Skip to main content
Iklan

Indonesia

Ramai soal kutil kelamin, masihkah ditanggung BPJS?

Kutil kelamin disebabkan HPV dan menular lewat kontak seksual, termasuk hubungan vaginal, anal, maupun oral.

Ramai soal kutil kelamin, masihkah ditanggung BPJS?

BPJS Kesehatan (Kemenkes RI)

12 May 2026 11:03AM (Diperbarui: 12 May 2026 11:11AM)

JAKARTA: Perbincangan soal kutil kelamin ramai di media sosial X, dipicu pertanyaan apakah pengobatannya masih ditanggung BPJS Kesehatan. Sejumlah warganet mengaku bingung dengan informasi yang beredar

Topik ini mencuat setelah sejumlah pengguna mempertanyakan status layanan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sebagian mengira pengobatan kutil kelamin sudah tidak lagi ditanggung.

"Sejak kapan kutil kelamin nggak dicover BPJS? Ada info update-nya?" tulis salah satu pengguna akun di X.

"Kalau bersihin kutil kelamin bisa pakai BPJS nggak sih?" tanya netizen lain.

Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizky Anugerah memastikan, pengobatan kutil kelamin masih dijamin selama peserta terdaftar aktif.

"Penyakit kutil kelamin dapat dijamin dalam JKN bagi peserta yang status kepesertaannya aktif," kata Rizzky dikutip detikHealth, Senin (11/5).

Kemudian, BPJS Kesehatan akan menanggung biaya pengobatan asalkan sesuai dengan indikasi medis dari dokter dan ketentuan yang berlaku.

Ia menjelaskan, pembiayaan tetap mengacu pada indikasi medis dan prosedur layanan berjenjang yang berlaku dalam sistem BPJS Kesehatan.

Peserta harus terlebih dahulu memeriksakan diri ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas, klinik, atau dokter keluarga. Jika diperlukan penanganan lanjutan, pasien akan dirujuk ke rumah sakit.

"Diagnosis, terapi, maupun tindakan pengobatan menjadi kewenangan dokter berdasarkan hasil pemeriksaan dan indikasi medis peserta," jelasnya.

KUTIL KELAMIN: PENYEBAB, PENULARAN, DAN RISIKONYA

Kutil kelamin atau kondiloma akuminata merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe 6 dan 11. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus ini menyebar melalui kontak kulit saat aktivitas seksual, termasuk hubungan vaginal, anal, maupun oral.

Gejalanya ditandai dengan munculnya benjolan kecil berwarna daging atau keabu-abuan di area genital atau sekitar anus. Dalam beberapa kasus, kutil dapat tumbuh berkelompok menyerupai kembang kol.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sebagian infeksi HPV bisa hilang sendiri, namun kutil kelamin tetap dapat menular selama virus masih aktif di kulit

Meski umumnya tidak berbahaya, kutil kelamin dapat menimbulkan ketidaknyamanan, gatal, hingga perdarahan. Pada kondisi tertentu, infeksi HPV juga berkaitan dengan risiko kanker, terutama jika disebabkan oleh tipe berisiko tinggi.

Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi. Karena itu, penggunaan kondom dapat menurunkan risiko, meski tidak sepenuhnya mencegah penularan.

Penanganan kutil kelamin dilakukan dengan berbagai metode medis, mulai dari obat topikal, krioterapi (pembekuan), hingga tindakan bedah ringan, tergantung kondisi pasien.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pengobatan sembarangan dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika menemukan gejala serupa.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan