Skip to main content
Iklan

Indonesia

Banjir terparah satu dekade, Bali deklarasi tanggap darurat

Sistem saluran air dan aliran sungai dinilai terganggu akibat pembangunan yang tidak memperhatikan tata kelola lingkungan.

Banjir terparah satu dekade, Bali deklarasi tanggap darurat
Situasi banjir di kawasan Pura Demak, Kota Denpasar, pada Rabu (10/09). (SAR DENPASAR)

DENPASAR: Hujan deras yang mengguyur sejak 9 September memicu banjir dahsyat di sejumlah wilayah di Provinsi Bali.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali menyebut peristiwa ini sebagai banjir terparah dalam sepuluh tahun terakhir.

Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan bencana ini menimbulkan dampak luas, termasuk korban jiwa, kerusakan rumah warga, dan aktivitas masyarakat yang lumpuh.

BNPB mencatat banjir melanda sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Jembrana, Gianyar, Tabanan, Klungkung, dan Kota Denpasar.

Menurut laporan yang dikutip dari BBC Indonesia, setidaknya sembilan orang meninggal dunia akibat banjir. Dua korban di Kabupaten Jembrana tewas karena tersengat listrik dan terseret arus. Lima korban ditemukan di wilayah Denpasar, sementara satu lainnya ditemukan di Gianyar.

Lebih dari 200 warga berhasil dievakuasi oleh tim SAR dari berbagai daerah yang terdampak parah.

Menyusul bencana tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama satu pekan mulai 10 September.

Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menegaskan keputusan ini diambil agar penanganan dapat dilakukan lebih terpadu, cepat, dan tepat sasaran.

“Status tanggap darurat ini penting agar seluruh upaya penanganan dapat berjalan dengan melibatkan seluruh elemen,” ujarnya.

Ia juga memastikan rumah warga yang mengalami kerusakan berat akan diganti oleh pemerintah. Sementara untuk rumah dengan kerusakan sedang dan ringan, bantuan perbaikan akan segera disalurkan.

APA PENYEBAB BANJIR?

Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menyebut gelombang ekuatorial Rossby sebagai pemicu cuaca ekstrem yang menyebabkan hujan deras berhari-hari di Bali.

“Aktifnya gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Bali mendukung pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan lebat,” kata Ketua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BBMKG Wilayah III, Wayan Musteana, kepada Antara.

I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, juga menyoroti persoalan infrastruktur. Ia menilai sistem saluran air dan aliran sungai terganggu akibat pembangunan yang tidak memperhatikan tata kelola lingkungan.

“Pembangunan ini masalah infrastruktur. Jaringan saluran air harus bagus, dan aliran sungai juga terganggu karena dampak pembangunan,” ujarnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan