9 gebrakan bos baru MBG Nanik S Deyang, apa saja?
Program Makan Bergizi Gratis bergeser fokus ke kualitas layanan, keamanan pangan, kelompok 3B, dan distribusi ke wilayah 3T.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyapa Nanik Deyang, Kepala Badan Gizi Nasional, dalam acara 'Membangun Generasi Masa Depan Indonesia Melalui Gizi' di Bogor, Jawa Barat, pada 3 Juni 2026. (Foto: Biro pers Sekretariat Negara)
JAKARTA: Badan Gizi Nasional (BGN) mengisyaratkan tidak lagi berfokus mengejar target 82 juta penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun ini, melainkan membenahi kualitas layanan dan distribusi program.
Arah baru tersebut menjadi bagian dari sembilan gebrakan yang mulai dijalankan Kepala BGN Nanik S Deyang setelah ditunjuk menggantikan Dadan Hindayana yang kini tersandung kasus korupsi.
Menurut Nanik, fokus utama BGN saat ini adalah memastikan makanan yang diterima masyarakat memenuhi standar gizi, sementara dapur-dapur MBG beroperasi sesuai standar keamanan pangan
“Sehingga bisa jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta, tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan yang bergizi,” katanya dikutip IDN Times.
Perubahan kedua yang langsung diterapkan adalah memperkuat penyaluran MBG kepada kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
BGN kini mewajibkan seluruh mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyalurkan program kepada kelompok tersebut karena dinilai memberikan dampak paling besar terhadap tumbuh kembang anak usia dini.
“Makanya kemarin kita kan sampai mengeluarkan ancaman, SPPG harus ada 3B, bumil, busui, balita. Kalau gak, kita suspend,” ujar Nanik.
Sebagai langkah ketiga, BGN memutuskan menghentikan sementara pembangunan dapur MBG baru setelah menemukan penumpukan fasilitas di wilayah aglomerasi.
Menurut Nanik, kondisi tersebut membuat operasional program menjadi kurang efisien karena sebagian besar dapur menggunakan skema sewa.
“Kalau banyak dapur kan tidak efisien karena kita sewa dapur toh? Nah ini untuk kita rem dulu dan ditata,” katanya.
Langkah keempat berupa evaluasi menyeluruh terhadap dapur-dapur yang telah beroperasi. Pemeriksaan akan mencakup aspek keamanan pangan, fasilitas, hingga kompetensi sumber daya manusia.
Dapur yang tidak memenuhi standar akan ditangguhkan sementara hingga proses perbaikan selesai dilakukan.
“Pembenahan dapur-dapur yang telah berdiri dan telah beroperasi agar sesuai dengan standar untuk menghasilkan makanan yang berkualitas, termasuk perbaikan dan pelatihan SDM,” tutur Nanik.
FOKUS BERGESER KE WILAYAH 3T
Gebrakan kelima adalah fokus distribusi MBG akan dialihkan dari wilayah aglomerasi dan sekolah-sekolah elite menuju daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut Nanik, langkah tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
“Jujur sekarang yang numpuk di aglomerasi, yang 3T belum kesentuh. Jadi Pak Presiden pesannya kami harus ke 3T dulu,” ujarnya.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, langkah keenam yang disiapkan adalah memetakan kebutuhan dapur ideal di setiap daerah berdasarkan jumlah siswa, kapasitas layanan, dan kondisi wilayah.
Ketujuh, BGN tidak akan selalu membangun dapur baru di wilayah sasaran. Di daerah dengan jumlah penerima yang terbatas, program dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia seperti kantin sekolah.
“Karena 3T ini cuma ada yang isinya 200 orang, 81 orang, 47 orang di wilayah-wilayah itu. Jadi tidak mungkin kita membangun dapur-dapur baru,” urai Nanik.
Dari sisi pendanaan, gebrakan kedelapan adalah membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak agar perluasan program tidak sepenuhnya bergantung pada APBN.
Sumber pendanaan yang dijajaki mencakup BUMN, sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), yayasan, hingga hibah internasional.
Terakhir kesembilan, BGN akan memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga lain guna mendukung pemetaan wilayah, kebutuhan layanan, hingga pengawasan pelaksanaan program.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.