Batam dorong ekonomi digital lewat pusat data dan pelatihan TI, tapi kesenjangan SDM membayangi
CNA berbicara dengan para pemimpin dan pelaku usaha lokal di Batam mengenai bagaimana Nongsa Digital Park menjadi pendorong bagi kota itu untuk menjadi pusat ekonomi digital regional. Namun tantangan terkait talenta dan keberlanjutan masih membayangi.
Rekaman drone Kota Batam. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
BATAM: Jesica Aulia Pardede pindah dari Medan ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau, pada 2023 ketika ia melihat peluang yang berkembang di sektor digital.
Perempuan 24 tahun lulusan studi Ilmu Komputer di Universitas Sumatera Utara itu memulai kariernya sebagai mentor pengembangan web di Infinite Learning, sebuah akademi keterampilan digital di Nongsa Digital Park, sekitar 30 menit berkendara dari Terminal Feri Internasional Batam Centre.
Sejak itu, ia menyaksikan ekosistem digital di Distrik Nongsa semakin dikenal luas. Akademi tersebut menarik mahasiswa tidak hanya dari Batam tetapi juga dari kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Lombok, Aceh, dan Papua.
“Ada banyak peluang di sini, di Batam, khususnya di Nongsa Digital Park,” ujarnya kepada CNA. “Kami terekspos pada perusahaan-perusahaan global, dan jalur karier digital di sini memiliki potensi kuat untuk berkembang.”
Tekad Jesica untuk mengembangkan kariernya sejalan dengan upaya Batam yang ingin menjajaki sektor ekonomi digital dengan lebih luas, bertujuan memposisikan kota tersebut sebagai pusat data utama di Asia Tenggara.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor informasi dan komunikasi Batam tumbuh dari 2,4 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) pada 2010 menjadi 4,1 persen pada 2024.
Para ahli menilai pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh ekspansi pusat data, animasi, dan layanan digital.
“Percepatan ini terlihat dari meningkatnya investasi, pembentukan ekosistem digital (di Nongsa Digital Park), serta perluasan layanan publik berbasis digital,” ujar Rudi Panjaitan, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Batam, sebuah instansi pemerintah daerah.
Lebih dari 500 layanan publik di berbagai instansi pemerintah daerah Batam telah terdigitalisasi sebagai bagian dari inisiatif kota pintar, mencakup sektor bisnis, kesehatan, dan pendidikan, kata Rudi kepada CNA.
Para pemimpin daerah dan pelaku usaha mengatakan industri pusat data serta pendidikan digital - khususnya pelatihan keamanan siber dan kecerdasan buatan (AI) - adalah salah satu sektor dengan pertumbuhan paling menjanjikan yang dapat memposisikan Batam sebagai pusat ekonomi digital regional.
Sebagian besar pertumbuhan ini terkonsentrasi di Nongsa Digital Park, sebuah kawasan ekonomi khusus (KEK) yang telah menarik perusahaan multinasional dan institusi pendidikan.
Namun pelaku industri dan para ahli memperingatkan bahwa kekurangan sumber daya manusia (SDM) terampil serta tekanan lingkungan akibat menjamurnya pusat data dapat membatasi ambisi Batam jika tidak ditangani.
LONJAKAN PUSAT DATA
Dalam sebuah forum bisnis mengenai wilayah Batam, Bintan, Karimun pada November tahun lalu, Duta Besar Indonesia untuk Singapura ketika itu, Suryo Pratomo, mengatakan bahwa kawasan tersebut sedang mengalami “transformasi strategis yang signifikan”, beralih dari manufaktur tradisional menuju sektor bernilai tambah tinggi.
Ia menyoroti Nongsa Digital Park - salah satu dari lima KEK di Batam - yang menurutnya akan dengan cepat memposisikan Batam sebagai pusat data di Indonesia.
KEK lainnya adalah KEK Batam Aero Technic, KEK Tanjung Sauh, KEK Kesehatan Sekupang, dan KEK Pariwisata Nongsa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pandangan serupa dalam forum tersebut. Dia menyebut wilayah Batam, Bintan, Karimun sebagai tempat bagi infrastruktur digital dan Batam sebagai jembatan digital yang menghubungkan Indonesia dengan Singapura, sebuah visi yang pertama kali disoroti oleh Presiden Joko Widodo pada 2017 ketika masih menjabat.
Batam berjarak sekitar 50 menit hingga satu jam perjalanan feri dari Singapura.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan kepada CNA bahwa Batam menawarkan “ekosistem yang terdedikasi dan terintegrasi”, merujuk pada Nongsa Digital Park sebagai daya tarik utama bagi investor.
“Transformasi Batam bukanlah perubahan yang terjadi seketika, melainkan proses jangka menengah hingga panjang,” ujarnya.
“Kehadiran dan perkembangan kawasan seperti Nongsa Digital Park menjadi indikator awal yang positif karena menunjukkan minat investasi, kemitraan lintas batas, serta pertumbuhan aktivitas di sektor ini.”
Sejarah Nongsa Digital Park
Sejak 2005, perusahaan media hiburan terintegrasi dan layanan kreatif Infinite Studios telah beroperasi di kawasan Nongsa sebelum lokasi tersebut diresmikan sebagai Nongsa Digital Park.
Beberapa bagian dari film-film blockbuster diproduksi di studio tersebut, dengan mayoritas tenaga kerjanya adalah ribuan pekerja kreatif Indonesia.
Kawasan ini kemudian diluncurkan pada 2018, dan kini menjadi rumah bagi campuran perusahaan Indonesia serta pemain internasional, termasuk perusahaan Singapura dan raksasa teknologi global.
Kawasan ini telah menarik lebih dari 80 startup dan menjalin kemitraan dengan Apple, IBM, RMIT, serta Unreal Engine milik Epic Games untuk menghadirkan program pelatihan teknologi.
Menurut Singapore Economic Development Board (EDB), kawasan tersebut dirancang untuk mereplikasi model pengembangan Infinite Studios ke sektor-sektor lain dalam industri digital dalam skala yang jauh lebih besar.
Konglomerat Indonesia Citramas Group memulai pengembangan Nongsa Digital Park pada Maret 2018, dengan dukungan pemerintah Indonesia dan Singapura sebagai bagian dari kerja sama bilateral untuk mengembangkan Batam sebagai jembatan digital antara kedua negara.
Nongsa Digital Park resmi memperoleh status KEK dari pemerintah Indonesia pada 2021.
Pada tahun berikutnya, akuisisi lahan oleh operator pusat data terkemuka menandai dimulainya pengembangannya sebagai pusat data regional.
Kawasan ini menargetkan penciptaan 16.500 lapangan kerja pada 2040, kata Badan Pengusahaan (BP) Batam kepada CNA.
“Perjalanannya belakangan ini berkembang … dari sebelumnya hingga menjadi seperti sekarang, operasinya sangat sibuk,” ujar Khoo Peck Khoon, Chief Operating Officer Nongsa Digital Park.
Pemain utama pusat data di Nongsa antara lain BW Digital, DayOne, Gaw Capital, NeutraDC, dan Princeton Digital Group, dengan operator tidak hanya berasal dari Singapura tetapi juga Selandia Baru, Hong Kong, Amerika Serikat, dan Inggris, kata Khoo kepada CNA.
Pada 2025, investasi kumulatif pusat data di Nongsa Digital Park telah mencapai Rp11,38 triliun, menurut BP Batam.
Amsakar, yang juga memimpin Badan Pengusahaan (BP) Batam, mengatakan fasilitas di Nongsa Digital Park dapat berfungsi sebagai pusat data yang aman bagi kementerian dan instansi pemerintah Indonesia.
Hal ini diamini oleh operator pusat data BW Digital, yang menyebut kedaulatan data sebagai pendorong utama pertumbuhan.
“Ketika perusahaan Indonesia dan instansi pemerintah mencari infrastruktur yang mendukung kebutuhan penyimpanan data lokal, Batam menjadi semakin relevan secara strategis lokasi pusat data di dalam negeri,” ujar Florent Blot, Chief Business Officer BW Digital.
Ia menambahkan bahwa lokasi Batam yang relatif minim risiko gempa bumi dan banjir menjadikannya alternatif yang tangguh dibandingkan kota seperti Jakarta, yang saat ini menampung sekitar 99 pusat data, terbanyak di Indonesia.
Berkantor pusat di Singapura, BW Digital memandang Batam sebagai pelengkap sistem infrastruktur digital Singapura yang sudah mapan.
Karena itu, perusahaan tersebut membangun fasilitas pusat data di Batam yang diperkirakan mulai beroperasi tahun ini.
“Dengan latensi kurang dari dua milidetik, lokasi ini memungkinkan kami beroperasi hampir sebagai perpanjangan dari Singapura,” kata Blot kepada CNA.
“Hal itu membuat pengelolaan operasional menjadi praktis, mendukung keterlibatan pelanggan, dan menjaga integrasi yang mulus.”
Latensi merujuk pada jeda waktu yang dibutuhkan data untuk berpindah dari satu titik ke titik lain dalam jaringan. Latensi rendah memungkinkan transfer data lebih cepat, yang menjadi kebutuhan utama bagi banyak bisnis.
Konektivitas juga menjadi faktor lain, kata Blot, seraya menambahkan bahwa akses Batam ke berbagai sistem kabel bawah laut memberikan jangkauan internasional yang kuat serta keberagaman operator jaringan.
Selain konektivitas digital, para operator menyebut infrastruktur fisik Batam juga telah berkembang signifikan.
“Peningkatan berkelanjutan pada utilitas, jaringan jalan, keamanan, dan layanan kawasan telah membuat lingkungan ini semakin cocok untuk proyek infrastruktur digital berskala besar,” ujar Blot kepada CNA.
Nongsa Digital Park saat ini menampung sembilan pusat data, termasuk tiga lokasi yang telah selesai dibangun dan berada pada tahap awal operasional, kata BP Batam kepada CNA.
Fasilitas BW Digital saat ini masih dalam tahap pembangunan. Sementara itu, tiga pusat data tengah dipersiapkan untuk pengembangan dan dua lainnya “direncanakan mulai beroperasi”.
Selain itu, terdapat rencana penambahan empat fasilitas lagi, tambah BP Batam.
TANTANGAN LINGKUNGAN
Dengan Batam memposisikan diri sebagai pusat data regional, Siwage Dharma Negara, koordinator Program Studi Indonesia di ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura, mengatakan kepada CNA bahwa kebutuhan dan penggunaan air menjadi perhatian.
Pusat data membutuhkan air terutama untuk mendinginkan panas yang dihasilkan server. Sementara itu, pasokan air Batam bergantung pada waduk air hujan dan kerap mengalami kekurangan di sejumlah wilayah, termasuk laporan pasokan yang tidak stabil di beberapa permukiman.
Media lokal Batampos melaporkan gangguan di kawasan seperti Taman Baloi Mas, Tanjungsengkuang, dan Batuaji pada September 2024, dengan warga menggelar protes atas aliran air yang tidak lancar dan infrastruktur pipa yang uzur.
Di beberapa wilayah, air dilaporkan hanya mengalir selama beberapa jam pada dini hari.
Sejak 2015, Batampos menuliskan, kapasitas yang tersedia hanya meningkat tipis, dari sekitar 3.500 menjadi 3.850 liter per detik meskipun permintaan keseluruhan terus meningkat.
Aktivis lingkungan Gari Dafit Semet, yang mengelola usaha ekowisata mangrove di Kampung Bakau Serip, Nongsa, mengatakan komunitasnya belum terdampak langsung oleh kekurangan air, karena warga di sana masih mengandalkan air sumur yang “jernih dan layak konsumsi".
Namun, pelestarian mangrove dan tutupan hutan sangat penting untuk menjaga ketahanan air di pulau ini, ujarnya, karena ekosistem tersebut membantu mengisi ulang cadangan air tanah dan mencegah intrusi air laut ke sumber air tawar.
Siwage menambahkan bahwa para pembuat kebijakan perlu berinvestasi dalam pengelolaan sumber daya air terpadu, memperluas kapasitas waduk, dan meningkatkan jaringan distribusi.
“Mereka juga perlu menyediakan kerangka regulasi dan standar lingkungan yang jelas untuk memastikan pertumbuhan pusat data tidak melampaui keterbatasan pasokan air,” ujarnya.
Selain sumber daya air, ketersediaan lahan juga dapat menjadi faktor pembatas lainnya, kata Khoo Peck Khoon, Chief Operating Officer Nongsa Digital Park. Menurut situs resminya, kawasan tersebut telah membentang sekitar 188 hektare, setara dengan 264 lapangan sepak bola.
“Kami ingin tumbuh, tetapi kami dibatasi oleh jumlah lahan yang kami miliki … kami membutuhkan infrastruktur yang sejalan dengan pertumbuhan tersebut.”
Pertimbangan lingkungan juga menjadi tantangan.
“Tantangannya adalah bagaimana melindungi lingkungan. Kami ingin ramah lingkungan dan memastikan lingkungan tidak rusak, terutama karena pusat data kami berada dekat kawasan hutan yang ingin kami lindungi semaksimal mungkin,” ujarnya kepada CNA.
Gari, aktivis lingkungan yang tinggal di sebuah kampung dekat Nongsa, mengatakan kepada CNA bahwa ia mengamati semakin banyak pembalakan lahan hutan seiring perkembangan kawasan tersebut.
“Kami tidak menolak pembangunan, tetapi pemerintah daerah harus secara cermat menyeimbangkan ekspansi industri dengan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya kepada CNA.
KEKURANGAN SDM TERAMPIL JADI TANTANGAN
Selain keterbatasan lahan dan lingkungan, pelaku usaha dan pemimpin daerah menyebut kekurangan sumber daya manusia (SDM) terampil masih menjadi tantangan lama bagi sektor digital Batam yang berkembang.
“Ketersediaan dan kesiapan sumber daya manusia dengan kompetensi digital dan teknologi maju masih menjadi salah satu tantangan yang memerlukan perhatian lebih besar,” kata Amsakar kepada CNA.
Menurutnya, para pengamat dan investor umumnya menyoroti kesenjangan antara kebutuhan industri dan kualifikasi tenaga kerja lokal.
Menurut BP Batam, lulusan sekolah menengah atas (SMA) merupakan kelompok terbesar dari pengangguran di kota industri tersebut.
Pada 2024, sebanyak 26.162 lulusan SMA tercatat menganggur, atau lebih dari separuh total pengangguran di Batam.
Para ahli menyatakan bahwa hal ini menunjukkan banyak lulusan sekolah belum memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan pemberi kerja lokal.
Siwage mengatakan kepada CNA bahwa kondisi ini membuat kawasan industri kerap harus mencari tenaga kerja terampil dari luar Batam untuk memenuhi kebutuhan industri.
Khoo dari Nongsa Digital Park mengatakan bahwa meskipun tenaga kerja semi-terampil tersedia, kekurangan personel senior masih terjadi - kesenjangan yang coba diatasi melalui lembaga pendidikan digitalnya, yang bertujuan melatih warga lokal di bidang seperti keamanan siber dan kecerdasan buatan (AI).
“Seiring teknologi terus berkembang dan berubah dengan cepat, keterampilan juga perlu berkembang dari waktu ke waktu … ini menjadi tantangan bagi kami,” ujarnya kepada CNA.
Amsakar menambahkan bahwa persoalannya bukan hanya soal jumlah, tetapi juga relevansi keterampilan, sertifikasi, dan pengalaman kerja yang dibutuhkan industri global.
Senada dengan itu, Ari Nugrahanto - Direktur Program Infinite Learning - mengatakan bahwa perusahaan yang masuk ke KEK “bukan hanya perusahaan lokal, tetapi perusahaan global dan multinasional”.
Untuk mendukung mereka, Batam membutuhkan talenta dengan “keterampilan berstandar global”, kata Ari, seraya menyoroti kesenjangan juga pada keterampilan lunak seperti kemampuan bahasa dan kepercayaan diri di tempat kerja.
Meski demikian, Ari bersama pelaku usaha dan pemimpin daerah yang diwawancarai CNA tetap optimistis kesenjangan tersebut dapat dipersempit melalui pelatihan terarah dan program pendidikan teknologi yang terintegrasi dalam ekosistem digital Batam yang terus berkembang.
Infinite Learning, yang menawarkan kursus vokasi dan bekerja sama dengan sekolah serta universitas di seluruh Indonesia, telah meluluskan sekitar 8.000 peserta sejak didirikan lebih dari lima tahun lalu.
Sebagian besar kini bekerja di perusahaan multinasional di berbagai wilayah Indonesia, klaim Ari.
Jesica, mentor pengembangan web di Infinite Learning, mengatakan bahwa meskipun peluang di sektor digital Batam terus bertumbuh, namun ekosistemnya masih “lebih matang” di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana nilai proyek lebih tinggi dan jalur karier lebih jelas.
“Bekerja di kota besar atau di perusahaan berskala nasional memberi nilai tambah pada portofolio Anda dan membuka peluang jangka panjang,” ujarnya.
“Di Batam, peluang di sektor digital memang ada, tetapi kurang beragam. Karena itu, tawaran dari luar negeri atau kota-kota besar sering dipandang sebagai langkah strategis.”
Media lokal Jakarta Post melaporkan pada Juli 2025 bahwa tingkat upah di Batam lebih rendah dibandingkan wilayah tetangga.
Meski data upah spesifik sektor ekonomi digital masih terbatas, upah minimum bulanan di Batam untuk 2026 sekitar Rp5,36 juta, dibandingkan sekitar RM1.700 (Rp7,3 juta) di Johor, termasuk bagi pekerja asing.
Di Jakarta, Gubernur Pramono Anung pada Desember tahun lalu mengumumkan bahwa upah minimum provinsi (UMP) 2026 ditetapkan sebesar Rp5,73 juta.
“Peran kami bukan hanya mendidik, tetapi juga menjembatani kesenjangan talenta, membantu siswa dari akademi kami, universitas, dan sekolah vokasi agar siap kerja,” ujarnya.
Di tingkat pemerintah, BP Batam pada Desember tahun lalu meluncurkan platform digital Manajemen Talenta Batam (MANTAB), yang dirancang untuk menghubungkan pencari kerja dengan pelaku industri melalui pencocokan kompetensi berbasis data.
BP Batam menyebut MANTAB sebagai platform digital pertama di Indonesia yang mengintegrasikan kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan kementerian ketenagakerjaan.
Sejumlah perusahaan besar, termasuk PT Volarex Batam, telah menggunakan platform tersebut dengan merekrut lebih dari 20 karyawan, menurut laporan media lokal.
Beragam inisiatif tersebut, kata Amsakar, membuat kekurangan SDM tak lagi dipandang hanya sebagai kendala, tetapi sebagai “tantangan strategis dan peluang” untuk memperkuat ekosistem talenta yang kompetitif dan berkelanjutan guna menopang ambisi Batam di sektor digital dan teknologi tinggi.
Sebagai contoh, pelajar dari berbagai wilayah Indonesia datang ke Batam untuk mengikuti program yang dijalankan lembaga pendidikan digital di sana.
Di antara mereka adalah Adithya Firmansyah Putra, 22, dan Nuraiza Hafiza Karim, 25, masing-masing berasal dari Jakarta dan Solo. Mereka baru saja lulus dari program 10 bulan di Apple Developer Academy, yang didirikan di Nongsa Digital Park bekerja sama dengan Infinite Learning.
Program tersebut mencakup dasar-dasar pemrograman, serta desain, pemasaran, dan manajemen proyek.
“Karena Batam adalah kota industri, ada banyak peluang di sini. Lokasinya juga strategis, yang memungkinkan lebih banyak jejaring dengan profesional industri, sesuatu yang tidak saya miliki di kampung halaman saya (Solo),” kata Nuraiza kepada CNA.
Dengan keterampilan yang diperoleh di akademi tersebut, Nuraiza dan Adithya menjadi bagian dari tim beranggotakan lima orang yang mengembangkan aplikasi bernama Wikan, yang menyediakan terjemahan Bahasa Indonesia ke Bahasa Jawa dan tersedia di Apple App Store.
Aplikasi ini bertujuan melestarikan nilai budaya bahasa daerah terbesar di Indonesia tersebut.
Kedua mahasiswa tersebut mengatakan kepada CNA bahwa program di Apple Developer Academy memberikan dampak positif bagi pengembangan profesional dan pribadi mereka, terutama dengan memperkenalkan ekspektasi industri serta jalur karier yang tidak mereka peroleh di bangku universitas.
TALENTA, KOLABORASI, DAN POSISI REGIONAL BATAM
Meski berbagai inisiatif pendidikan mulai mempersempit kesenjangan keterampilan, pelaku industri menyebut keberhasilan jangka panjang Batam akan bergantung pada koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan.
Ke depan, Ari dari Infinite Learning mengatakan peningkatan akses terhadap pendidikan digital - melalui langkah-langkah seperti subsidi, beasiswa, atau penyediaan laptop gratis - dapat membantu lebih banyak siswa memperoleh manfaat pelatihan.
Pemerintah Batam juga berupaya menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri melalui kolaborasi dengan institusi seperti Politeknik Negeri Batam dan Universitas Batam, kata Amsakar kepada CNA.
Bagi operator pusat data seperti BW Digital, kerangka kebijakan jangka panjang yang konsisten juga memegang peranan penting.
“Dukungan berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, dan regional terhadap proyek infrastruktur digital membantu operator merencanakan dengan kepastian lebih besar dan mempercepat integrasi regional,” ujar Blot dari BW Digital.
Sejumlah pengamat menyuarakan kekhawatiran bahwa KEK Johor-Singapura yang akan datang dapat bersaing dengan Batam dalam menarik limpahan investasi dari Singapura, khususnya di sektor elektronik, logistik, dan infrastruktur data.
Namun, Siwage dari ISEAS-Yusof Ishak Institute mengatakan hubungan tersebut tidak harus bersifat menang atau kalah.
Meski Johor merupakan pesaing kuat, Batam terutama bersaing dalam faktor biaya, ketersediaan lahan, dan akses ke pasar domestik Indonesia.
Menurutnya, Johor, Singapura, dan Kepulauan Riau dapat membentuk koridor data regional yang saling terhubung alih-alih menjadi pusat yang saling bersaing.
Hal ini sejalan dengan visi lama Segitiga Pertumbuhan Sijori, yang diluncurkan pada 1989 untuk mengintegrasikan perdagangan dan investasi di Batam, Bintan, dan Karimun di Kepulauan Riau, negara bagian Johor di Malaysia, serta Singapura.
Blot mengatakan kampus BW Digital di Batam merupakan bagian dari rencana yang lebih luas untuk menghubungkan pusat data di Singapura, Malaysia, dan Indonesia, sistem kabel bawah laut, serta infrastruktur jaringan darat ke dalam satu platform regional terpadu.
“Pendekatan ini melampaui fasilitas yang berdiri sendiri dan berfokus pada penciptaan pusat digital yang saling terhubung, sehingga data, beban kerja, dan layanan dapat bergerak tanpa hambatan antara Singapura, Batam, dan kawasan yang lebih luas,” ujarnya.
Amsakar juga menyampaikan pandangan serupa, dengan mengatakan bahwa model jejaring “sangat mungkin” diterapkan, di mana fungsi berbeda ditempatkan di lokasi berbeda sesuai kebutuhan bisnis seperti akses pasar, pertimbangan operasional, efisiensi, dan kebutuhan utilitas.
“Keunggulan Singapura terletak pada perannya sebagai pusat kantor pusat, pusat keuangan, dan penyedia layanan global; Johor menawarkan ekspansi kapasitas; tetapi Batam juga memiliki keunggulan tersendiri - status kawasan perdagangan bebas, ekosistem industri yang mapan, kapabilitas logistik, serta kedekatan operasional dengan Singapura,” kata Amsakar kepada CNA.
“Tujuan kami adalah agar Batam memainkan peran yang kuat dan memberi nilai tambah, bukan sekadar sebagai lokasi alternatif, melainkan sebagai bagian dari koridor digital dan industri regional yang terintegrasi dan kompetitif.”
Bagi Jesica, mentor pengembangan web di Infinite Learning Batam, tujuannya adalah tumbuh bersama industri, bukan sekadar beradaptasi dengan perubahan, tetapi turut berkontribusi aktif di dalamnya.
“Saya ingin menjadi bagian dari ekosistem yang mendorong kolaborasi, memperkuat pengembangan talenta lokal, dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan digital Batam,” ujarnya kepada CNA.
“Saya juga ingin melihat lebih banyak anak muda di Batam tidak hanya pengguna teknologi tapi juga menjadi kreator, inovator, serta pemecah masalah di industri digital.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.