Antara pertumbuhan dan stabilitas harga, BI cari 'keseimbangan' ketika Rupiah melemah
FOTO FILE: Kompleks Bank Indonesia di Jakarta, Indonesia, 16 Desember 2015. (REUTERS/Darren Whiteside)
JAKARTA: Bank sentral Indonesia fokus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas harga, termasuk nilai tukar, kata pejabat senior BI pada Rabu (7/5), saat rupiah kembali melemah di tengah meningkatnya ketegangan antara India dan Pakistan.
Dalam situasi saat ini, BI akan mencoba menemukan "keseimbangan optimal" antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi, kata Juli Budi Winantya, direktur departemen ekonomi dan kebijakan moneter Bank Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi saat ini masih di bawah potensi, tetapi tujuan bank sentral adalah untuk mendorong pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas, katanya dalam sebuah seminar ekonomi ketika ditanya tentang prospek suku bunga kebijakan.
Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama Indonesia adalah 4,87 persen, yang paling lambat dalam lebih dari tiga tahun, tetapi secara kasar sejalan dengan ekspektasi pasar, data resmi menunjukkan pada hari Senin.
"Kita harus mendorong pertumbuhan ekonomi lebih jauh," kata Juli. "Kebijakan BI adalah mencoba menemukan keseimbangan optimal antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan."
Prospek pertumbuhan terbaru BI tahun 2025 untuk ekonomi terbesar di Asia Tenggara itu sedikit di bawah titik tengah kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen.
BI telah memangkas suku bunga dua kali sejak September untuk mencoba dan merangsang aktivitas ekonomi, tetapi telah menghentikan siklus pelonggarannya untuk fokus menjaga rupiah tetap stabil.
MEMPERTAHANKAN KEHADIRAN
Bank sentral mengatakan akan mempertahankan kehadirannya di pasar valuta asing untuk menopang kepercayaan, kepala manajemen moneter bank Erwin Gunawan Hutapea mengatakan kepada wartawan secara terpisah.
Nilai tukar rupiah menguat sejak menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada awal April, tetapi melemah 0,55 persen pada Rabu menjadi 16.535 per dolar.
Ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran geopolitik di India dan Pakistan serta menjelang kesimpulan tinjauan kebijakan moneter Federal Reserve AS.
Erwin mengatakan investor asing kembali mulai membeli aset Indonesia, termasuk selama lelang obligasi pemerintah minggu ini, yang akan mendukung rupiah.
Tetapi ia memperingatkan bahwa kebutuhan dolar AS domestik untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam beberapa bulan mendatang.
Untuk mendukung pertumbuhan, BI telah memfokuskan operasi pasar terbuka pada perluasan likuiditas, termasuk dengan secara bertahap mengurangi tingkat sertifikat BI (SRBI) yang beredar, kata Erwin.
"Kami ingin operasi BI berdampak ekspansif, mendukung pertumbuhan," katanya. "Sebagai bagian dari itu, secara bertahap kami telah mengurangi SRBI yang beredar ... sejauh ini sebesar 40 triliun rupiah sejak akhir 2024."
SRBI BI yang beredar per 21 April adalah 881,86 triliun rupiah, menurut situs web bank sentral.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.