Skip to main content
Iklan

Indonesia

Berlaku 1 April 2026, Pertalite dibatasi 50 liter per hari, Menteri Bahlil minta warga bijak

Pemerintah memastikan stok BBM, LPG, avtur dan gas tetap aman.

Berlaku 1 April 2026, Pertalite dibatasi 50 liter per hari, Menteri Bahlil minta warga bijak

Petugas pom bensin mengisikan BBM Pertalite ke sepeda motor. (Pertamina)

SEOUL: Mulai hari ini, pembelian BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar dibatasi hingga 50 liter per kendaraan melalui sistem aplikasi MyPertamina.

Kebijakan ini berlaku per 1 April 2026 dan menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam menjaga ketahanan energi di tengah konflik global antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Sebelumnya, pemerintah juga telah memastikan tidak akan ada kenaikan BBM. 

Pengaturan pembelian BBM subsidi tersebut dilakukan menggunakan sistem barcode di aplikasi MyPertamina.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat dalam menghadapi dinamika geopolitik global, termasuk melalui konsumsi energi yang bijak.

"Dalam pandangan kami sebagai mantan sopir angkot, wajar dan bijak itu kalau isi mobil 1 hari 50 liter itu tangki sudah penuh. Kita akan dorong ke sana, yang tak terlalu penting-penting kami mohon agar kita bisa lakukan dengan bijak," ujar Bahlil dalam konferensi pada Selasa (31/3) malam.

Bahlil menambahkan pembatasan tersebut tidak berlaku bagi kendaraan umum.

"50 liter tidak berlaku untuk angkutan umum truk, bus, pasti lebih dari itu standarnya," jelas Bahlil.

STOK BBM DIPASTIKAN AMAN

Pemerintah juga memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri tetap aman, termasuk cadangan gas, avtur, dan LPG yang berada di atas standar minimum nasional.

Untuk menjaga pasokan, pemerintah juga mencari sumber alternatif minyak mentah di luar kawasan Timur Tengah.

Selain itu, produksi dalam negeri turut menopang ketersediaan energi, termasuk dari Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang telah beroperasi.

Proyek tersebut mampu menghasilkan 5,6 juta kiloliter bensin dan 4,5 juta kiloliter solar.

"Ke depan impor paling banyak itu crude [minyak mentah]. RON 90, 95, 98 sebagian produksi dalam negeri, sebagian impor dari Asia Tenggara. Lalu, LPG sudah ambil dari beberapa negara non-Middle East, terutama dari Amerika. Jadi secara pasokan tidak ada masalah," jelas Bahlil.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan