Skip to main content
Iklan

Indonesia

Menkeu Purbaya pastikan BBM subsidi tidak naik hingga akhir tahun

Pemerintah menyiapkan bantalan fiskal agar BBM subsidi tetap aman, memproyeksikan defisit 2,92 persen PDB dan menyiapkan SAL Rp420 triliun jika tekanan harga minyak berlanjut.

Menkeu Purbaya pastikan BBM subsidi tidak naik hingga akhir tahun

Ilustrasi BBM Subsidi (iStock/Ketut Agus Suardika)

JAKARTA: Di tengah harga minyak yang menembus US$110 per barel, pemerintah memastikan satu hal: BBM subsidi tetap aman dan tidak akan naik tahun ini.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026, meski tekanan dari lonjakan harga minyak dunia terus meningkat.

Per hari ini, harga minyak Brent tercatat berada di atas US$110 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$113 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ultimatum terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.

Purbaya menyampaikan pemerintah telah menghitung secara rinci berbagai kemungkinan dampak dari konflik geopolitik terhadap perekonomian nasional.

“Kami siap tidak menaikkan harga BBM subsidi sampai akhir tahun dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia US$100/barel sudah dihitung. Kalau nonsubsidi bukan hitungan kami. [BBM] subsidi aman enggak usah takut, kami sudah hitung. Jadi masyarakat tahu, tidak usah ribut, tidak usah takut. Kita sudah hitung,” tegas Purbaya, dikutip Bloomberg Technoz dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4).

Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario untuk meredam dampak kenaikan harga minyak, termasuk simulasi pada level harga US$80, US$90, hingga US$100 per barel.

PEMERINTAH SIAPKAN BANTALAN FISKAL

Purbaya memastikan kondisi fiskal tetap terkendali meskipun tekanan harga minyak meningkat.

Ia menyebut defisit anggaran diproyeksikan berada di kisaran 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), masih di bawah batas aman 3 persen.

“Jadi langkah langkah yang disebutkan oleh Presiden [Prabowo] dan anggota kabinet Merah Putih di pengumuman sebelumnya itu sudah diperhitungkan asumsi harga minyak dunia rata-rata US$100 sepanjang 2026. Dan exercise tertentu anggaran bisa ditekan [defisit] masih di 2,92% terhadap PDB,” jelas Purbaya.

Selain itu, pemerintah juga memiliki cadangan melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang dapat digunakan sebagai bantalan jika harga minyak terus meningkat.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan