selama seminggu di RS PMC Pekanbaru.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan