Skip to main content
Iklan

Indonesia

Bandara Kertajati masih sepi dan hanya layani satu penerbangan, AHY: 'In the middle of nowhere'

Sejauh ini hanya maskapai Singapura Scoot yang terbang ke BIJB. 

Bandara Kertajati masih sepi dan hanya layani satu penerbangan, AHY: 'In the middle of nowhere'
Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka. (Tangkapan Layar Website bijb.co.id)

BANDUNG: Meski disebut sebagai salah satu bandara termegah di Indonesia, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka hingga kini masih sepi penumpang. 

Bandara yang diresmikan beroperasi sejak Mei 2018 dan beroperasi penuh pada 30 Oktober 2023 itu belum mampu menarik lalu lintas penerbangan yang signifikan.

 

Bangunan bandara ini tergolong modern dengan luas area mencapai 1.800 hektar, terminal penumpang seluas 121.000 meter persegi, dan landasan pacu sepanjang 3.000 meter. 

Kertajati bahkan dirancang untuk melayani hingga 29 juta penumpang per tahun pada 2032. Namun, kenyataannya masih jauh dari target tersebut.

“Siapa yang pernah ke sana? Seperti apa Kertajati? Sepi? Tapi bagus kan? Besar, bagus, megah, tapi in the middle of nowhere, di Majalengka, kawasan Rebana (Cirebon, Patimban, Kertajati),” ucap Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dikutip dari Kompas.com, Selasa (21/10).

Saat ini Bandara Kertajati hanya melayani satu rute internasional, yakni penerbangan ke Singapura yang dioperasikan maskapai Scoot dua kali seminggu, setiap Selasa dan Sabtu.

Dalam satu hari, terdapat dua penerbangan (pergi dan pulang) dengan tingkat keterisian sekitar 70–80 persen atau sekitar 100 penumpang per penerbangan. Maskapai asal Singapura itu menggunakan pesawat berukuran kecil agar lebih efisien.

Sementara itu, penerbangan domestik belum tersedia sejak Juni 2025. Sebelumnya, Super Air Jet sempat melayani penerbangan domestik pada semester I-2025, namun menghentikan operasinya karena minimnya permintaan penumpang.

KONEKTIVITAS JADI MASALAH UTAMA

Salah satu faktor utama sepinya Bandara Kertajati adalah minimnya konektivitas transportasi menuju lokasi. Letaknya di Majalengka — sekitar 68 kilometer dari Bandung — membuat bandara ini jauh dari pusat permukiman besar.

“Bandaranya dibangun, tapi konektivitasnya terlambat sehingga nanggung. ‘Ah, kalau begitu mending di Jakarta sekalian,’ lalu ditinggalkan, sepi,” jelas AHY.

Selama beberapa tahun pertama, akses menuju Kertajati memang belum sepenuhnya terhubung dengan jaringan tol dan transportasi publik yang memadai. 

Akibatnya, masyarakat Jawa Barat, terutama dari Bandung, lebih memilih Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang atau Bandara Husein Sastranegara di Bandung yang lebih mudah dijangkau.

Bandara Husein dianggap lebih praktis karena berada di tengah kota, sementara perjalanan ke Kertajati bisa memakan waktu tambahan hingga dua jam.

APA SOLUSI?

Menanggapi kondisi tersebut, AHY menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan Kertajati terus sepi. Salah satu langkah yang disiapkan adalah menjadikan bandara ini sebagai pusat perawatan pesawat (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO) dan Aerospace Park.

“Kita coba hidupkan dengan menghadirkan kerja sama antara pengelola BIJB dengan GMF (Garuda Maintenance Facility),” ujar AHY.

Langkah ini diharapkan dapat menarik industri penerbangan dan menciptakan aktivitas ekonomi baru di sekitar kawasan Kertajati, agar bandara tidak hanya menjadi bangunan besar tanpa fungsi maksimal.

Sementara itu, Executive General Manager (EGM) BIJB Kertajati, Nuril Huda, menyampaikan bahwa pihaknya tengah berupaya menghidupkan kembali rute penerbangan umrah yang sempat aktif tiga tahun terakhir.

“Tahun ini kami berupaya agar ada penerbangan umrah dari Bandara Kertajati. Semua instansi sudah bersinergi untuk mewujudkan hal itu,” kata Nuril kepada Antara.

“Semua usaha akan kami lakukan supaya ada rute umrah dari Kertajati, baik untuk penerbangan wisata maupun reguler,” tambahnya.

Selain itu, pihak pengelola BIJB juga telah menjalin komunikasi dengan beberapa maskapai, seperti Super Air Jet, Garuda Indonesia, dan Citilink, untuk membuka kembali penerbangan reguler. Namun, kesepakatan tersebut masih terkendala oleh harga tiket yang relatif lebih tinggi dibandingkan Bandara Soekarno-Hatta.

 

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan