Skip to main content
Iklan

Indonesia

Banjir bandang Bali, Menteri LKH: Alih fungsi lahan dan sampah jadi biang kerok

Gubernur Bali Wayan Koster menekankan konversi lahan hanya terjadi di Kuta Utara (Badung) dan sebagian Gianyar, bukan di Denpasar yang dilanda banjir hebat.

Banjir bandang Bali, Menteri LKH: Alih fungsi lahan dan sampah jadi biang kerok
Wisatawan berjalan di jalan yang tergenang banjir setelah banjir bandang di Legian, Badung, Bali, Indonesia, 10 September 2025. (Reuters/Dicky Bisinglasi)
12 Sep 2025 11:04AM (Diperbarui: 12 Sep 2025 11:05AM)

DENPASAR: Jumlah korban meninggal akibat banjir bandang Bali terus bertambah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi korban jiwa mencapai 16 orang per Kamis (11/9) malam.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan data ini diperoleh setelah satu dari dua korban hilang berhasil ditemukan pada Kamis sore.

“Satu masih dilaporkan hilang,” katanya di Jakarta, dilansir Antara.

Rincian korban jiwa adalah 10 orang meninggal di Denpasar, 2 di Jembrana, 3 di Gianyar, dan 1 di Badung.

Adapun tanggap darurat telah dideklarasikan selama seminggu ke depan mulai 10 September.

Abdul menambahkan kondisi di Bali perlahan mulai terkendali, sebagian besar banjir sudah surut.

"Kondisi di Bali sudah mulai normal dan terkendali," tegasnya.

Fokus tim gabungan saat ini adalah pencarian korban hilang, pembersihan material banjir, serta penyedotan air di sejumlah titik, termasuk basemen Pasar Badung.

SAMPAH DAN ALIH FUNGSI LAHAN JADI SOROTAN

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut indikasi awal penyebab banjir di Denpasar dipicu tersumbatnya drainase akibat curah hujan ekstrem selama dua hari berturut-turut.

Ia menegaskan bahwa sampah yang tidak terkelola dengan baik memperparah kondisi.

“Ternyata banjir yang hari ini datang disebabkan oleh timbunan sampah yang luar biasa yang membuat drainase tersumbat. Tentu musibah alam ini harus menjadi pembelajaran kita,” urainya, dikutip Bisnis, Jumat (12/9).

Upaya pengelolaan sampah tengah dilakukan oleh jajaran Pemerintah Provinsi Bali dan kabupaten/kota. Namun, penyelesaian sampah yang sudah tertumpuk lama dan timbulan sampah baru membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Selain sampah, Hanif menyoroti alih fungsi ruang hijau menjadi bangunan wisata seperti hotel, vila, dan kafe yang menganggu kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan

Ia menekankan pentingnya mempertahankan keberadaan keasrian daerah lereng dan sawah serta wilayah tampung air agar tidak dikonversi menjadi hotel, kafe atau jenis bangunan lain demi mengakomodasi wisatawan yang datang ke Pulau Dewata.

“Tidak boleh kita gegabah. Landscape yang ada jangan diganggu keberadaan hotel-hotel, cottage, rumah-rumah. Setiap landscape terganggu, alam akan mengkalibrasinya dengan seperti ini,” tegasnya.

Hanif meminta agar banjir Bali dijadikan pembelajaran bersama. Pemerintah daerah diminta serius menata sampah dan tata ruang agar bencana serupa tidak berulang.

"Kami akan dalami apa-apa yang bisa, kemudian dimitigasi untuk langkah ke depannya," pungkasnya.

Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster membantah bahwa banjir besar di Denpasar disebabkan masifnya alih fungsi lahan. Menurutnya, konversi lahan hanya terjadi di Kuta Utara (Badung) dan sebagian Gianyar, bukan di Denpasar.

“Enggak juga. Alih fungsi lahan kan di Badung, di Gianyar. Di Badung kan di daerah Kuta Utara, ini kan hulunya jauh. Bukan alih fungsi lahan, ini lintasan sungainya kan di Kuta, hilirnya kan di sini,” ujar Koster kepada CNN Indonesia.

Meski begitu, catatan Walhi Bali menunjukkan degradasi lahan di kawasan metropolitan Sabagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) mencapai 3–6 persen sepanjang 2018–2023, sehingga lahan pertanian semakin menyusut.

Seorang pria duduk di kios yang tergenang banjir setelah hujan lebat semalaman di Legian, Bali, Indonesia, 10 September 2025. (Reuters/Dicky Bisinglasi)

DATA DATA BANJIR

BMKG menyebut bencana ini dipicu curah hujan deras yang diperkuat fenomena gelombang ekuatorial Rossby lebih dari 24 jam sejak Selasa (9/10) pagi. Dampaknya, hujan berintensitas tinggi melanda berbagai wilayah Bali, memicu banjir bandang dan longsor.

Tim reaksi cepat BPBD Bali mencatat lebih dari 120 titik banjir disertai tanah longsor. Denpasar jadi wilayah terparah dengan 81 titik banjir, disusul Gianyar (14 titik), Badung (12 titik), Tabanan (8 titik), Karangasem dan Jembrana (4 titik), serta Klungkung (1 titik).

Selain itu, longsor terjadi di 18 lokasi yaitu 12 di Karangasem, 5 di Gianyar, dan 1 di Badung.

BNPB melaporkan 562 warga mengungsi ke posko darurat dan fasilitas umum seperti sekolah, balai desa, mushola, dan banjar. Untuk mendukung pemulihan, BNPB menyalurkan bantuan berupa 200 selimut, 200 matras, 300 paket sembako, 50 tenda keluarga, 2 tenda pengungsi, 1 perahu karet bermesin, serta 3 pompa air.

BNPB juga menjanjikan bantuan dana stimulan untuk perbaikan rumah warga yang rusak ringan, sedang, maupun berat. 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan