Skip to main content
Iklan

Indonesia

BNPT: Meskipun zero attacks, taktik terorisme berubah dan radikalisme meningkat

Meskipun tidak ada serangan teror sejak tahun 2023, masyarakat tidak boleh lengah karena konsolidasi sel-sel teror dan proses radikalisasi meningkat. 

BNPT: Meskipun zero attacks, taktik terorisme berubah dan radikalisme meningkat
Ilustrasi rumah hancur akibat teror bom. (Foto: iStock/Riza Azhari)
28 Jun 2024 05:01PM (Diperbarui: 28 Jun 2024 05:04PM)

Taktik terorisme mengalami perubahan belakangan ini, dari pendekatan langsung menjadi soft approach, di tengah meningkatnya radikalisme dan intoleransi.

Hal ini diungkapkan oleh kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Mohammed Rycko Amelza Dahniel dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/6). 

Rycko mengungkapkan telah terjadi perubahan paradigma dalam cara kelompok-kelompok ini beroperasi.

"Telah terjadi perubahan tren pola serangan terorisme di Indonesia dari hard menuju soft approach," kata Ryco, dikutip dari Antara. 

Dia mencatat bahwa tidak ada serangan teroris atau zero attacks di Indonesia sepanjang tahun lalu hingga Juni 2024. 

Meskipun demikin, ia memperingatkan bahwa kondisi tersebut hanya fenomena di atas permukaan saja sebab yang terjadi di bawah permukaan justru terjadi peningkatan konsolidasi sel-sel teror dan proses radikalisasi.

Oleh sebab itu, masyarakat tidak boleh lengah.

Di antaranya, Rycko menyoroti tiga indikator yang menurutnya menunjukkan peningkatan aktivitas sel teroris serta radikalisasi di kalangan masyarakat Indonesia.

Kepala BNPT itu memperingatkan bahwa ada peningkatan yang nyata dalam penangkapan teroris dan penyitaan barang bukti dibandingkan tahun sebelumnya.

"Penyitaan barang bukti senjata api, senjata tajam, jumlahnya jauh lebih besar," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa ada juga peningkatan dalam kegiatan penggalangan dana untuk sel-sel teroris melalui aksi donasi palsu, termasuk dengan mengelabui calon donatur bahwa bantuan tersebut akan disalurkan untuk korban bencana alam.

"Terjadi peningkatan fundraising, pengumpulan dana-dana dengan minta sumbangan dititipkan di masjid, di mushala, bahkan ditaruh di simpangan lampu merah pun jadi uang. Ada gambar gunung meletus, gambar musibah terjadi kejadian, ada orang cacat di foto ditempel di kotak, jadi uang," tuturnya, 

Ia menambahkan bahwa Densus 88 Polri bersama kementerian/lembaga terkait telah menertibkan ribuan kotak-kotak sumbangan palsu tersebut. 

Terakhir, dia mengatakan bahwa BNPT telah melihat peningkatan radikalisasi di kalangan masyarakat Indonesia yang dilakukan melalui pendekatan yang lebih halus dibandingkan dengan taktik yang lebih terbuka.

Perubahan pola ini, kata Rycko, disebabkan oleh pemahaman para dalang teror bahwa masyarakat umum cenderung menolak kekerasan yang terbuka.

Penelitian yang dilakukan oleh BNPT sejak tahun 2016 menemukan bahwa remaja, anak-anak, dan perempuan adalah target utama upaya radikalisasi.

"(Ini) menjadikan mereka sebagai kelompok yang rentan menjadi target daripada sasaran radikalisasi," kata Rycko, dikutip oleh CNN Indonesia.

Menanggapi pertanyaan dari CNA, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Nahar menyatakan bahwa keluarga dan komunitas harus menjadi garis pertahanan pertama untuk mencegah anak-anak terlibat dalam jaringan terorisme.

Ketika ditanya tentang anak-anak yang menjadi pelaku setelah diradikalisasi oleh anggota keluarga mereka, Nahar menyatakan, "Perlu dilakukan upaya-upaya mencakup edukasi tentang pendidikan, ideologi, dan nilai nasionalisme, konseling tentang bahaya terorisme, rehabilitasi sosial, dan pendampingan sosial."

Sejak tahun ini, BNPT telah meningkatkan upayanya untuk menekan peningkatan radikalisasi di kalangan masyarakat. 

Studi BNPT menemukan bahwa intoleransi juga meningkat, berasal dari kurangnya pemahaman tentang ideologi kekerasan.

"Jawaban satu dari hasil penelitian ini, lack of education, public awareness, pengetahuan mereka tentang ideologi kekerasan ini tidak ada," pungkas Rycko.

Liputan tambahan oleh Amanda Puspita Sari.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan