Bos KAI: Utang jumbo kereta cepat jadi bom waktu, tembus Rp116 triliun, apa solusinya?
Jumlah penumpang Whoosh saat ini baru mencapai sekitar 30 persen dari target optimistis sebesar 76.000 ribu penumpang.
JAKARTA: Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin, mengakui beban utang proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) berpotensi menjadi “bom waktu” bagi perseroan.
Pernyataan itu disampaikannya menanggapi kritik beberapa anggota Komisi VI DPR RI terkait besarnya utang yang dicatat PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Menurutnya, kondisi tersebut memang menimbulkan kekhawatiran serius.
“Kami dalami juga masalah KCIC seperti yang disampaikan. Memang ini bom waktu buat (KAI),” ujarnya dikutip Tirto, pekan lalu.
Berdasarkan catatan, total utang proyek raksasa ini telah menembus Rp116 triliun atau sekitar 7,2 miliar dolar AS, termasuk cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar AS. Beban itu membuat KAI bersama konsorsium BUMN yang terlibat kewalahan menutup kerugian.
Bobby menegaskan, pihaknya tengah menyiapkan langkah pembahasan bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anggara Nusantara (BPI Danantara) untuk mencari solusi penyelamatan keuangan.
Danantara sendiri berencana menyiapkan strategi restrukturisasi guna menjaga fundamental BUMN yang terlibat dalam proyek Whoosh.
BEBAN KE KEUANGAN KAI
Dalam laporan keuangan per 30 Juni 2025 (unaudited), anak usaha KAI, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), mencatat kerugian Rp4,195 triliun pada 2024. Tekanan berlanjut di semester I 2025 dengan kerugian Rp1,625 triliun.
PSBI merupakan pemegang saham mayoritas KCIC, sehingga otomatis menanggung langsung beban utang. Komposisi kepemilikan PSBI adalah KAI sebesar 58,53 persen, PT Wijaya Karya (33,36 persen), PT Jasa Marga (7,08 persen), dan PTPN VIII (1,03 persen). Dari sisi Tiongkok, konsorsium China Railway menguasai 40 persen saham KCIC.
Dengan porsi saham terbesar, KAI harus menanggung kerugian paling besar, baik untuk biaya operasional Whoosh maupun pengembalian utang.
Jika tren utang terus meningkat, dikhawatirkan akan menggerus laba usaha KAI di sektor lain. Apalagi performa Whoosh dalam mengangkut penumpang masih jauh dari target.
Studi kelayakan optimistis memproyeksikan 76.000 penumpang per hari, sementara skenario pesimistis menargetkan 50.000 penumpang.
Namun kenyataannya, jumlah penumpang saat ini baru mencapai 40–50 persen dari target pesimistis, atau sekitar 30 persen dari target optimistis.
OPSI SOLUSI
Wakil Ketua Komisi VI DPR, Adisatrya Suryo Sulisto, mengatakan salah satu opsi adalah mengalihkan kepemilikan Whoosh menjadi aset negara. Menurutnya, hal ini dapat meringankan beban KAI, meski tetap menjadi tanggungan negara.
“Kalau dipegang KAI jadi beban, diambil negara juga beban. Namun kita harus lihat risiko operasional yang berdampak ke KAI. Kalau beban terus dipegang KAI, enggak ada uang, akhirnya berdampak pada kualitas pelayanan untuk pelanggan,” tutur Adisatrya, dikutip Kompas.
Opsi lain adalah melalui penerbitan obligasi atau crowd funding. Skema ini dianggap lebih relevan karena tidak mengubah struktur kepemilikan saham, sekaligus bisa dialokasikan ke proyek KAI lain yang lebih menguntungkan secara komersial seperti angkutan barang dan penumpang kelas eksekutif.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.