Gunung Bromo ditutup mulai 6 April, ini alasan dan jadwal buka kembali
Selama penutupan, TNBTS akan fokus pembersihan kawasan, sosialisasi Jalur Lingkar Kaldera Tengger, serta pelatihan bagi pelaku jasa wisata seperti jip dan kuda.
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (iStock)
SURABAYA: Kawasan wisata Gunung Bromo ditutup sementara usai lonjakan kunjungan libur Lebaran, memberi waktu bagi ekosistem untuk pulih dari tekanan aktivitas wisata.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) resmi menutup sementara kawasan wisata Gunung Bromo mulai Senin (6/4) pukul 09.00 WIB hingga Minggu (12/4) pukul 10.00 WIB.
Lonjakan kunjungan wisatawan pada periode tersebut menyebabkan sejumlah kerusakan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kerusakan yang terjadi meliputi vegetasi seperti rerumputan yang terlindas kendaraan, pencemaran sampah dari aktivitas wisata, hingga peningkatan polusi udara di kawasan.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menyampaikan bahwa penutupan ini bertujuan memberikan waktu bagi alam untuk melakukan proses pemulihan.
“Kalau yang ini memang kita untuk pemulihan ekosistem. Alam itu sama seperti manusia, butuh waktu untuk beristirahat dan memulihkan dirinya. Tidak mungkin digunakan terus-menerus tanpa jeda,” ujar Rudijanta, diwartakan Kompas.com, Senin (6/4).
Proses pemulihan tersebut mencakup ruang bagi pertumbuhan vegetasi, ketenangan aktivitas satwa liar, hingga perbaikan struktur porositas pasir di kawasan kaldera.
Rudijanta menekankan aktivitas kendaraan dan wisatawan yang berlangsung secara masif setiap hari dapat menghambat proses alami tersebut.
Penutupan ini sengaja dilakukan setelah masa puncak kunjungan libur Lebaran dan Paskah berakhir.
Pihak TNBTS menilai tren kunjungan mulai menurun setelah periode peak season, sehingga dampak ekonomi terhadap sektor pariwisata relatif terbatas.
Kebijakan ini juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi penutupan kawasan yang sempat terhenti selama pandemi COVID-19.
Ketua Tim Departemen Humas Balai Besar TNBTS, Hendra Wisantara, menyebut penutupan ini memberi kesempatan bagi alam untuk “bernapas”
“Sekaligus ruang bagi kita semua untuk memperkuat komitmen dalam pengelolaan kawasan yang lebih berkelanjutan,” kata Hendra.
Selama masa penutupan, pengelola juga akan memperkuat kolaborasi dengan pelaku jasa wisata.
Langkah yang dilakukan meliputi kegiatan pembersihan kawasan, sosialisasi Jalur Lingkar Kaldera Tengger, serta pelatihan bagi pelaku jasa transportasi seperti jip dan kuda.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.